Banjir Medan Masih Kronis, Proyek BWSS-II Keruk 4 Sungai Dipertanyakan

* Satker PJPA BWSS-II: Normalisasi Sungai di Medan Terkendala Minim Anggaran
- Sabtu, 13 Oktober 2018 11:21 WIB
Medan (SIB)- Proyek keruk empat sungai sekitar Medan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera (BWSS)-II Medan dipertanyakan publik karena lokasi atau kawasan sekitar sungai tersebut saat ini ternyata masih tetap rawan banjir.

Ketua Gabungan Perusahaan Kontraktor Indonesia (Gabpkindo) Sumut Ir Mandalasah Turnip dan pemerhati lingkungan Ir Juliski Simorangkir dari DPRD Sumut secara terpisah menyebutkan, pihak BWSS-II tahun lalu menetapkan enam proyek untuk mengantisipasi banjir di Kota Medan sekitarnya, yaitu empat program peningkatan kapasitas sungai, dan dua pembangunan bendungan baru di kawasan hulu sungai.

"Proyek kendali banjir yang dilaksanakan BWSS-II seperti bendung raksasa Lau Simeme memang sedang tahap pekerjaan fisik, dan proyek bendung Namubatang sedang dalam perencanaan. Tapi proyek keruk empat sungai itu mana hasilnya? Kok arus dan volume banjir pada lintas sungai masih tetap tinggi dan malah merambah lokasi kota yang sebelumnya tak sampai digenangi banjir," katanya kepada SIB di kantornya, Jumat (12/10).

Proyek pengerukan sungai itu meliputi Sungai Deli mulai dari hulu Sungai Babura hingga Sungai Titikuning sepanjang 7,5 kilometer, Sungai Deli mulai titik temu arus dari Sungai Babura hingga Sungai Bekala sepanjang 16 kilometer, Sungai Batugingging mulai Kota Lubukpakam hingga Sungai Serdang di Desa Segitiga sepanjang 8,9 kilometer, dan Sungai Belawan mulai dari muara hingga titik temu arus di Sungai Brantas ke anak-anak sungai sekitarnya sepanjang 37,5 kilometer.

Kondisi ini, ujar Turnip yang juga Ketua Umum Gabungan Tenaga Ahli Konstruksi Indonesia (GATAKI) itu, telah mengakibatkan potensi banjir di Medan bisa lebih parah di saat hujan berintensitas tinggi pada Desember nanti.

"Pengalaman selama ini, puncak banjir terjadi pada Desember, tapi ini masih Oktober banjir sudah merambah lokasi bahkan sejumah daerah lain di luar Medan. Kondisinya akan lebih parah kalau pihak BWSS-II minim kordinasi dengan Pemko Medan atau Pemkab sekitarnya. Pihak BWSS-II harusnya proaktif berkordinasi teknis dengan para mitra kerja (stakeholder)-nya. Kalau tidak, lihat saja sekarang ini, Pemko Medan berulang-ulang mengerjakan perbaikan drainase kota tapi tak ada standar alir di mana titik nol arusnya, berapa standar kedalamannya, bagaimana daya resapannya, dan berapa daya tampung debitnya untuk mencapai saluran primer seperti kanal atau sungai yang menajdi tanggung jawab BWSS-II itu," papar Turnip sembari menunjukkan skema alur rawan banjir di kota Medan selama ini.

Hal senada juga dicetuskan Juliski Simorangkir, bahwa minimnya kordinasi pihak BWSS-II dengan Pemko Medan telah mengakibatkan beberapa program penataan sungai terkendala, misalnya  sungai di kawasan Kampung Aur, Kampung Hamdan, sungai di belakang kantor DPRD Kota Medan, sungai di belakang eks Deli Plaza (kini Podomoro), dan Sei Denai serta beberapa sungai lainnya di Kota Medan.

"Kordinasi teknis antara BWSS-II dengan Pemko Medan itu sangat penting dan vital, karena seja dulu Medan rawan bahkan langganan banjir. Penataan alur dan normalisasi sungai sebagai saluran primer sudah sejauh mana, sehingga bisa sinkron dengan penataan saluran sekunder dan tersier berupa objek-objek drainase yang menjadi tanggung jawab pemerintah kota (Pemko Medan)," ujar Juliski yang juga ketua Yayasan Komunikasi Indonesia (YKI) Sumut.

Sementara itu, Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jaringan dan Penataan Air (Ka Satker PJPA) BWSS-II Medan Ir Jinto Lumbanbatu mengakui proyek kendali banjir berupa pembangunan bendungan atau dam raksasa Lausimeme di hulu Sungaipercut atau Desa Sibiru-biru Kecamatan Delitua, saat ini memang masih tahap pekerjaan konstruksi. Sedangkan pembangunan bendungan Namubatang di kawasan hulu Sungai Deli wilayah Deliserdang saat ini dalam proses finalisasi desain-perencanaan.

"Kalau soal normalisasi sungai, kendala utamanya adalah anggaran yang belum turun dari pusat (APBN). Biaya pembebasan lahan untuk normalisasi sungai di Medan ini tidak sedikit, sementara mayoritas tepian atau badan sungainya sudah dipenuhi bangunan rumah, gedung, bahkan perkantoran," katanya kepada SIB ketika dikonfirmasi melalui selulernya. (A04/h)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

Wawalkot Medan Hadiri Pelantikan Rektor USU

Headlines

Camat Salahgunakan KKPD Rp. 1,2 Miliar Kemungninan akan Dituntut Pemko Medan

Headlines

Ekonomi Sumut Resilien, Tumbuh 4,55% pada Triwulan III-2025

Headlines

Berkunjung ke DKP, Pemko Tebingtinggi Laporkan Banyak Perlintasan KA Tak Berpalang

Headlines

Ini Sosok Olan Pasaribu, Kajari Gorontalo yang Baru

Headlines

Polsek Medan Kota Periksa Saksi Kunci Pengeroyokan dan Penikaman Arpandi