Jatuhnya Lion Air JT 610

Keluarga Awak Disantuni Rp1,5 M, Penumpang Rp1,3 M

* Dibantu Australia, Data FDR Sudah Di-download
- Senin, 05 November 2018 10:02 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir112018/hariansib_Keluarga-Awak-Disantuni-Rp1-5-M--Penumpang-Rp1-3-M.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/Ant/Muhammad Iqbal
SIDAK LION AIR: Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi (kiri) didampingi Direktur Kelaikan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKKPU) Avirianto (ketiga kanan) dan Managing Director Lion Air Group Daniel Putut (kedua kiri) melakukan sidak kelaikan terbang pesa

Jakarta (SIB) -Manajemen Lion Air Group bakal memberikan santunan sebesar USD 100.000 atau setara Rp 1,5 miliar (kurs: Rp 15.00/dolar AS) kepada awak pesawat Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang, Jawa Barat. Santunan akan diberikan setelah Lion Air memvalidasi dokumen ahli waris.

"Kalau awak pesawat ada asuransi PA personal accident, nilainya USD 100 ribu," kata Managing Director Lion Air Group Daniel Putut Kuncoro, di RS Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Minggu (4/11).

Nantinya uang tersebut akan diberikan usai pihak Lion Air memvalidasi dokumen ahli waris.

"Kami harus validasi dengan data ahli waris yang berhak karena harus ahli waris yang berhak semua asuransi yang kita berikan. Detail dan teknis, setelah semuanya beres baru kita berikan," ujarnya.

Adapun jumlah kru pilot dan kopilot termasuk awak pesawat Lion Air penerbangan JT 610 rute Jakarta-Pangkal Pinang berjumlah 8 orang. Sementara jumlah penumpang 181 orang, terdiri dari 178 penumpang dewasa, 1 penumpang anak-anak, dan 2 bayi.

Selain itu, Lion Air juga tengah menyiapkan santunan sebesar total Rp 1,3 miliar kepada keluarga penumpang korban jatuhnya pesawat bernomor penerbangan JT 610 Jakarta-Pangkalpinang itu. Lion juga akan melakukan dokumen validasi ahli waris hingga lengkap.

"Terkait dengan santunan kami sebagai operator kami patuh kepada pemerintah Kemenhub melalui Permenteri 77/2011 tentang tanggungjawab pengangkut angkutan udara. Disampaikan di situ jika ada penumpang terlibat kecelakaan maka angkutan udara bisa memberikan asuransi sekitar Rp 1,250 miliar," jelas Daniel.

Ia mengatakan total uang santunan yang diberikan Lion Air Group sebesar Rp 1,3 miliar yang terdiri dari uang untuk pemakaman Rp 25 juta, Rp 50 juta untuk bagasi per individu dan Rp 1,250 miliar per individu. Dari 7 korban yang telah teridentifikasi Lion Air telah memberikan uang pemakaman Rp 25 juta, sementara uang santunan masih berproses validasi data ahli waris.

"Kemudian mekanisme kita berikan secara tunai, baik transfer atau cash. Setelah semua divalidasi dari ahli waris, itu butuh proses. Yang sudah berjalan adalah pelaksanaan pemberian uang saku dan biaya pemakaman. Yang sudah teridentifikasi sepenuhnya kita berikan dana cash Rp 25 juta untuk pemakaman," kata Daniel.

Ia mengatakan sebenarnya dalam peraturan Peraturan Menteri Perhubungan 77/2017 jumlah yang harus dibayarkan maskapai sebesar Rp 4 juta untuk mengganti bagasi penumpang. Namun Lion Air menambahkan menjadi Rp 50 juta per individu sebagai pengganti barang yang hilang.

"Jadi kami kan kadang-kadang penumpang tidak tahu atau keluarga tidak tahu isinya apa itu kan Kalau PM 77 2011 pasal 2 itu cuma Rp 4 juta jadi tertulis di situ kami kan harus patuh sama itu. Tapi kami lebih willing mungkin ada sesuatu yang lebih penting, sehingga kami menaikkan bukan cuma Rp4 juta tapi memberikan Rp 50 juta jadi nanti total yang diterima dari peraturan menteri itu Rp 1,3 miliar," ungkapnya.

