Medan (SIB)
Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Sumatera Utara melaksanakan Dialog Kerukunan dengan Pemuda Lintas Agama di Medan, Rabu (31/8). Dialog bertema "Penguatan Moderasi Beragama di Kalangan Pemuda Lintas Agama" ini menghadirkan narasumber Prof Dr H Ibrahim Gultom (tokoh Islam), Pdt Hasal Tambunan (tokoh Kristen), RD Sesar M (tokoh Katolik), M Manogren (tokoh Hindu), Brilian Mochtar (tokoh Buddha) dan Muslim Linggau (Konghucu).
Prof Dr H Ibrahim Gultom dalam paparannya mengungkapkan, Islam merupakan agama yang sangat toleran dan mengajarkan pemeluknya untuk menjaga keseimbangan. Bahkan Islam itu menganggap agama bermanfaat tidak hanya bagi pemeluknya, tetapi juga kepada seluruh alam, termasuk hewan misalnya. Sehingga ada tata cara untuk menyembelihnya agar hewan itu tidak tersakiti.
Menurutnya, masih adanya sikap radikal dan ekstrim pada pemeluk agama merupakan sesuatu yang salah tafsir. Sehingga diperlukan moderasi dalam beragama. Moderat dalam Islam itu ujungnya untuk menuju keseimbangan.
Namun hak dan batil dalam ajarannya tidak perlu dirubah, tetapi cara beragama yang perlu didudukkan pada tempatnya.
Sehingga seharusnya antar pemeluk agama itu tidak saling mencurigai, tidak saling intip dan tidak berprasangka. "Banyak yang salah dalam menafsirkan ajaran agama, sehingga timbul radikalisme atau perilaku ekstrim. Padahal dalam Islam tidak ada paksaan untuk memeluk suatu agama," ungkapnya.[br]
Sementara itu tokoh Kristen Pdt Hasal Tambunan mengatakan, esensi agama pada dasarnya menghormati martabat kemanusiaan dengan prinsip adil dan berimbang. "Kita tidak berhak merubah keyakinan orang lain dan hanya menginginkan adanya agama kita saja," ungkapnya seraya menyatakan kita juga harus menghargai kebudayaan dan kearifan lokal. Hal ini dicontohkannya dengan perlakuan tak baik menendang sesajen yang dilakukan orang lain.
Moderasi dalam Kristen, menurut Pdt Hasal Tambunan, mengasihi manusia seperti dirinya sendiri. Tidak membedakan orang dan tidak menolak orang yang berbeda darinya. Intinya, moderasi menghindari permusuhan.
Sementara itu tokoh Hindu M Manogren mengatakan, kita dilahirkan berbeda tetapi tidak boleh dibeda-bedakan. "Agama boleh berbeda, tetapi kita disatukan sebagai anak bangsa oleh Pancasila. Sehingga Pancasila menjadi harga mati, dan kita tidak boleh dipecah belah oleh nafsu mencari uang atau mencari jabatan dan lainnya," ungkap Manogren.
Sebelumnya Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sumut Ir Ardan Noor MM ketika membuka dialog mengatakan, Sumut merupakan provinsi yang masyarakatnya relegius dan majemuk. Masyarakat lekat dengan kehidupan beragama, dan kemerdekaan beragama dijamin konstitusi. Yakni moderasi beragama yang menjunjung nilai tengah-tengah, sedang atau berimbang. Sebuah formulasi yang pas untuk mewujudkan kemaslahatan kehidupan berbangsa, beragama yang harmonis damai dan toleran.
"Pemuda merupakan pelopor dalam mencapai cita-cita dalam kerukunan beragama," ungkap Ardan Noor di hadapan seratusan peserta pemuda lintas agama ini.[br]
Ketua FKUB Sumut Drs H Palit Muda Harahap MM kepada wartawan mengatakan, kalangan pemuda di Sumut memiliki interaksi yang sangat tinggi, sehingga bisa menimbulkan kerawanan yang tinggi pula, termasuk dalam persoalan agama.
"Sehingga dialog pemuda lintas agama ini sangat penting untuk semakin membuka wawasan mereka," ungkapnya.
Moderasi beragama, menurut tokoh MUI Sumut ini, perlu terus didengungkan kepada generasi muda agar sikap toleransi beragama melekat dalam jiwanya. FKUB Sumut, menurutnya, akan terus berupaya melibatkan generasi muda ikut dalam sosialisasi moderasi beragama. "Kedepan FKUB Sumut akan melibatkan anak muda dalam berbagai kegiatan terkait menciptakan toleransi, antara lain lomba karya tulis tingkat SMA dan mahasiswa," ungkap Palit Muda Harahap. (R6/f)