Kuala Lumpur (SIB)
Raja Malaysia, Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri'ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah resmi melantik Ismail Sabri Yaakob sebagai Perdana Menteri (PM) menggantikan Muhyiddin Yassin. Pengambilan sumpah dan pelantikan Ismail digelar di Istana Kerajaan Malaysia pada Sabtu (21/8). Dia mengucapkan sumpah jabatan di depan raja dan pemimpin koalisi lainnya, termasuk mantan perdana menteri Najib Razak.
Ismail mengenakan baju Melayu hitam, didampingi istrinya Muhaini Zainal Abidin, yang mengenakan baju kurung tradisional ungu muda. Usai mengucapkan sumpah, Ismail menandatangani akta pengangkatan yang kemudian disahkan oleh Ketua Mahkamah Agung Tun Tengku Maimun Tuan Mat dan Sekretaris Utama Pemerintah Tan Sri Mohd Zuki Ali.
Permaisuri Agong Tunku Hajah Azizah Aminah Maimunah Iskandariah ikut hadir di acara pelantikan yang digelar di Balai Singgahsana Kecil pada pukul 14.30 waktu setempat. Baik Raja maupun Ratu mengenakan pakaian tradisional berwarna pastel.
Turut hadir mantan Perdana Menteri Tan Sri Muhyiddin Yassin. Di antara para pemimpin politik yang hadir adalah presiden UMNO Dr Ahmad Zahid Hamidi, presiden PAS Abdul Hadi Awang, ketua Gabungan Parti Sarawak (GPS) dan lainnya.
Ismail ditunjuk oleh Sultan Abdullah sebagai perdana menteri setelah mendapat dukungan 114 dari 222 anggota parlemen Malaysia. Keputusan itu diambil Sultan Abdullah setelah politik Malaysia terus bergejolak sejak beberapa pekan lalu karena UMNO menarik dukungan dari pemerintahan Muhyiddin.
Hal itu membuat Muhyiddin dan seluruh anggota kabinet mengundurkan diri pada 16 Agustus setelah menjabat selama 17 bulan. Dengan 114 dukungan anggota legislatif Malaysia, posisi Ismail dinilai belum cukup kuat jika sewaktu-waktu terjadi gejolak politik.
Sejak UMNO kalah pada pemilu 2018, kondisi politik Malaysia terus bergejolak. UMNO memang sudah berkuasa selama lebih dari 60 tahun dan tumbang karena isu korupsi yang membelit mantan PM Najib Razak terkait skandal 1Malaysia Development Berhad (1MDB).
Hal itulah yang dikhawatirkan banyak pihak jika Ismail nantinya benar-benar mendapat dukungan dalam pemungutan suara di parlemen. Yakni korupsi yang merajalela ditambah pemerintahan yang tidak stabil karena dukungan tipis di parlemen.
Ismail kini dihadapkan pada lonjakan kasus Covid-19 di Malaysia yang terus terjadi meski mereka menerapkan status darurat nasional dan penguncian wilayah (lockdown). Selain itu, Ismail juga harus menggenjot roda perekonomian Malaysia yang lesu akibat pandemi Covid-19. (CNNI/thestar/detikcom/c)