Daniel mengatakan Lion Air akan menanggung biaya perjalanan keluarga korban dan pengiriman jenazah ke kampung halaman. Selain itu biaya akomodasi, penginapan keluarga penumpang juga ditanggung Lion Air hingga proses evakuasi selesai.

Sementara itu pihak Jasa Raharja telah memberikan santunan Rp 50 juta bagi 4 keluarga korban Lion Air yang telah teridentifikasi. Sedangkan 3 keluarga korban lainnya yang belum mendapatkan santunan karena belum dapat berkomunikasi dengan petugas, tetapi petugas tetap akan berupaya memberikan bantuan pada keluarga korban.

"Menyampaikan bahwa dari data yang telah teridentifikasi sudah kita bayarkan pada yang bersangkutan, kita sudah serahkan sesuai ketentuan menteri keuangan kepada para ahli waris Rp 50 juta. Kepada beberapa yang belum menerima karena memang beberapa ahli waris itu belum bisa ditemui sehingga kami dari yang sebelumnya teridentifikasi baru ada 4 yang sudah bisa diserahkan berdasarkan yang bisa ditemui," ungkap Direktur Manajemen Resiko Jasa Raharja Wahyu Wibowo.

Sudah Di-download

Sementara itu dengan dibantu Australia, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah men-download data dari Flight Data Recorder (FDR) pesawat Lion Air PK-LQP. FDR itu menyimpan total data 69 jam penerbangan.

"Kita peroleh data black box ada 69 jam, terdiri dari 19 penerbangan, termasuk penerbangan yang alami kecelakaan, kemudian jumlah parameternya kurang lebih 1.800. Hasil download bisa dilihat ini adalah rute penerbagan berdasarkan FDR," kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Nurcahyo Utomo kepada wartawan di kantornya, Jl Medan Merdeka Timur, Gambir, Jakarta Pusat, Minggu (4/11).

Data yang didownload memuat detail soal penerbangan Lion Air PK-LQP yang jatuh, mulai dari data parkir pesawat, take off, hingga arah penerbangan ke tenggara dan kemudian jatuh.

"Rekaman akhir berakhir pada Pukul 23.31 jadi 23.31 tanggal 28 Oktober UTC time, atau 29 Oktober pada pukul 6.31.54 WIB. Jadi ini data yang kita dapat dari FDR," ujar Nurcahyo.

"Kita sedang pilah-pilah lagi parameter apa dari 1.800 yang kita butuhkan. Dari sini akan kita analisis apa yang terjadi dengan penerbangan itu," imbuhnya.

Dia mengatakan data penerbangan dari FDR sesuai dengan pemberitaan yang selama ini ada di media. KNKT masih mengharapkan data dari bagian black box lainnya, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR).

"Investigasi pada prinsipnya memanfaatkan informasi yang ada, kita punya FDR dan pastikan datanya benar dan ini membantu untuk kita. Namun ada dua black box yang isinya berbeda, ada dua info yang berbeda, apabila dua-duanya ada amat sangat saling membantu dan mendukung, namun demikian kalau seandainya hanya ditemukan satu, maka kita akan berupaya maksimum akan apa yang kita punya," tutur Nurcahyo. 

AS Hingga Singapura

Tim SAR Indonesia menerima bantuan negara sahabat dalam proses evakusi dan pengungkapan penyebab kecelakaan Lion Air PK-LQP. Arab Saudi juga datang, tapi untuk belajar.

"Dari Amerika NTSB (KNKT-nya AS-red) dibantu Boeing dan FEE, dari General Electric total rombongan ada 17 orang. Dari Singapura ada 3 orang yang bantu pencarian black box dan 1 orang membantu proses download FDR, Singapura jadi ada 4 orang," kata Nurcahyo Utomo.

"Kemudian Australia ada 2 orang untuk bantu download, Saudi Arabia ada 2 orang statusnya observer untuk belajar melakukan investigasi, tidak terlibat mereka," imbuhnya.

Soal data FDR, KNKT sedikit membuka data yang sudah didownload. Yang diungkap adalah soal rute penerbangan terakhir Lion Air PK-LQP. Datanya mirip dengan yang terpampang di situs Flightradar24.

