Jubir Jokowi: Pemerintah Segera Evakuasi WNI dari Yokohama Jepang

* WNI Kru Diamond Princess Tak Mau Evakuasi Via Laut
Redaksi - Minggu, 23 Februari 2020 10:06 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_8914_Jubir-Jokowi--Pemerintah-Segera-Evakuasi-WNI-dari-Yokohama-Jepang.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
news.detik.com
Jokowi

Jakarta (SIB)

Istana menyatakan pemerintah segera melakukan evakuasi kemanusiaan tahap 2, yakni memulangkan WNI dari Yokohama, Jepang. Keputusan ini diambil setelah pemerintah menggelar rapat teknis dalam negeri dan dengan pihak Jepang.

"Pemerintah segera melakukan evakuasi kemanusiaan tahap 2 dari Yokohama (Jepang) dalam waktu dekat setelah melakukan rapat teknis dengan kementerian/lembaga terkait di dalam negeri dan pemerintah Jepang, khususnya di luar negeri," kata Juru Bicara Presiden Joko Widodo (Jokowi), Fadjroel Rachman, dalam keterangan tertulis, Sabtu (22/2).

Fadjroel mengatakan, pemerintah Indonesia sukses melakukan evakuasi kemanusiaan tahap 1 atas 238 WNI dari Provinsi Hubei, China, menuju transit observasi di Natuna. Pemerintah juga mengklaim sukses menjalankan gotong royong kemanusiaan tahap 1, yaitu mengembalikan 238 WNI dari Hubei, ditambah 42 penjemput dan sejumlah kru pesawat ke 30 provinsi di Indonesia, yang disebut diterima dengan baik di daerah masing-masing dan semuanya sehat.

Sesuai Inpres No.4/2019, evakuasi kemanusiaan dan gotong royong kemanusiaan dikoordinir oleh dua Menko: Polhukam dan PMK.

Sesuai informasi dari KBRI Jepang dan Kemenlu yang berkomunikasi dan terus memantau, WNI yang berada di kapal pesiar Diamond Princess berjumlah 78 orang, 74 orang dinyatakan sehat, namun 4 orang WNI yang dinyatakan positif terdampak virus Covid-19 sudah dirawat dengan sangat baik di rumah sakit di Jepang yang memenuhi semua protokol WHO," beber Fadjroel.

Fadjroel mengatakan Presiden Jokowi terus menerima laporan terakhir tentang keadaan WNI di Yokohama, Jepang. Jokowi memerintahkan semua pihak di dalam negeri mempersiapkan evakuasi kemanusiaan tahap 2 dari Yokohama sebaik mungkin.

"Termasuk memerintahkan Kemenlu dan KBRI untuk terus memantau dan berkomunikasi dengan 78 WNI tersebut serta menyelesaikan semua prosedur evakuasi kemanusiaan tahap 2 dari Yokohama (Jepang) ke Indonesia kepada pihak Pemerintah dan otoritas lainnya di Jepang," sebut Fadjroel.

"Evakuasi kemanusiaan dan gotong royong kemanusiaan ini membuktikan bahwa pemerintah yang dipimpin Presiden Joko Widodo berhasil menumbuhkan perasaan saling percaya (trust) saling bahu membahu bergotong royong dalam menyelesaikan masalah kebangsaan, sosial, dan kemanusiaan bersama-sama," imbuh dia.

Tak Mau Via Laut

Sementara itu, salah seorang pekerja kapal pesiar Diamond Princess asal Indonesia mengaku 'kecewa' jika dievakuasi menggunakan jalur laut. Pihak Istana mengatakan semua pilihan masih dikaji.

"Iya. Semua sedang dipertimbangkan. Termasuk berbagai alternatifnya. Tetapi belum ada keputusan bagaimana teknisnya," kata Deputi IV Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi KSP Juri Ardiantoro lewat pesan singkat, Sabtu (22/2).

Juri mengatakan pada prinsipnya pemerintah akan mengusahakan yang terbaik bagi WNI yang berada di kapal pesiar di Jepang. Berbagai pelayanan disiapkan untuk para WNI tersebut.

"Intinya, pemerintah bersungguh-sungguh memperhatikan perlindungan WNI yang di kapal itu dan mencari alternatif terbaik untuk memfasilitasi mereka mendapatkan pelayanan kesehatan dan pelayanan lainnya, termasuk opsi mengevakuasi dan melakukan observasinya," ujar dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, kru kapal asal Indonesia, Sasa, menyambut baik pilihan evakuasi yang akan dilakukan Indonesia. Meski begitu, dia mempertanyakan perjalanan laut yang dinilai terlalu lama.

"Kami memang 'upset' karena mendengar di berita katanya mau dijemput dengan kapal medis dan penjemputannya (dari Indonesia ke Jepang) itu lama, empat belas hari," kata Sasa kepada Hellena Souisa dari ABC News.

"(Dengan jangka waktu selama itu), sama saja dengan kita dikarantina di sini dong. Jika sudah selesai dikarantina di sini, sebenarnya kita juga akan diberi free tiket pesawat dari perusahaan," kata Sasa.

"Bayangkan, kita di sini bakal dikarantina 14 hari, kalau misalnya bakal dijemput pakai kapal, berarti nanti (bertambah) 14 hari lagi," kata Sasa. (detikcom/d)

Berita Terkait

Headlines

Ramadan Bawa Berkah, Jajanan Pinggir Jalan Diserbu Pembeli

Headlines

Respon cepat, Polres Tanjungbalai Gerak Cepat Salurkan Bantuan Kepada Lansia

Headlines

Sekdakab Tapteng Imbau Masyarakat Waspada Penipuan Mengatasnamakannya

Headlines

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Headlines

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Headlines

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan