Dua Gubernur Diskusi Tentang Pengaruh Politik Identitas

Reputasi Sumut Tekan Konflik Jadi Contoh Daerah Lain

Redaksi - Kamis, 18 Maret 2021 09:17 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/berita/dir032021/_940_Reputasi-Sumut-Tekan-Konflik-Jadi-Contoh-Daerah-Lain.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Foto: Dok/Diskominfo Sumut
DISKUSI: Gubernur Sumut Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi dan Gubernur Lemhanas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dan lainnya foto bersama di sela-sela diskusi kelompok terarah tentang “Pengaruh Politik Identitas Terhadap Demokrasi di Indones

Medan (SIB)

Dua gubernur menghadiri diskusi kelompok terarah membahas pengaruh politik identitas terhadap demokrasi di Indonesia, yang digelar Tim Pengkajian Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) RI di Hotel Radisson Medan, Jalan H Adam Malik Medan, Rabu (17/3). Sumut menjadi tujuan kajian karena memiliki karakteristik kebhinekaan yang membedakannya dengan daerah lain.

Keduanya adalah Gubernur Lemhannas RI Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo dan Gubernur Sumut Letjen TNI (Purn) Edy Rahmayadi. Bersama dengan para akademisi di Sumut, seperti Dr Shohibul Ansor Siregar selaku moderator, Prof Hasan Bakti Nasution mewakili FKUB, Dr Warjio selaku pakar sosial dan politik, Prof Reni Mayerni (Deputi Bidang Pengkajian Strategik Lemhannas RI) serta sejumlah pejabat.

Gubernur Lemhannas RI Agus Widjojo menyebutkan, kehadiran lembaga itu di Sumut dalam konteks kajian jangka panjang tentang politik identitas dan dampaknya terhadap demokrasi. Medan (Sumut) dipilih bersama dengan beberapa daerah lainnya, karena ada beberapa karakteristik yang bisa membedakannya dengan daerah lain dan itu direspons cukup positif.

“Reputasi Sumut yang bisa menekan konflik ini pada tingkat maksimal, artinya apapun pilihan rakyat, tidak menimbulkan korban. Ini mungkin yang perlu dijadikan sumbangan positif dan perlu dijaga, dipelihara dan ditingkatkan untuk dijadikan sebagai model bagi daerah lain di Indonesia. Medan bisa dikatakan sebagai daerah yang punya masyarakat bercirikan kebhinekaan. Tentunya hal itu memberikan tantangan tentang pengelolaannya agar tidak lepas kendali,” ujar Agus kepada wartawan di sela kegiatan diskusi.

Upaya kajian itu, pihaknya meminta masukan dari para pakar yang memahami bagaimana kondisi sosial politik di Sumut. Agar politik identitas tidak menjurus kepada penekanan perbedaan, tetapi lebih kepada upaya mencari persamaan dari perbedaan tersebut. Sebab, menurutnya, dalam masyarakat yang homogen seperti Jepang dan Korea, tetap bisa dikelompokkan dengan identitas tertentu.

“Di sini dikaitkan dengan demokrasi, yakni praktek-praktek identitas sebagai sumber daya dan sarana politik dalam rangka mempengaruhi kebijakan dan kompetisi merebut kekuasaan dengan cara konstitusional dalam bentuk pemilu. Yang dapat mengingkari prinsip-prinsip yang diamanatkan oleh demokrasi, yaitu membatasi kebebasan untuk memilih,” jelasnya.

Bahwa identitas dimaksud dalam kajian politik ini, lanjut Agus, adalah keniscayaan yang bisa mengarah kepada negatif atau positif. Untuk demokrasi, jika politik identitas kemudian membatasi kebebasan memilih, maka ada persoalan yang membuat terjadinya krisis identitas. Muaranya adalah polarisasi di masyarakat.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi pun mengakui, provinsi ini dihuni beragam etnis, suku dan agama. Karena itu, dapat dijadikan masukan dan cocok sebagai contoh bagi daerah lain di Indonesia. Pengalaman daerah ini menghadapi berbagai pemilihan baik Pileg, Pilpres, Pilgub, hingga Pilkada, perlu diwaspadai di masa mendatang, agar politik identitas yang bisa menyebabkan polarisasi di masyarakat, mengarah kepada penajaman perbedaan yang mengkhawatirkan.

“Memang kita masih banyak pemilih yang rasional, tetapi kita tetap harus waspadai ke depan seperti apa. Jadi kondisi ini seperti itu tidak bisa dibiarkan,” katanya.

Bagi Edy, sistem demokrasi yang berlaku di satu negara bergantung pada kebutuhan atau penyesuaian terhadap perkembangan sosial politik yang berjalan. Beberapa bentuk di antaranya seperti demokrasi langsung, tidak langsung, parlementer, presidensial, otorier, partisipatif, demokrasi Islam, dan sosial. Berbeda negara, berbeda bentuk demokrasinya.

Karenanya, Edy meminta agar para narasumber dan penanggap dalam diskusi tersebut membuka diri dalam berdiskusi melihat seperti apa kondisi demokrasi dan kaitannya dengan politik identitas di Sumut, agar gambaran itu bisa disampaikan dan menjadi catatan penting bagaimana formulasi jangka panjang untuk mengelola iklim demokrasi, terutama dalam hal pengambilan kebijakan sosial politik oleh penyelenggara negara.

Usai pembukaan diskusi tersebut, Edy Rahmayadi dan Agus Widjojo saling bertukar cenderamata sebagai tanda penghormatan. Apalagi Edy mengakui bahwa Gubernur Lemhanas RI saat ini adalah gurunya pada saat masih dinas di TNI AD.

Edy pun mengundang rombongan Lemhanas RI untuk hadir di Rumah Dinas Gubernur Sumut di Jalan Sudirman 41 Medan untuk makan siang bersama. Turut diundang Pangdam I/BB Mayjen TNI Hassanudin, Kapolda Sumut Irjen Pol Panca Putra Simanjuntak dan unsur Forkopimda lainnya. (rel/A13/c)

Sumber
: Hariansib edisi cetak

Tag:

Berita Terkait

Headlines

Jamintel Kejagung Paparkan Pengawasan DD, Ini Respon Bupati Labura

Headlines

JAM Intel Hadiri Sosialisasi Jaga Desa di Kantor Gubernur Sumut

Headlines

Pelantikan Pengurus KORMI Sumut, Bobby Nasution Tegaskan Peran Olahraga Bangun Ekonomi

Headlines

Bobby Afif Nasution Gaungkan Gerakan ASRI di Pantai Sorake, Serukan Wisata Bersih

Headlines

Puluhan Mahasiswa Desak Gubernur Sumut Robohkan THM Bluenight, Diduga Jadi Sarang Narkoba

Headlines

Persaja Gelar Diskusi, Kajati : Jaksa Harus Mampu Mengimplementasikan Plea Bargain