Nggak Masalah

Pesawat Lion Air PK-LQP yang tersungkur di Laut Jawa tercatat sebagai pesawat anyar. Usia Boeing 737 Max 8 itu baru dua bulan dengan 800 jam terbang. Wajarkah pesawat usia dua bulan dengan catatan terbang mencapai 800 jam?

"Nggak masalah. Yang penting pilotnya cukup istirahat dan pesawatnya cukup dirawat. (Bila pesawat itu digunakan) Jalan terus, ya benar, kan mencari uang," kata Ketua Sub Komite Investigasi Kecelakaan Penerbangan, KNKT, Nurcahyo Utomo.

Dia mengibaratkan pesawat Lion Air dengan mobil ojek online. Tentulah mobil yang digunakan untuk mencari uang bakal digunakan secara terus menerus. Sama halnya dengan pesawat.

Dia juga tidak bisa membandingkan jam terbang pesawat usia dua bulan yang dimilik Lion Air dengan pesawat dari maskapai lain. Soalnya, masing-masing maskapai punya kebijakan yang berbeda.

"Tentu nggak bisa dibandingkan seperti itu, tapi kalau Lion Air kan buka setiap saat dan mereka cari duit, ya wajar," kata Nurcahyo.

Terkendala Lumpur

Kepala Badan SAR Nasional (Kabasarnas) Marsekal Madya M Syaugi mengatakan CVR black box pesawat Lion Air PK-LQP belum ditemukan hingga hari ketujuh operasi SAR. Kendalanya, ada lumpur setebal lebih dari satu meter di dasar laut.

"Belum ditemukan secara fisik. Kenapa? Lumpur yang ada di situ kalau ditusuk pakai besi satu meter pun belum sampe ke dalam. (Tebal) lumpurnya lebih dari satu meter," kata Syaugi.

Syaugi menuturkan tim penyelam gabungan tengah menelusuri keberadaan CVR. Tim dibagi menjadi dua area pencarian dengan harapan CVR cepat ditemukan.

"Ping yang sudah kita dengar, sudah kita telusuri oleh penyelam gabungan yang handal. Ini kita bagi dua supaya lebih cepat," ujar Syaugi.

Diketahui salah satu fokus evakuasi Lion Air PK-LQP adalah pencarian Cockpit Voice Recorder (CVR) Black Box pesawat tersebut. Sinyal CVR sempat tertangkap sinyal KRI Rigel, namun kemudian menghilang lagi.

Kepala Pusat Hidro Oseanografi TNI AL Laksamana Muda Harjo Susmoro mengatakan pihaknya kini sedang berupaya menemukan CVR. Alat yang digunakan adalah High Presition Acoustic Positioning (HIPAP) dan ROV.

"Kita punya alat nama HIPAP, ini sedang diutak-atik, untuk menangkap ping, mudah-mudahan berhasil," kata Harjo di KRI Sikuda. 

Diperluas 

Kepala Badan SAR Nasional Marsekal Madya M Syaugi memerintahkan Tim SAR gabungan untuk menyisir sisi barat dan timur perairan Tanjungpakis, Karawang, Jawa Barat. Pasalnya sempat ditemukan potongan tubuh, benda-benda yang diduga milik penumpang, dan puing-puing pesawat Lion Air PK-LQP di pesisir pantai Tanjungpakis.

"Karena tadi malam kami dapatkan kantong jenazah dari Tanjungpakis, jadi yang akan kita lakukan kita menyisir di Tanjungpakis, baik barat atau timur," kata Syaugi.

Selain perairan, Tim SAR juga diminta menyisir daratan dekat pantai. Syaugi juga menjelaskan jenazah korban jatuhnya pesawat bisa jadi terseret arus air dari Tanjung Karawang hingga ke Tanjungpakis.

"Kami kerahkan TNI dan Basarnas menyapu daratan juga. Mudah-mudahan kalau ada korban bisa kita ambil dan kita serahkan ke RS Polri. Korban itu bisa di atas air dan di bawah air. Bisa saja di dasar bisa bergeser, apalagi di atas," jelas Syaugi.

Teridentifikasi Lagi

Tim DVI RS Polri Soekanto mengidentifikasi lagi sebanyak 7 jenazah penumpang Lion Air PK-LQP yang jatuh di perairan Karawang. Hingga saat ini total jenazah yang telah teridentifikasi menjadi 14 orang.

