Jakarta (SIB)Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas menyebut banyak oknum yang memanfaatkan agama untuk kepentingan politik. Yaqut pun mewanti-wanti santri terkait fenomena tersebut.Mulanya, Yaqut menyinggung kepemimpinan Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari yang berpolitik tapi tetap beragama. Dia menyebut Hasyim beragama dengan politik saat memutuskan Nahdlatul Ulama (NU) bergabung dengan Masyumi."Sejarah para santri sudah banyak mencontohkan yang ini seringkali dibolak-balik diputar-putar kita mengenal Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari. Hadratussyaikh Hasyim Asy'ari itu bukan tidak berpolitik, beliau berpolitik, beliau beragama dengan politik. Ketika memutuskan Nahdlatul Ulama, Ormas besar yang beliau pimpin pada waktu itu untuk bergabung dengan Masyumi, yang isinya ini kelompok-kelompok garis keras yang kita kenal sekarang itu," kata Yaqut dalam pidatonya di acara launching logo Hari Santri Nasional di Kementerian Agama, Jakarta Pusat, Jumat (6/10).Yaqut mengatakan, keputusan bergabungnya NU ke Masyumi bukan tanpa alasan. Menurutnya, Hasyim ingin kelompok yang keras menjadi lunak."Dengan niatan agar mereka yang keras-keras ini mau menjadi lunak, menjadi moderat, berada di jalur yang tengah, jadi tidak keras-keras amat, yang menolak Qunut waktu itu, yang menolak tahlil, yang sedikit-sedikit bilang ini Bid'ah, ini khurafat. Dia menengah, menjadi moderat. Itu kenapa Kyai Hasyim Asy'ari, hadratussyekh Hasyim Asy'ari mau bergabung dengan Masyumi," ujarnya.Kemudian, Yaqut menyinggung keputusan Kyai Wahab Hasbullah yang memutuskan bergabung dengan Gerakan Nasionalis Agama dan Komunis (Nasakom) Presiden Sukarno. Dia mengatakan keputusan itu merupakan cara politik Kyai Wahab agar kelompok PKI kembali ke Pancasila."Berbeda dengan Kyai Wahab Hasbullah, ketika Kyai Wahab Hasbullah ini bergabung memutuskan bergabung dengan Nasakom itu bukan dalam rangka mendukung komunis, bukan. Bukan dalam rangka mendukung PKI, bukan. Tetapi bagaimana mereka itu yang komunis, yang PKI, pada waktu itu, pada akhirnya nanti mau kembali ke jalan yang benar. Mau ke tengah, yang ekstrem di kiri-kiri itu, mau jalan, mau bergeser ke tengah. Itu yang dulu Insyaallah diniatkan oleh Mbah Wahab Hasbullah. Nah ini beragama dengan cara politik," ujarnya.Dia mengatakan berpolitik melalui agama bukan didasari oleh nilai keagamaan melainkan sesuai kepentingan. Dia mengingatkan untuk mengisi ruang politik dalam agama dengan cara yang dilakukan Kyai Hasyim Asy'ari dan Kyai Wahab Hasbullah."Berbeda dengan berpolitik melalui agama, ini berbeda sama sekali, ini berbeda sama sekali ya. Ini yang banyak ini yang sekarang yang banyak berpolitik melalui agama. Jadi semua tujuan-tujuan politiknya tujuan-tujuan politiknya itu bukan dijiwai tapi didasari oleh nilai-nilai keagamaan," katanya."Jadi dicarikan dasarnya yang pas kira-kira sesuai dengan kepentingannya, atau dalam bahasa yang paling ringkas agama diperalat menjadi alat politik dan ini tidak boleh terjadi kita harus kembalikan Mbah Hasyim yang dulu. Kita harus kembalikan Mbah Wahab Hasbullah yang dulu, untuk bagaimana kita ini bisa mengisi ruang-ruang politik ini dengan nilai-nilai agama yang baik, yang benar, dan dalam posisi yang memberikan penghargaan terhadap yang lain," tuturnya.Yaqut tak memungkiri banyak oknum memanfaatkan agama untuk kepentingan politik. Dia berharap para santri dapat melanjutkan cara berpolitik dengan agama seperti Kyai Hasyim Asy'ari hadratussyekh dan Kyai Wahab Hasbullah."Sekarang yang banyak ini orang memanfaatkan agama sebagai alat untuk berpolitik dan ini tidak baik. Nah saya berharap santri-santri Ke depan bisa lahir kembali seperti Mbah Hasyim seperti Mbah Wahab yang lain, kalau sekarang ada yang mampu seperti Mbah Hasyim mampu seperti Mbah Wahab, saya kira belum ada, belum ada yang sekaliber itu," ujarnya.Kerap DimanfaatkanDalam pidatonya, Yaqut Cholil Qoumas juga menyinggung banyak pihak memanfaatkan nama Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Yaqut mengatakan nama besar Gus Dur kerap dimanfaatkan oleh pencinta dan pengkhianatnya.Mulanya, Yaqut mengatakan tumbangnya Orde Baru melahirkan sosok pemimpin yang merupakan seorang santri, yakni Gus Dur."Setelah Indonesia merdeka, kemudian berganti dengan Orde Baru, pada fase itu santri juga banyak terlibat. Kita tahu pergolakan tahun '65, ketika PKI memberontak negeri ini, santri juga terlibat dalam perlawanan langsung terhadap mereka. Kemudian lahir Orde Baru, Orde Baru tumbang berganti dengan masa Reformasi," kata Yaqut."Para santri juga ikut terlibat di dalamnya, bahkan melahirkan seorang presiden yang sangat fenomenal, Kiai Haji Abdurrahman Wahid," imbuh Yaqut.Yaqut mengatakan Gus Dur merupakan santri yang luar biasa. Dia menyebut pencinta dan pengkhianat Gus Dur kerap memanfaatkan nama Gus Dur."Santri yang kemudian banyak kelompok, baik para pencintanya maupun pembencinya, memanfaatkan nama besar beliau, ini Kiai Haji Abdurrahman Wahid. Santri yang luar biasa, baik pencinta pembenci, loyalis, maupun pengkhianatnya, itu memanfaatkan nama besar beliau," ujar Yaqut.Yaqut lalu beralih ke sosok Wakil Presiden, Ma'ruf Amin, yang juga seorang santri. Menurutnya, keberadaan Gus Dur dan Ma'ruf Amin sebagai bukti kemampuan yang dimiliki seorang santri tak hanya satu jenis."Hari ini kita juga punya wakil presiden seorang santri, Kiai Haji Ma'ruf Amin. Artinya apa, Bapak/Ibu sekalian? Santri ini bisa memiliki ruang untuk berkiprah yang sangat banyak karena kemampuannya. Karena kemampuan yang dimiliki oleh santri ini tidak hanya satu jenis saja, tapi banyak jenisnya," ujar Yaqut. (detikcom/d)