Banjir dan Longsor Landa Sumbar, 6 Tewas

* Sistem Peringatan Dini Bencana di Jatim Tidak Berfungsi
- Sabtu, 13 Oktober 2018 11:30 WIB
Padang (SIB)- Sebanyak enam orang tewas akibat banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat dalam dua hari terakhir. Banjir dan longsor disebabkan hujan lebat yang mengguyur beberapa hari terakhir.

"Hujan lebat terjadi sejak beberapa hari terakhir. Ini yang diperkirakan sebagai penyebab," kata Kepala Biro Humas Pemda Provinsi Sumatera Barat Jasman Rizal, Kamis malam (11/10).

Jasman menyebutkan tiga orang tewas akibat terseret banjir bandang di Nagari Tanjung Bonai, Kecamatan Lintau Buo, Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis malam. Kemudian tiga lainnya tewas akibat tertimbun longsor di Parik Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, pada malam sebelumnya, Rabu (10/10).

Selain korban tewas, empat warga Kabupaten Tanah Datar dinyatakan hilang terseret banjir.

Pencarian masih terus dilakukan.

Menurut Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Provinsi Sumatera Barat Rumainur, banjir dan tanah longsor melanda sejumlah daerah di Sumatera Barat. Petugas BPBD dan Basarnas sedang berusaha mengevakuasi warga yang terjebak banjir di berbagai wilayah di Sumbar.

Berdasarkan catatan BPBD Sumbar, ada enam daerah yang dilanda musibah, yakni Kota Sawahlunto, Kabupaten Lima Puluh Kota, Pasaman, Pesisir Selatan, Kabupaten Pasaman Barat, Tanah Datar, dan Padang Pariaman. 

Hingga kini Tim SAR gabungan masih melakukan pencarian korban.

Kepala Pelaksana BPBD Sumbar Rahman lewat keterangan tertulisnya, Jumat (12/10), melaporkan ada tujuh kabupaten yang terdampak. Wilayah tersebut yaitu Kabupaten Pesisir Selatan, Kepulauan Mentawai, Lima Puluh Kota, Agam, Pasaman, Tanah Datar, dan Pasaman Barat.

Di wilayah Pesisir Selatan, curah hujan tinggi menyebabkan munculnya genangan air setinggi 40-50 cm di Kecamatan Lengayang, Koto Rawang pada Kamis (11/10) sore. Banjir juga terjadi Aia Kulam Nagari Kambang dan Kecamatan Bayang di Lubuk Kumpai.

Di wilayah ini juga ada pohon tumbang di dua lokasi yaitu Perumnas Painan Timur dan Kecamatan IV Jurai. Selain itu terjadi bencana longsor di Batu Tembak menuju Kabupaten Batang Kapas.

Sementara di Kepulauan Mentawai, juga terjadi tanah longsor di Kecamatan Sipora Utara Desa Goso Oinan. Kejadian ini menyebabkan tertutupnya akses jalan dan terganggunya aktivitas masyarakat.

Sedangkan di Kabupaten Lima Puluh Kota terjadi banjir di Jorong Lompek Nagari Halaban Kecamatan Lareh Sago Halaban. Banjir menyebabkan tiga ekor kerbau hanyut dan 0,25 hektare sawah terendam. Jorong Kampung Dalam Nagari Limbanang Kecamatan Suliki juga banjir, dua unit rumah terendam. Di kabupaten Lima Puluh Kota juga terjadi longsor di Jalan Nagari Sungai Naniang, Kecamatan Bukik Barisan.

Selanjutnya di Kabupaten Agam, banjir merendam 10 unit rumah di Jorong Puduan, Nagari Bawan Kecamatan Ampek Nagari. Longsor juga terdapat di daerah Jorong Pasa Bawan hingga menyebabkan akses jalan tertutup.

Di Kabupaten Pasaman, banjir terjadi cukup parah. Di daerah ini banjir mencapai ketinggian 50-100 cm. Ada hampir 100 unit rumah terendam.

Di Kabupaten Tanah Datar, curah hujan tinggi menyebabkan jembatan terendam dan tak bisa dilalui kendaraan. Banjir ini juga merendam satu unit rumah dan kedai.

Sementara di Kabupaten Pasaman Barat, banjir dan longsor terjadi di 3 titik. Sebanyak 30 rumah terendam banjir.

Tidak Berfungsi 

Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur menemukan ada alat Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) di Jawa Timur yang tidak berfungsi karena baterainya hilang.

"Ada beberapa dan ada 73 titik. Ada (yang tidak berfungsi) karena ada yang baterinya diambil. Harus diperbaiki early warning yang ada, kita juga mengusulkan untuk melakukan penambahan," kata kepala BPBD Jatim Suban Wahyudiono, Jumat (12/10).

Suban mengatakan, pihaknya masih melakukan pendataan mengenai alat peringatan dini yang masih berfungsi. Kedepan, pihak BPBD Jatim akan mengajukan anggaran untuk penambahan alat tersebut, agar jika terjadi bencana sudah ada peringatan dini kepada masyarakat.

"Sulit mengontrol dan kita masih menginventarisir. Kalau melihat menyesuaikan anggarannya saja, idealnya desa rawan bencana ada 417. Ada yang satu desa satu alat, dan tidak sama. Kadang-kadang  kalau desanya luas juga kurang karena suaranya cuma beberapa ratus meter," tambahnya.

Sistem Peringatan Dini (Early Warning System) adalah serangkaian sistem yang berfungsi untuk memberitahukan akan terjadinya kejadian alam. Sistem peringatan dini ini akan memberitahukan terkait bencana yang akan terjadi atau kejadian alam lainnya.

Peringatan dini pada masyarakat atas bencana merupakan tindakan memberikan informasi dengan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat. Dalam keadaan kritis, secara umum peringatan dini yang merupakan penyampaian informasi tersebut diwujudkan dalam bentuk sirine, kentongan dan lain sebagainya. (detikcom/rmol/f/c)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

Diduga Pungli Kontrak Fiktif Rp2,8 Miliar, Kejari Tetapkan Eks Kadis Ketapang dan Pertanian Binjai Jadi Tersangka

Headlines

Temui Menko Infrastruktur, Bupati Karo Usulkan Proyek Strategis Jalan dan Pariwisata

Headlines

Temui Menko Infrastruktur, Bupati Karo Usulkan Proyek Strategis Jalan dan Pariwisata

Headlines

Paul Simanjuntak: Tidak Hanya Berangus Judi dan Narkoba, Kombes Jean Calvijn "Kubur" Cerita Rayap Besi

Headlines

DPRD Sumut Desak Langkah Luar Biasa Hentikan Tawuran Berdarah di Belawan

Headlines

Forkopimcam Teluk Nibung Rakor Jelang Ramadan, Soroti Togel dan Tawuran