"Hasil sidang rekonsiliasi pada hari Minggu tanggal 4 November PUKUL 14.00 WIB siang Di RS BHAYANGKARA RS Soekanto, ada 7 body part yang dinyatakan teridentidikasi," kata Kepala DVI Rumah Sakit Polri Kombes Lisda Cancer di RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.

Ketujuh jenazah yang telah teridentifikasi yaitu:

1. Rohmanir Pandi Sagala, laki-laki, usia 23 tahun, beralamat Tangerang, Banten. Teridentifikasi melalui sidik jari dan medis.

2. Dodi Junaidi, laki-laki, usia 40 tahun, beralamat Tangerang Selatan, Banten. Teridentifikasi melalui DNA.

3. Muhamad Nasir, laki-laki, usia 29 tahun, beralamat Cianjur, Jawa Barat. Teridentifikasi melalui DNA.

4. Janry Efriyanto Santuri, laki-laki, usia 26 tahun, beralamat di JAMBI. Teridentifikasi melalui DNA dan medis.

5. Karmin, laki-laki, usia 68 tahun, beralamat di Kepulauan Bangka Belitung. Teridentifikasi melalui DNA.

6. Harwinoko, laki-laki, usia 54 tahun, beralamat kelurahan Bogor Utara, Kota Bogor. Teridentifikasi melalui DNA.

7. Verian Utama, laki-laki, usia 31 tahun, beralamat di Petamburan, Jakarta Barat. Teridentifikasi melalui DNA.

Adapun keenam penumpang yang teridentifikasi melalui DNA berasal dari potongan tubuh yang ada di 24 kantong jenazah yang ditemukan pada hari pertama. Nantinya hari ini akan dilakukan penyerahan jenazah kepada keluarga korban.

Pingsan

Di bagian lain orang tua Fauzan Azima, korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP tak tahan menahan haru saat mengantarkan anaknya ke pemakaman. Orang tua Fauzan sempat jatuh pingsan.

Fauzan dimakamkan di kampung halamannya di kampung halamannya di Balai Mansiro Danguang-danguang, Nagari Guguk Lapan Koto, Kecamatan Guguk, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat, Minggu (4/11).

Setelah upacara pelapasan, jenazah Fauzan disalatkan di masjid setempat. Warga turut mengantar jenazah Fauzan di peristirahatan terakhir yang tak jauh dari rumahnya.

Fauzan bekerja sebagai penilai di kantor jasa penilaian publik di Jakarta. Saat peristiwa itu terjadi, ia sedang dalam perjalanan dinas. Bagi atasannya, ia dikenal sebagai anak yang rajin.

"Ia akan menilai aset Pertamina di Pangkal Pinang. Berangkat sendiri. Selama ini Fauzan kami lihat anaknya rajin," kata Setiawan yang merupakan atasan Fauzan.

Fauzan merupakan satu dari delapan warga Sumatera Barat yang ikut menjadi korban jatuhnya Lion Air. Khusus di Kabupaten Lima Puluh Kota, ada dua warganya yang jadi korban.

Identitas Fauzan dikenali pada Sabtu (4/11) malam, setelah tim DVI mencocokkan korban dengan DNA keluarga.

"Ada dua dari kita. Satu lagi masih belum ditemukan. Kota berharap bisa segera di identifikasi dan dibawa ke kampung halaman," kata Bupati Lima Puluh Kota, Irfendi Arbi. (detikcom/c)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

IHSG Tetap Turun, Rupiah dan Harga Emas Terkoreksi

Headlines

Gemalaki Demo Desak Polda Sumut Tertibkan Galian C di Batubara

Headlines

Meski Mahal, Minat Masyarakat Beli Emas Tetap Membludak

Headlines

Platform ASN Digital Jadi Sorotan BKN untuk Pemkab Taput

Headlines

Peluang Terakhir Tembus 5 Besar, PSMS Wajib Tumbangkan FC Bekasi

Headlines

Bupati dan Wabup Sergai Siapkan Bonus untuk Riadi Saputra, Atlet NPCI Peraih 3 Medali di APG Thailand