Moskow (SIB)Presiden Rusia Vladimir Putin menang telak dalam pilpres yang berlangsung selama tiga hari hingga Minggu (17/3). Kemenangan Putin dalam mengalahkan tiga kandidat lainnya ini, akan memperkuat cengkeraman atas kekuasaan yang dipegangnya selama beberapa dekade terakhir.Dalam pidato kemenangannya, seperti dilansir Reuters, Senin (18/3), Putin menyebut, kemenangannya dalam pilpres menunjukkan bahwa Rusia sudah benar dalam menentang Barat dan mengirimkan pasukan ke Ukraina.Putin juga mengatakan kepada para pendukungnya bahwa dirinya akan memprioritaskan penyelesaian tugas-tugas yang terkait dengan apa yang dia sebut sebagai "operasi militer khusus" Rusia di Ukraina dan akan memperkuat militer Rusia."Kita mempunyai banyak tugas ke depan. Namun ketika kita melakukan konsolidasi - tidak peduli siapa yang ingin mengintimidasi kita, menindas kita - tidak ada seorang pun yang pernah berhasil dalam sejarah, mereka belum berhasil saat ini, dan mereka tidak akan pernah berhasil di masa depan," tegas Putin.Para pendukung kemudian meneriakkan "Putin, Putin, Putin" ketika dia muncul di panggung, dan berteriak "Rusia, Rusia, Rusia" setelah dia menyelesaikan pidato kemenangannya pada Minggu (17/3) waktu setempat.Menurut exit poll yang dilakukan lembaga survei Public Opinion Foundation (FOM), Putin meraup 87, 8 persen suara dalam pilpres tahun ini. Angka tersebut mencetak rekor sebagai hasil tertinggi dalam pilpres Rusia pasca runtuhnya Uni Soviet.Pusat Penelitian Opini Publik Rusia (VCIOM) juga melaporkan bahwa Putin memperoleh 87 persen suara setelah pilpres digelar selama tiga hari terakhir. Hasil resmi pertama yang dirilis otoritas Rusia menunjukkan bahwa laporan lembaga survei dan pusat penelitian itu akurat.Tingkat partisipasi pemilih secara nasional, menurut para pejabat otoritas pemilu Rusia, mencapai 74,22 persen ketika pemungutan suara diakhiri pada Minggu (17/3) waktu setempat. Angka itu melampaui angka tahun 2018 ketika tingkat partisipasi mencapai 67,5 persen.Amerika Serikat (AS), Jerman, Inggris, dan beberapa negara lainnya menuduh pemungutan suara dalam pilpres Rusia tidak bebas dan tidak adil karena adanya pemenjaraan terhadap lawan politik dan pemberlakuan sensor yang ketat.Kandidat capres dari Partai Komunis Federasi Rusia (CPRF) Nikolai Kharitonov menempati peringkat kedua dengan perolehan suara di bawah 4 persen. Sedangkan capres Vladislav Davankov dari Partai Rakyat Baru menempati peringkat ketiga, dan capres Leonid Slutsky dai Partai Demokrat Liberal Rusia (LDPR) ada di peringkat empat.Dengan hasil itu berarti Putin, yang kini berusia 71 tahun, akan kembali menjabat selama enam tahun ke depan sebagai Presiden Rusia. Hal tersebut akan membuatnya menggeser Josef Stalin dan menjadi pemimpin terlama di Rusia selama lebih dari 200 tahun terakhir, jika dia menyelesaikan masa jabatannya.Sementara itu, saat ditanya oleh jaringan televisi AS, NBC, soal apakah terpilihnya kembali dirinya sebagai presiden Rusia sudah demokratis, Putin melontarkan kritikan terhadap sistem politik dan peradilan AS."Seluruh dunia menertawakan apa yang terjadi (di Amerika Serikat). Ini sebuah bencana, bukan demokrasi," sebutnya."... Apakah demokratis jika menggunakan sumber daya administratif untuk menyerang salah satu calon Presiden Amerika Serikat, antara lain dengan menggunakan sistem peradilan?" tanya Putin, merujuk pada empat kasus kriminal yang menjerat capres Partai Republik Donald Trump yang menjadi rival Presiden Joe Biden dari Partai Demokrat dalam pilpres AS pada November mendatang.IngatkanVladimir Putin juga memperingatkan negara-negara Barat bahwa konflik langsung antara Moskow dan aliansi militer NATO pimpinan Amerika Serikat (AS) akan berarti planet Bumi selangkah lagi menuju Perang Dunia III. Namun, dia juga menyebut bahwa tidak ada yang menginginkan skenario seperti itu.Seperti dilansir Reuters, Senin (18/3), perang yang berlangsung di Ukraina telah memicu krisis terdalam pada hubungan Rusia dengan negara-negara Barat sejak Kritis Rudal Kuba tahun 1962 silam.Putin telah berulang kali memperingatkan risiko perang nuklir, namun juga mengatakan dirinya tidak merasa perlu untuk menggunakan senjata nuklir di Ukraina.Bulan lalu, Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan dirinya tidak bisa mengesampingkan pengerahan pasukan darat ke Ukraina di masa depan. Negara-negara Barat lainnya berusaha menjauhkan diri dari hal tersebut, sedangkan negara-negara lainnya, terutama Eropa Timur, menyatakan dukungannya.Saat ditanya oleh Reuters soal pernyataan Macron itu dan soal risiko serta kemungkinan konflik Rusia-NATO, Putin menjawab: "Segalanya mungkin terjadi di dunia modern.""Jelas bagi semua orang, hal ini akan menjadi selangkah lagi dari Perang Dunia Ketiga skala penuh. Saya