WHO Sebut Vaksin Virus COVID-19 akan Siap 18 Bulan Lagi

* Kemenkes RI : Data Pasien Suspect Corona Berkurang Secara Global
Redaksi - Kamis, 13 Februari 2020 10:04 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_3824_WHO-Sebut-Vaksin-Virus-COVID-19-akan-Siap-18-Bulan-Lagi.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Getty Image
Tedros Adhanom Ghebreyesus 

Jenewa (SIB)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan bahwa penyebaran virus corona yang terjadi saat ini berpotensi menjadi ancaman lebih serius bagi dunia dibandingkan terorisme. WHO juga mengatakan bahwa vaksin pertama untuk mencegah virus corona ini mungkin baru akan tersedia dalam 18 bulan mendatang. Saat ini, lebih dari 400 peneliti dari seluruh dunia berusaha menemukan vaksin tersebut.

Kepala WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus di Jenewa mengatakan karena tidak tersedianya vaksin maka "kita harus berusaha melakukan apapun dengan senjata yang ada" dan memperingatkan bahwa epidemik ini 'merupakan ancaman yang sangat serius.' "Secara jujur, virus ini berpotensi sangat besar menciptakan kekacauan sosial, politik, dan sosial lebih dibandingkan serangan teroris," kata Dr Ghebreyesus.

"Bila dunia tidak tersadarkan dan melihat bahwa virus ini adalah musuh nomor satu sekarang, saya kira kita tidak akan belajar dari apa yang terjadi."

Data terakhir, virus corona sudah merenggut nyawa 1.017 orang di China dengan 42.708 kasus mereka yang terinfeksi. Sejauh ini baru ada 319 kasus di 24 negara dan kawasan di luar China, dengan dua kematian, satu di Hong Kong dan satu di Filipina. Dr Ghebreyesus mengatakan virus ini sekarang resmi diberi nama COVID-19. WHO mendesak berbagai negara untuk meningkatkan usaha mendeteksi dan mengisolasi virus, khususnya di sekitar 30 negara yang memiliki sistem layanan kesehatan yang lebih lemah, dimana penyebaran virus bisa menimbulkan krisis. "Dengan 99 persen kasus terjadi di China, ini masih menjadi hal yang darurat bagi negara tersebut, namun krisis yang memberikan ancaman besar bagi dunia secara keseluruhan," katanya.

WHO juga menyampaikan kekhawatiran mengenai penyebaran virus oleh mereka yang tidak pernah melakukan perjalanan ke China, merujuk kasus minggu ini yang terjadi di Inggris dan Prancis. Seorang pria Inggris Steve Walsh yang dijuluki 'penyebar super' berbicara untuk pertama kalinya kepada pers pada Selasa (11/2) meminta maaf terhadap mereka yang tertular virus tersebut dari dirinya.

Walsh tanpa sengaja menulari 11 orang lainnya dengan virus corona, setelah dia sendiri terkena kasus tersebut ketika dia berada di Singapura. Pria berusia 53 tahun tersebut kemudian mengunjungi satu resor ski di Prancis sebelum kembali ke rumahnya di Hove di Inggris. Diperkirakan delapan kasus virus corona di Inggris berhubungan langsung dengan Steve Walsh.

Sementara itu, di China, penasehat senior masalah virus Zhong Nanshan mengatakan kepada kantor berita Reuters bahwa krisis penyebaran kasus ini akan berakhir di bulan April. Dia mengatakan kasus baru di beberapa provinsi sudah mulai menurun, dan diperkirakan puncak penyebaran kasus adalah bulan Februari ini. "Saya berharap penyebaran ini akan berhenti bulan April," kata Dr Zhong. Dr Zhong (83 tahun) adalah dokter yang menjadi terkenal dalam perannya menghentikan penyebaran virus SARS di tahun 2003.

Berkurang

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengatakan data pasien suspect virus Corona cenderung berkurang secara global. Mengutip data badan kesehatan dunia, WHO, Kemenkes menuturkan tidak ada penambahan jumlah negara yang terinfeksi virus Corona.

"Di global, ini dapat kami ada (data, red) kondisinya per 11 Februari 2020 pukul 01.00 WIB, ini confirmed infected masih terlihat adanya peningkatan sebelumnya. Namun suspected berkurang," ujar Direktur Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Vensya Sitohang, di Kantor Staf Presiden, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Rabu (12/2).

Vensya menambahkan angka kematian juga masih ada dan cenderung meningkat. Namun WHO dan pemerintah China mengatakan tak ada penambahan negara yang terinfeksi Corona dalam 7 hari terakhir.

"Ada kabar gembira dari data yang bisa kita lihat global. Secara epidemiologis harus dipantau, dari WHO dan pemerintah Tiongkok mengeluarkan data yang ada bahwa 7 hari berturut-turut tidak ada negara infected yang bertambah. Mudah-mudahan kabar baik buat kita semua," jelas dia.

Meski demikian, Vensya menegaskan pemerintah terus waspada terhadap ancaman virus Corona. Dia berharap kondisi setiap hari terkait virus Corona terus membaik.

"Tentunya tidak menurunkan kesiapsiagaan kita, kewaspadaan kita, perlawanan kita. Tapi paling tidak ini harapannya membawa suasana yang lebih baik ke depannya," tegas Vensya.

Berdasarkan hasil data terakhir, ada 70 kasus yang menjalani uji spesimen virus Corona di Indonesia. Sebanyak 68 kasus dinyatakan negatif Corona, sedangkan 2 kasus masih dalam proses pengujian. (ABC/Rtr/detikcom/d)

Berita Terkait

Headlines

Balap Liar Ganggu Arus Lalu Lintas di Depan Mie Gacoan-SPBU Simpang Mangga Rantauprapat

Headlines

Pemko Medan Bantah Larang Jualan Daging Non Halal, M Sofyan: Menata Usaha Agar Tertib

Headlines

IGD Tetap 24 Jam, RSU Haji Medan Atur Jadwal Rawat Jalan Saat Ramadan

Headlines

Antisipasi Penyakit Masyarakat saat Ramadan, Polres Tanah Karo Amankan 10 Orang dari Rumah Kost

Headlines

DPD Kombat Deliserdang Bagikan Ratusan Paket Takjil di Sunggal

Headlines

Pemkab Tapteng Salurkan 94 Ribu Kilogram Benih Padi ke Petani Pascabencana