Jakarta (SIB)
Dampak pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) belum mereda. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) akibat kelesuan aktivitas ekonomi masih terjadi.
Contoh teranyar ada di Amerika Serikat (AS). Pada pekan yang berakhir 15 Agustus, jumlah klaim tunjangan pengangguran tercatat 1,106 juta. Naik dibandingkan pekan sebelumnya yaitu 971.000.
Selama Februari-April, sekitar 22 juta lapangan kerja hilang di perekonomian Negeri Paman Sam. Selepas April, penciptaan lapangan kerja kembali terjadi tetapi belum bisa menutup penurunan yang terjadi sebelumnya karena hanya 9,3 juta.
"Data ini cukup mengecewakan. Beberapa pekan ke depan akan krusial, karena bakal terlihat sejauh mana dampak dari penutupan kembali (reclosing) terhadap perekonomian," sebut Jeffries dalam catatan kepada para kliennya, sebagaimana dikutip dari Reuters.
Ya, penyebaran virus corona yang menggila di Negeri Adikuasa membuat pemerintah di sejumlah negara bagian memutuskan untuk kembali mengetatkan pembatasan sosial. Doug Ducey, Gubernur Arizona, kembali menutup bar, bioskop, pusat kebugaran, dan kolam renang.
Sementara Gubernur California Gavin Newsom memutuskan, agar restoran, bar, bioskop, dan pusat hiburan keluarga kembali ditutup. Di New Jersey, Gubernur Phil Murphy menunda pembukaan restoran hingga waktu yang belum ditentukan.
Situasi yang gloomy tidak hanya terjadi di AS. Di Australia, sepertinya laju pemulihan ekonomi agak terhambat.
Ini terlihat dari aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers' Index (PMI) manufaktur. Pembacaan awal PMI manufaktur Agustus menunjukkan angka 53,9. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 54.
"Penurunan aktivitas bisnis tidak mengejutkan, karena karantina wilayah (lockdown) di Negara Bagian Victoria. Penciptaan lapangan kerja menurun karena penutupan aktivitas ekonomi di Vicoria," sebut Gareth Aid, Head of Australian Economics di CBA, seperti dikutip dari keterangan tertulis.
Oleh karena itu, kebangkitan ekonomi dunia akibat pandemi virus corona masih penuh dengan tanda tanya. Sepanjang virus mematikan itu masih bergentayangan, maka sulit berharap aktivitas publik bisa kembali seperti dulu. Akibatnya, ekonomi masih terus dibayangi oleh risiko resesi.
Tak Boleh Lockdown
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan Eropa agar mereka tidak kembali melakukan penguncian (lockdown) untuk menekan penyebaran wabah covid-19. Jika itu dilakukan, berpotensi menciptakan kejatuhan ekonomi yang lebih parah dan Bank Dunia memproyeksikan sebanyak 100 juta orang akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan ekstrem.
"Dengan langkah-langkah dasar nasional dan tambahan yang ditargetkan, kita berada dalam posisi yang jauh lebih baik untuk membasmi penyebaran virus lokal ini," kata kepala cabang WHO di Eropa, Hans Kluge, kepada wartawan.
"Kita bisa mengelola virus dan menjaga perekonomian tetap berjalan dan sistem pendidikan tetap beroperasi," tambahnya, mengutip AFP, Jumat (21/8).
Peringatan itu dikeluarkan saat Prancis, Italia, Spanyol dan Jerman terus melaporkan lonjakan kasus Covid-19 baru yang signifikan. Kasus-kasus baru itu mulai kembali meningkat karena beberapa negara Eropa telah mulai membolehkan aktivitas umum seperti melakukan perjalanan antar kota/negara, liburan musim panas, hingga menggelar pesta.
Pada Kamis saja, Italia mencatat 845 kasus baru Covid-19, angka harian tertinggi sejak Mei. Di sisi lain, Prancis melaporkan 4.700 infeksi baru, naik pesat dari kasus yang terdata di hari sebelumnya. Kenaikan harian Spanyol bahkan melebihi Prancis, dan Jerman juga mulai melaporkan kenaikan kasus harian yang signifikan.
Secara global, kasus wabah yang belum ada vaksin atau obatnya ini juga terus tumbuh. Menurut Worldometers, sudah ada 22,8 juta orang lebih yang terinfeksi corona kemarin di seluruh dunia, dengan hampir 800 ribu kematian dan 15,5 juta lebih sembuh.
Bukan hanya masalah kesehatan, wabah ini juga telah membuat ekonomi banyak negara, utamanya yang telah menerapkan lockdown, terdampak parah. Di mana banyak negara baru-baru ini melaporkan perlambatan ekonomi yang tajam hingga terjerat resesi.
Bank Dunia sendiri telah secara langsung memperingatkan bahwa dampak Covid-19 pada ekonomi bisa lebih parah apabila wabah belum juga bisa ditangani dan terus ada untuk waktu yang lebih lama. Dampak itu termasuk mendorong sebanyak 100 juta orang kembali ke dalam kemiskinan ekstrem.
"Angka itu bisa lebih tinggi jika pandemi memburuk atau berlarut-larut, yang mungkin terjadi." kata Presiden Bank Dunia David Malpass dalam sebuah wawancara dengan AFP, Kamis.
Lembaga keuangan yang berbasis di Washington itu sebelumnya memperkirakan hanya ada sekitar 60 juta orang yang akan jatuh ke dalam kemiskinan ekstrem akibat pandemi. (CNNI)