pikir hampir tidak ada orang yang tertarik dengan hal ini," ucap Putin saat berbicara kepada wartawan setelah dirinya menang telak dalam pilpres Rusia.Putin menambahkan bahwa, meskipun personel militer NATO sudah hadir di Ukraina, pasukan Rusia mendeteksi penggunaan bahasa Inggris dan Prancis di medan pertempuran."Tidak ada yang baik dalam hal ini, pertama-tama bagi mereka, karena mereka meninggal di sana dan dalam jumlah yang besar," sebutnya.Lebih lanjut, Putin mengharapkan Macron menghentikan upaya-upaya memperburuk perang di Ukraina, dan lebih memainkan peran dalam mewujudkan perdamaian."Tampaknya Prancis bisa memainkan peran. Semuanya belum hilang," cetusnya."Saya telah mengatakannya berulang kali dan saya akan mengatakannya lagi. Kami menginginkan perundingan damai, tapi bukan hanya karena musuh kehabisan peluru," ucap Putin."Jika mereka benar-benar ingin membangun hubungan bertetangga yang damai dan baik antara kedua negara dalam jangka panjang, dan tidak hanya melakukan jeda untuk mempersenjatai kembali pasukannya selama 1,5 tahun hingga 2 tahun," imbuhnya.Pecahkan RekorKomisi Pemilihan Umum (KPU) Rusia pada Senin (18/3) memuji apa yang dikatakannya sebagai hasil rekor untuk Presiden Vladimir Putin dalam Pilpres Rusia 2024.Hasil resmi dari pemungutan suara selama tiga hari pada Jumat-Minggu (15-17/3), menunjukkan Putin yang berusia 71 tahun menang telak dengan memperoleh hampir 76 juta suara. "Ini adalah angka rekor," kata Ketua KPU Rusia, Ella Pamfilova, setelah lebih dari 99 persen suara dihitung."Jumlah pemilih mencapai rekor, yakni mencapai 77,44 persen yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini belum pernah terjadi dalam sejarah Rusia yang baru," tambahnya, dikutip dari AFP."Kami membuktikan kepada diri kami sendiri bahwa kami adalah bangsa yang merdeka... dan dalam menghadapi Barat, kami menunjukkan bahwa kami bersatu. Kami bangga akan hal ini," kata Pamfilova.Putin hampir pasti akan memenangkan pemilihan kembali, setelah membungkam atau memenjarakan semua lawan-lawan utamanya. Kremlin telah menjadikan pemilu ini sebagai momen bagi rakyat Rusia untuk mendukung operasi militer berskala besar di Ukraina, yang kini telah memasuki tahun ketiga.MENENTANGSementara itu, kritik terhadap hasil Pilpres Rusia 2024 datang dari Barat. Jerman misalnya, menyebut Pilpres Rusia sebagai pemungutan suara tanpa pilihan. Menteri Luar Negeri Jerman Annalena Baerbock pada Senin mengatakan hal tersebut setelah semua oposisi sejati dibungkam."Proses pemilu menunjukkan perilaku keji Putin terhadap rakyatnya sendiri. Pemilu di Rusia adalah pemungutan suara tanpa pilihan,” kata Baerbock dalam pertemuan di Brussels.Sementara, Perancis mengatakan pemilu yang memperpanjang kekuasaan Putin selama enam tahun lagi berlangsung di tengah “penindasan”, dan memuji “banyak” orang Rusia yang menunjukkan penolakan mereka.Dikutip Reuters, Amerika Serikat, Inggris, Jerman, dan beberapa negara Barat lainnya menentang hasil pemilu Rusia dan menyebut Putin telah berlaku curang."Pemilu ini jelas tidak bebas dan adil mengingat Putin telah memenjarakan lawan politik dan mencegah orang lain mencalonkan diri melawannya," kata Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.Menteri Luar Negeri Inggris David Cameron mengatakan dalam sebuah posting-an di X: "Pemungutan suara tersebut tidak seperti pemilu yang bebas dan adil."Di Ukraina, Presiden Volodymyr Zelensky berkata, "Kecurangan pemilu ini tidak memiliki legitimasi dan tidak dapat dibenarkan."Ucapkan SelamatSementara itu, Pemerintah China, sekutu utama Rusia, menyampaikan ucapan selamat untuk Presiden Vladimir Putin yang menang telak dalam pilpres di negara tersebut. Beijing meyakini hubungan dengan Moskow akan terus maju di bawah kepemimpinan Presiden Xi Jinping dan Putin."China mengucapkan selamat atas hal ini," ucap juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, ketika ditanya soal pilpres Rusia dalam konferensi rutin di Beijing, seperti dilansir AFP, Senin (18/3)."China dan Rusia merupakan tetangga terbesar masing-masing dan mitra kerja sama strategis yang komprehensif di era baru," sebut Lin dalam pernyataannya."Kami sangat meyakini bahwa di bawah bimbingan strategis Presiden Xi Jinping dan Presiden Putin, hubungan China-Rusia akan terus bergerak maju," ucap Lin dalam pernyataannya, sembari menekankan bahwa tahun ini menandai peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara kedua negara."Kedua kepala negara akan terus mempertahankan interaksi yang erat, memimpin kedua negara untuk terus menjunjung persahabatan baik-bukan-tetangga yang telah terjalin sejak lama, memperdalam koordinasi strategis yang komprehensif, dan mendorong perkembangan berkelanjutan terhadap hubungan China-Rusia di era baru," imbuhnya. (**)