Direktur Rumah Sakit di Wuhan Meninggal Akibat Virus Corona

Pakar China: Obat Antimalaria Efektif untuk Infeksi Virus Corona

Redaksi - Rabu, 19 Februari 2020 09:38 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_1919_Pakar-China--Obat-Antimalaria-Efektif-untuk-Infeksi-Virus-Corona.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Foto: SIB/Dok
Liu Zhiming

Beijing (SIB)

Satu lagi dokter di kota Wuhan, China, meninggal dunia akibat virus corona. Dokter bernama Liu Zhiming ini juga menjabat direktur salah satu rumah sakit di kota Wuhan. Kabar meninggalnya dokter Liu disampaikan oleh media nasional China Global Television Network (CGTN) dan televisi nasional China, CCTV, serta media nasional China lainnya, Global Times.

Disebutkan CCTV bahwa pihaknya mendapat informasi dari tim medis Peking Union Medical College Hospital yang dikirimkan ke Wuhan. Upaya medis yang dilakukan terhadap dokter Liu gagal dan nyawanya tidak terselamatkan.

Dokter Liu dilaporkan meninggal dunia akibat pneumonia yang disebabkan oleh virus corona pada Selasa (18/2) pagi, sekitar 10.30 waktu setempat. Disebutkan juga bahwa dokter Liu menjabat sebagai Direktur Rumah Sakit Wuchang Wuhan di Provinsi Hubei, yang menjadi pusat wabah virus corona. Semasa hidup, dokter Liu dikenal sebagai seorang dokter bedah saraf.

Sebelumnya pada dua pekan lalu, satu dokter lainnya di kota Wuhan, Li Wenliang, meninggal dunia akibat virus corona. Dokter Li semasa hidup diketahui menjadi whistleblower atau sosok yang melontarkan peringatan awal atas bahaya wabah virus corona. Dia sempat ditangkap otoritas setempat karena peringatan yang disampaikannya via aplikasi chat menjadi viral dan dianggap mengganggu ketertiban umum.

Diketahui bahwa puluhan ribu tenaga medis berada di garda terdepan dalam memerangi wabah virus corona di wilayah China daratan. Virus ini diyakini pertama muncul di sebuah pasar hewan di kota Wuhan, Provinsi Hubei. Korban tewas akibat virus corona saat ini tercatat sudah mencapai 1.873 orang. Jumlah total virus corona di wilayah China daratan dan 26 negara lainnya saat ini berada di angka 73.325 kasus.

Untuk kematian dokter Liu, dilaporkan sempat terjadi kebingungan di kalangan netizen China. Pada Senin (17/2) malam, departemen propaganda pada Partai Komunis China wilayah Provinsi Hubei memposting di media sosial bahwa dokter Liu meninggal dunia. Namun dalam postingan selanjutnya disebutkan dokter Liu masih hidup namun dengan bantuan alat penyokong kehidupan.

Efektif Untuk Infeksi Virus Corona

Para pakar China mengonfirmasi bahwa berdasarkan hasil uji klinis, obat antimalaria, Chloroquine Phosphate, memiliki efek penyembuhan tertentu pada penyakit coronavirus yang baru (Covid-19). Hal tersebut disampaikan oleh Sun Yanrong, wakil kepala Pusat Pengembangan Bioteknologi Nasional China di bawah Kementerian Sains dan Teknologi dalam konferensi pers seperti dilansir kantor berita Xinhua, Selasa (18/2).

Disebutkan Sun, para pakar "sepakat" mengusulkan agar obat tersebut dimasukkan dalam versi baru panduan pengobatan virus corona dan diterapkan dalam uji klinis yang lebih luas secepat mungkin. Sun mengatakan bahwa Chloroquine Phosphate, yang telah digunakan sebagai obat antimalaria selama lebih dari 70 tahun, dipilih dari puluhan ribu obat yang telah ada setelah melewati beberapa putaran skrining.

Menurut Sun, obat tersebut telah digunakan dalam uji klinis di lebih dari 10 rumah sakit di Beijing, serta di provinsi Guangdong, China selatan dan provinsi Hunan, China tengah, dan menunjukkan khasiat yang cukup baik. Dalam uji coba tersebut, kelompok pasien yang menggunakan obat ini telah menunjukkan indikator yang lebih baik daripada kelompok paralel mereka, dalam penurunan demam, perbaikan gambar CT paru-paru, persentase pasien yang hasilnya negatif dalam tes asam nukleat virus dan waktu yang mereka perlukan untuk itu. Pasien yang menggunakan obat ini juga membutuhkan waktu yang lebih singkat untuk pulih, ujar Sun.

Sun memberi contoh seorang pasien berusia 54 tahun di Beijing, yang dirawat di rumah sakit empat hari setelah menunjukkan gejala. Setelah minum obat ini selama seminggu, dia melihat semua indikator membaik dan asam nukleat berubah negatif. Sun mengatakan bahwa sejauh ini, tidak ditemukan reaksi merugikan yang serius terkait obat tersebut di antara lebih dari 100 pasien yang terdaftar dalam uji klinis.

Sementara itu Kementerian Kesehatan China mengimbau kepada pasien virus corona yang telah sembuh untuk mendonasikan darah. Plasma darah yang didonasikan mampu diekstrak dan menolong pasien virus corona lain yang sedang kritis. Komisi Kesehatan Nasional China mengungkapkan, plasma darah dari pasien yang baru sembuh mengandung antibodi yang siap mengurangi pasokan virus dalam pasien kritis. "Saya mengimbau kepada seluruh pasien yang sembuh untuk mendonorkan plasma darah mereka sehingga mampu menolong pasien kritis," ungkap Guo Yanhong, Kepala Komisi Kesehatan Nasional China. (Detikcom/q)

Berita Terkait

Headlines

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Headlines

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Headlines

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan

Headlines

Ramadan 1447 H, Pemkab Labura Ajak 8 Ustadz Kunjungi Delapan Masjid

Headlines

Sungai Simanggar Alami Sedimentasi, Bupati Batubara Minta Penanganan Cepat PSDA Provinsi Sumut

Headlines

Sebulan Diburon, Polsek Tanjungmorawa Tangkap Pelaku Curanmor