BPTJ Usulkan Kereta Otomatis-Gantung Atasi Macet Puncak, Biayanya Rp 7,3 T

Redaksi - Selasa, 22 Maret 2022 10:40 WIB
(ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYA)
Ilustrasi Kemacetan di Kawasan Puncak.

Bogor (SIB)

Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan merekomendasikan pembangunan kereta otomatis dan kereta gantung untuk mengatasi kemacetan di kawasan Puncak, Bogor. Proyek itu diprediksi menelan dana Rp 7,3 triliun.

Kajian itu dilakukan untuk mencari solusi mengurai kemacetan di kawasan Puncak. BPTJ merekomendasikan kombinasi kereta automated guideway transit (AGT) dan kereta gantung.

"Dengan pertimbangan tersebut, hasil kajian merekomendasikan bentuk moda transportasi berbasis rel yang paling memungkinkan untuk dibangun di Puncak adalah kombinasi antara Kereta AGT dan Kereta Gantung," kata Direktur Prasarana BPTJ Jumardi kepada wartawan, Senin (20/3).

Pembangunan kereta AGT diperkirakan membutuhkan biaya sekitar Rp 6,32 triliun, sementara kereta gantung sebesar Rp 1 triliun. Selain itu, pembebasan lahan diperkirakan membutuhkan Rp 693 miliar.

"Kajian yang dilakukan BPTJ menyebut pembangunan moda berbasis rel menuju kawasan Puncak dengan kombinasi kereta AGT dan kereta gantung membutuhkan biaya tak kurang dari Rp 7,31 triliun. Jumlah tersebut terbagi atas pembiayaan pembangunan kereta AGT sebesar Rp 6,32 triliun dan kereta gantung hampir Rp 1 triliun," ucapnya.

"Jumlah sebesar itu belum termasuk pembebasan lahan yang diperkirakan membutuhkan sebesar Rp 693 miliar," lanjutnya.

Panjang lintasan kedua kereta tersebut mencapai 27,88 km. Dengan 23,40 km menghubungkan Sentul City-Taman Safari, serta 4,48 km menghubungkan Taman Safari-Puncak.

"Keseluruhan panjang lintasan angkutan berbasis rel tersebut menurut hasil kajian adalah 27,88 km dengan terbagi dalam 2 segmen. Segmen I antara Sentul City-Taman Safari sepanjang 23,40 km menggunakan moda Kereta AGT. Sedangkan segmen II adalah antara Taman Safari-Puncak sepanjang 4,48 km, di mana segmen ini baru menggunakan kereta gantung," ujarnya.

Namun proyek itu masih memerlukan pendalaman. Terutama aspek pembiayaan, dampak sosial, dan koordinasi antarlembaga.

"Kelanjutan opsi pembangunan transportasi massal berbasis rel di kawasan Puncak masih perlu proses pendalaman, baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Aspek yang perlu perhatian mendalam selain besarnya kebutuhan pembiayaan juga penanganan permasalahan dampak sosial dan koordinasi antarkelembagaan," tukasnya. (detikcom/a)

Sumber
: Koran SIB

Tag:

Berita Terkait

Headlines

Kemenhub Cabut Status Internasional Bandara IMIP Morowali

Headlines

Ziarah Suci Berakhir Tragis, 18 Tewas dalam Ledakan Bus Peziarah di India

Headlines

Batik Air dan Citilink Pindah ke Soekarno-Hatta per 1 Agustus

Headlines

Prabowo Instruksikan Jajaran Pemerintah Kawal Kelancaran Mudik Lebaran

Headlines

Ketua Asosiasi Maskapai RI Tanggapi Polemik Indonesia Airlines

Headlines

Menhub: Mudik Gratis Lebaran 2025 Tetap Ada Meski Efisiensi Anggaran