Ribuan Sampah Rapid Test Antigen Dibuang ke Laut di Bali, Menteri KP: Tindak Tegas

* WHO Peringatkan Limbah Medis Covid-19 Mengancam Kesehatan
Redaksi - Kamis, 03 Februari 2022 09:20 WIB
Foto: Ardian Fanani/detikcom
Limbah medis dibuang di Selat Bali. 

Jakarta (SIB)

Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa laut bukan tempat sampah. Hal ini ia sampaikan sebagai respons atas terjadinya pencemaran limbah tes antigen yang mengotori Selat Bali.

"Kalau laut kita rusak bagaimana? Kalau sampahnya sudah luar biasa, kemudian kualitas biota di dalamnya menurun, apa yang terjadi? Seluruh kehidupan juga ikut rusak," tegas Trenggono dalam keterangan tertulis, Rabu (2/2).

Lebih lanjut ia menerangkan, membuang sampah di laut bertentangan dengan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 83 Tahun 2018 tentang Penanganan Sampah Laut. Pemerintah Indonesia telah berkomitmen mengurangi sampah sebanyak 30% melalui 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dan penanganan sampah sebanyak 70% sampai tahun 2025, serta pengurangan sampah plastik yang masuk ke laut sebanyak 70% sampai tahun 2025. Sehingga, menurutnya, perlu adanya tindakan tegas agar kejadian serupa tidak terulang.

"Kalau ini dibiarkan bisa terulang, makanya perlu tindakan tegas. Perlu ditekankan bahwa laut bukan keranjang sampah," sambungnya.

Laut memiliki peran penting dalam menjaga kelangsungan makhluk hidup di darat. Selain sebagai sumber pangan, laut juga penghasil oksigen dan penyerap emisi karbon yang dihasilkan oleh aktivitas manusia. Di samping itu, laut merupakan jalur transportasi penting dalam menjawab kebutuhan logistik setiap negara. Termasuk untuk jalur telekomunikasi melalui sistem kabel bawah laut.

"Sekali lagi saya tegaskan, laut itu erat kaitannya dengan kehidupan manusia. Jadi harus kita jaga," pungkasnya.

Sebelumnya, ribuan sampah rapid test antigen kits dibuang di laut. Ribuan limbah bekas alat swab antigen ditemukan berserakan di sepanjang pantai di Selat Bali. Diduga, limbah medis ini sengaja dibuang.

Sampah yang tergolong berbahaya ini viral beberapa hari ini di Banyuwangi. Dua video viral mengabadikan banyaknya sampah medis itu berserakan di sepanjang pantai Selat Bali.

Dua video merekam adanya sampah medis bekas rapid test antigen penumpang yang akan menyeberang ke Bali. Video pertama berdurasi 30 detik menunjukkan adanya rapid test kits yang terdiri dari ribuan cutton buds rapid test antigen mengambang. Sementara video kedua, terdapat beberapa rapid test antigen kits yang dibuang dan dibakar di pinggir pantai.

Perekam video, Danil mengaku mengabadikan banyaknya sampah medis bekas rapid tes antigen mengambang di sepanjang pantai pada hari Minggu (30/1) lalu. Sampah medis itu ditemukan di sepanjang pantai di depan Terminal Sritanjung, Desa Ketapang, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi.

Penyelidikan

Polda Bali turut mengusut pembuangan limbah medis sembarangan di Selat Bali. Polda Bali kini sedang melakukan penyelidikan.

"Kita masih lidik karena memang baru kemarin informasi seperti itu (ada pembuangan limbah medis di selat Bali).

Bagaimanapun juga, nanti apa pun hasil perkembangan akan kami informasikan lebih lanjut," kata Kapolda Bali Irjen Putu Jayan Danu Putra di Denpasar, Bali, Rabu (2/2).

Sejauh ini, Putu Jayan mengaku belum mengetahui apakah limbah medis tersebut dibuang secara sengaja atau tidak.

Namun dia memastikan sampah-sampah berbahaya seperti itu sebenarnya ada pengelolanya tersendiri.

Karena itu, Putu Jayan mengaku bakal bekerja sama dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Bali untuk mengkoordinasikan prosedur operasi standar (standard operating procedure/SOP) pembuangan limbah medis tersebut.

"Kita lihat lagi, siapa yang akan mengelola sampah ini, dari rumah sakit atau tempat-tempat layanan kesehatan yang lain.

Nanti kita cek lagi," ungkapnya.

Putu mengatakan polisi akan memproses pihak yang terbukti melanggar dengan membuang bungkus bekas tes antigen ke laut. Selain itu, pihaknya mencari unsur kesengajaan dalam pembuangan ini.

Mengancam Kesehatan

Sementara itu, secara terpisah Badan Kesehatan Dunia (WHO) kemarin memperingatkan, puluhan ton limbah medis yang terdiri dari bekas jarum suntik, alat uji, dan botol vaksin selama pandemi Covid-19 mengancam kesehatan manusia dan lingkungan.

Barang-barang bekas yang sebagian dapat menularkan virus corona itu berpotensi menimbulkan luka bakar, luka tertusuk jarum suntik, dan kuman penyakit terhadap para petugas kesehatan---menurut laporan WHO kemarin.

WHO juga menyerukan masyarakat yang dekat dengan tempat pembuangan sampah yang dikelola dengan buruk juga dapat terpengaruh melalui udara yang terkontaminasi dari pembakaran sampah, kualitas air yang buruk, atau hama pembawa penyakit.

Dilansir dari laman Antara mengutip Reuters, Rabu (2/1), laporan tersebut menyerukan reformasi dan investasi termasuk melalui pengurangan penggunaan kemasan yang menyebabkan tumpukan plastik dan bahan yang dapat didaur ulang.

Diperkirakan sekitar 87.000 ton alat pelindung diri (APD), atau setara dengan berat beberapa ratus paus biru, telah dipesan melalui portal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hingga November 2021. Sebagian besar APD diperkirakan berakhir sebagai limbah.

Laporan itu juga menyebutkan sekitar 140 juta alat uji berpotensi menghasilkan 2.600 ton sebagian besar sampah plastik dan limbah kimia yang cukup untuk mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.

Selain itu, diperkirakan bahwa sekitar 8 miliar dosis vaksin yang disalurkan secara global telah menghasilkan tambahan 144.000 ton limbah dalam bentuk botol kaca, jarum suntik, jarum, dan kotak pengaman.

Laporan WHO tidak menyebutkan contoh spesifik di mana penumpukan limbah paling mengerikan terjadi, tetapi merujuk pada tantangan seperti pengolahan dan pembuangan limbah resmi yang terbatas di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas karantina di Madagaskar.

Bahkan sebelum pandemi, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak dilengkapi untuk menangani beban limbah yang ada, kata WHO. (detikcom/Merdeka/d)

Sumber
: Koran SIB

Tag:

Berita Terkait

Headlines

Pemprovsu dan Poldasu Diminta Razia Besar-besaran Galian C Ilegal di Langkat

Headlines

AS Pertimbangkan Obesitas Dalam Pengurusan Visa di Era Trump

Headlines

IAW Soroti Celah HS Code dalam Ekspor Tuna, Negara Berpotensi Rugi Ratusan Triliun Rupiah

Headlines

KPK soal Penyelidikan Terkait Whoosh: Ada Oknum Jual Tanah Negara ke Negara

Headlines

Prabowo Minta Whoosh Tidak Dipolitisasi

Headlines

Ebenejer Sitorus: Aksi Judi Togel "Ganas" di Simalungun, Warga Desak Polres Simalungun Bertindak Tegas