Eks Kapten Pilot Garuda Indonesia Darwis Panjaitan:

Tahan Diri Komentari Jatuhnya Pesawat Sriwijaya Air

Redaksi - Minggu, 17 Januari 2021 09:16 WIB
Foto Dok/Darwis Panjaitan
Darwis Panjaitan

Jakarta (SIB)

Mantan Kapten Pilot Garuda Indonesia, Darwis Panjaitan, mengimbau agar semua pihak, terlebih khusus para pengamat menahan diri untuk mengomentari lebih jauh penyebab terjadinya insiden Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 yang hilang di Kawasan Kepulauan Seribu, Sabtu (9/1).

"Saya mohon maaf kepada bapak-bapak yang saya hormati untuk menahan diri memberikan opini-opini. Kalau kita merasa diri pakar, lebih baik kita memberikan masukan kepada institusi yang berwenang. Bukan untuk dipublikasi kepada masyarakat apa yang ada dalam pikiran kita," tegas Darwis Panjaitan di Jakarta, Jumat (15/1).

Pasalnya, lanjut Darwis, khawatir opini-opini tersebut akan mengganggu tim yang ditunjuk pemerintah, yang mendapat wewenang otoritas untuk mencari investigasi kejadian.

Hal lain diutarakan Darwis, bahwa begitu pesawat hilang, semua keluarga berharap masih ada satu persen harapan hidup.

"Nah ini belum ada sama sekali ketemu (Black Box), kita sudah memberikan opini pesawat jatuh. Pesawat sudah begini dan sudah hancur. Dengan kata lain mengatakan bahwa penumpangnya dalam pesawat itu sudah meninggal. Bagaimana perasaan keluarga?" jelas Eks Chief Instructor Boeing 747 Garuda Indonesia ini.

"Tolonglah! Justru sebagai umat beragama, saya ingatkan kembali, apabila ada kejadian begini marilah kita berdoa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya diberikan mukjizat. Sebab tidak ada yang tidak mungkin," imbuhnya.

Darwis juga mengajak semua untuk berdoa kepada tim yang tengah bekerja keras.

"Kalau dilihat, saya harus hormat kepada mereka yang melaksanakan tugasnya dengan penuh keseriusan dan tanggung jawab. Mencari segala macam. Tidak mengenal lelah. Kalau untuk keselamatan, saya yakin mereka adalah orang-orang yang berkualitas dan bonafit secara pendidikan," kata Jebolan Akademi Penerbangan NASA, Cessnock, Australia ini.

"Terima kasih buat bapak-bapak dari Basarnas dan KNKT yang telah bekerja keras. Juga, kepada panglima dan komandannya. Saya pribadi berdoa bapak-bapak mendapatkan balasan yang baik dari Tuhan demi mencari sesuatu yang berguna untuk masyarakat ini," tambah dia.

Darwis mengamati komentar-komentar dan opini-opini yang berkembang di publik sama sekali tidak ada hubungannya. Dia mengakui dunia penerbangan di Indonesia masih terbilang asing.

"Kita akui, soal penerbangan masih hal yang eksklusif. Belum biasa. Beda mungkin dengan negara maju seperti Amerika yang sudah biasa," ucapnya.

Darwis juga mohon kepada media-media untuk tidak menjadikan insiden ini untuk mencari keuntungan.

"Kepada para media, terlebih khusus media elektronik agar juga menahan diri. Kita berikan kesempatan bagi tim yang telah dibentuk untuk bekerja. Kita harus mengedepankan kepentingan bangsa dan kemanusiaan," imbuhnya.

Darwis membeberkan contoh hilangnya MH370 Malaysia Airlines, yang sampai sekarang tidak tahu jatuhnya di mana.

"Kalau kita amati saat itu, adakah seorang pilot Malaysia atau pilot Singapura atau pakar-pakar atau yang merasa dirinya pakar di Singapura memberikan komentarnya? Tidak pernah ada yang memberikan komentar sampai sekarang," urai dia.

"Tapi beribu maaf kepada kepada saudaraku yang saya hormati dan cintai ini, banyak komentar di Indonesia yang nampaknya kelihatan sangat hebat, terkesan melebihi para pakar yang ada di dunia ini," tambah dia. (J03/a)

Sumber
: Hariansib edisi cetak

Tag:

Berita Terkait

Headlines

KNKT Paparkan 6 Penyebab Jatuhnya Sriwijaya Air SJ182 di Kepulauan Seribu

Headlines

Petani dan Tengkulak Beras Diminta Tahan Diri Tak Ambil Untung Banyak

Headlines

Polemik Ustaz Khalid Larang Nyanyi Indonesia Raya, PBNU Minta Umat Tahan Diri

Headlines

KNKT Berhasil Unduh Rekaman Percakapan Kecelakaan dari CVR Sriwijaya Air

Headlines

Black Box CVR Sriwijaya Air SJ182 Ditemukan

Headlines

Kasus Dugaan Mega Korupsi Asabri Rp 23,7 Triliun, Kejagung Periksa Warga Negara Australia