Jakarta (SIB)Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian mengatakan perilaku korupsi masih dianggap permisif oleh masyarakat di beberapa daerah. Tito mengatakan perilaku seperti ini perlu diubah dengan membentuk generasi muda saat ini lewat pendidikan antikorupsi."Menangani kasus-kasus extraordinary crime tidak bisa mengandalkan satu pilar, satu pedang, tetapi harus juga dilakukan langkah-langkah pencegahan, di antaranya pendidikan. Dan pendidikan menjadi kunci juga, karena apa? Karena di masa lalu perilaku koruptif itu dianggap permisif. Di beberapa daerah mungkin banyak yang beranggapan kalau ada pejabat kaya, 'ah wajar dia kaya', kalau ada pejabat yang sudah menjabat terus kelihatannya miskin, 'ya bodoh dia miskin'. Itu menunjukkan perilaku permisif secara tidak sadar," ujar Tito dalam Rakornas Pendidikan Antikorupsi bersama KPK di Gedung Kemendagri, Jakarta, Selasa (6/2).Tito kemudian menceritakan pengalamannya yang pernah menyekolahkan anaknya di Singapura. Dia mengatakan biaya sekolah di Singapura lebih murah dibanding di Indonesia, karena Singapura anggaran pendidikannya tinggi."Kalau sekolah swasta kan dibiayai ortu, sementara sekolah pemerintah itu disubsidi negara. Singapura negara tidak memiliki sumber daya alam, maka 30 persen anggarannya buat pendidikan, jadi nggak mungkin swasta bisa kalahkan sekolah negeri, karena uang negara lebih banyak daripada swasta," katanya.Mantan Kapolri itu juga mengatakan pendidikan di Singapura bagus untuk membentuk karakter anak. Anak yang sekolah di sana bisa lebih berkata jujur.Awalnya, dia menjelaskan kantin sekolah di Singapura itu disubsidi pemerintah, sehingga jajanan sekolah anaknya pada 2008 itu hanya sebesar 1 dolar Singapura. Suatu ketika, Tito memberi anaknya uang 5 dolar Singapura untuk jajan di sekolah, tapi kemudian uang itu ditolak anaknya."Ketika saya kemudian kebiasaan Indonesia saya pakai, istri saya ngasih 1 dolar per hari, suatu hari mereka saya kasih 5 dolar Singapura, mereka bilang 'untuk apa Pa', saya bilang 'untuk jajan', katanya 'lho jajan sudah cukup 1 dolar Singapura', jadi mereka menolak mau dikasih uang. Coba kita lihat beberapa, tes aja anak-anak kita malah, 'Pah butuh uang, Mah minta uang, butuh ini segala macam' yang sebetulnya tidak perlu, ini saya lihat ada bedanya," katanya.Selain itu, anak-anak Singapura lebih disiplin. Dia mencontohkan ketika anaknya taat peraturan lalu lintas."Terakhir pada waktu kita libur ke Jakarta, saya nyetir kendaraan, kemudian lampu di traffic light sudah kuning, saya tabrak saja, semua tiga-tiganya anak saya teriak masih SD itu, 'maaf, Pak, you against the law', saya bilang kenapa? Itu sudah hampir mau merah, 'yellow light, you against the law', 'you have to be a rule model of us', bapaknya harus jadi contoh bagi kami," tutur Tito.Dia mengatakan menceritakan pengalamannya itu karena mengingatkan pentingnya pencegahan korupsi melalui pendidikan. Menurutnya, perilaku korupsi bisa dicegah sejak dini dengan diterapkan pendidikan antikorupsi di sekolah-sekolah.Lebih lanjut, agar pendidikan antikorupsi ini benar-benar terwujud, Tito mengusulkan untuk menciptakan iklim kompetitif di setiap daerah. Seperti apa?"Saya sarankan kepada teman-teman kepala daerah di kabupaten kota dan juga provinsi buat iklim kompetitif dengan indikatornya mana kira-kira yang terbaik, bila perlu dibuat indeks tiap daerah tentang pendidikan antikorupsi yaitu mana sekolah terbaik, dan kurang baik," jelasnya.Dia mencontohkan bila suatu daerah memiliki indikator pendidikan antikorupsinya tinggi maka akan mendapat reward berupa tambahan insentif fiskal. Sementara daerah yang indikatornya rendah diumumkan agar publik mengetahui."Karena kalau kita seremonial selesai, tapi kalau baut indeks dan diberikan insentif fiskal, daerah yang indikator pendidikan antikorupsi sangat baik akan diberikan insentif fiskal, misalnya Rp 1 miliar, yang tidak baik umumkan saja, apalagi kalau ada bahwa nggak baik kemungkinan mohon maaf ini, kepemimpinan namanya satuan pendidikan ini kemungkinan bisa akan diganti, itu akan menciptakan iklim kompetitif sehingga kita harapkan gerakan antikorupsi sejak usia dini. Dan kami yakin ini akan pengaruh akan imbangi upaya penindakan," tambahnya.Sejak DiniDalam kegiatan itu, Tito Karnavian juga menekankan pentingnya Pendidikan Anti Korupsi (PAK) sejak dini. Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pemberantasan korupsi."Kita harapkan gerakan antikorupsi ini betul-betul sejak usia dini, dan kami yakin ini akan sangat berpengaruh, akan mengimbangi upaya penindakan, bahkan mungkin penindakan tidak perlu terjadi," katanya.Mendagri menekankan lembaga pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk karakter antikorupsi pada diri anak-anak. Untuk itu, anak didik mesti ditanamkan pemahaman tentang dampak negatif korupsi."Saran kami kepada teman-teman di sekolah, kalau kita ingin mendidik anak kita untuk mereka paham gerakan antikorupsi, bahwa korupsi itu adalah sesuatu yang tabu, sesuatu yang buruk dan negatif, itu harus ditanamkan kepada mereka (bahwa) melanggar itu adalah negatif," imbuhnya.Sebagai pembina umum pemerintah daerah (Pemda), Mendagri akan mendukung program kegiatan KPK, terutama edukasi antikorupsi untuk anak-anak usia dini dan remaja. Hal ini mengingat urusan pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak-Kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) merupakan kewenangan pemerintah kabupaten/kota; serta Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bawah wewenang pemerintah provinsi."Kami siap untuk mendukung KPK agar semua pemerintah daerah (sebanyak) 552, (yaitu) 38 provinsi, 98 kota, dan 416 kabupaten ini kita lakukan gerakan bersama untuk mendukung, termasuk di bidang pendidikan," tandasnya. (**)