JK: Mengelola Haji Butuh Manajemen Kuat

- Jumat, 07 Februari 2014 09:54 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/02/hariansib_JK--Mengelola-Haji-Butuh-Manajemen-Kuat.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/int
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla
Jakarta (SIB)- Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, penyelenggaraan ibadah haji membutuhkan manajemen kuat, karena di dalamnya menyangkut banyak hal mulai dari urusan logistik hingga kesiapan lainnya.Berbeda dengan penyelenggaraan pariwisata ataupun turis, operasi militer. Penyelenggaraan haji menyangkut kesiapan logistik dan ketepatan waktu, kata JK sapaan Jusuf Kalla pada peluncuran buku "Tangan Tak Terlihat" karya Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umruo (PHU) Anggito Abimanyu di Jakarta, Rabu.Hadir pada saat itu Dirjen Pajak Fuad Rahmany, Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) Slamet Effendi Yusuf, Ketua Umum Baznas Didin Hafidhuddin,   pengusaha Chairul Tanjung. Juga Haidar Bagir CEO Kelompok Mizan dan sejumlah undangan lainnya.Acara berlangsung santai dengan diselingi humor baik yang datang dari penulis buku tersebut, Anggito Abimanyu maupun yang dilontarkan JK.Menurut Jusuf Kalla, ia sudah menunaikan ibadah haji pada 1947, ketika masih kecil bersama orang tuanya. Dulu, lama sekali berada di laut karena pergi haji transportasi yang ada hanya itu.Terkait dengan buku karya Anggito, ia mengatakan, dua tahun lalu ketika Anggito diangkat jadi Dirjen PHU banyak orang terkejut. Tidak percaya. Dari namanya saja tak yakin, katanya yang disambut tawa hadirin.Tetapi, belakangan, memang mengelola haji tidak melulu menyangkut manasik haji saja. Ternyata lebih banyak lagi menyangkut urusan logistik. Operasi militer seperti di Aceh tak lebih melibatkan 20 ribu orang personil. Tapi, untuk penyelenggaraan haji lebih dari 200 ribu orang. Karena itu, penyelenggaraannya pun berbeda dengan pariwisata.Penyelenggaraannya pun terikat dengan waktu. Jika turis terlambat hal itu bisa dipahami. Namun untuk haji, jika telat akan berisiko. Tidak bisa diundur."Karena itu, penyelenggaraan haji butuh manajemen yang kuat," ia menegaskan.Ia pun mengingatkan bahwa pengelolaan dana haji harus membawa keuntungan bagi jemaah. Berbeda dengan dahulu, sekarang calon haji membayar dahulu lantas baru bisa berangkat 10 atau 14 tahun mendatang sesuai daftar antrian. Jika dana haji disimpan di Sukuk atau deposito, tentu akan membawa kerugian. Terlebih lagi nilai tukar rupiah dengan dolar semakin tidak menggembirakan.Hal ini perlu dicarikan solusi. Jika dilihat dari regulasinya tak memungkinkan, harus diupayakan sehingga dana tersebut itu membawa manfaat besar bagi jemaah. Tabung haji di Malaysia bisa diinvestasikan di perkebunan di Riau. "Jadi, selama bisa membawa manfaat bagi umat, tentu dana haji di tanah air bisa dioptimalkan," JK mengimbau.Perlu dibacaKH Didin Hafidhuddin dalam sambutannya menyatakan, buku karya Anggito Abimanyu perlu dibaca baik oleh yang ingin menunaikan pergi haji maupun yang sudah menunaikan ibadah haji. Pasalnya, buku tersebut selain sebagai inspirasi meningkatkan kesalehan sosial juga untuk memetik hikmah dari ritual haji.Membaca buku Tangan Tak Terlihat, kata Didin, ada aspek ritual haji yang bisa membawa manusia ke arah peradaban lebih maju dengan ditunjang ilmu. Haji adalah ibadah dan peradaban sebagaimana diajarkan Nabi Muhammad SAW. Karena itu seorang yang telah pulang haji punya wajah baru, pikiran baru, sikap dan gaya hidup baru. Itulah salah satu manfaat dari berhaji.Ia menilai Anggito telah membawa penyelenggaraan haji pada jalur yang benar. Dua tahun terakhir penyelenggaraan haji berlangsung baik. "Kita berharap, ke depan, jemaah tak mengeluh lagi kesulitan untuk beribadah di masjidil haram karena jaraknya jauh," ia menambahkan.Sementara itu Anggito dalam sambutannya mengakui buku tersebut ditulis selama berada di Tanah Suci pada penyelenggaraan haji 2013 lalu. Buku tersebut berbeda dengan karya buku lainnya, yang lebih banyak menyoroti soal keuangan. (Ant/f)


Tag:

Berita Terkait

Headlines

20 Tahun Kliniix Slimm, Perjalanan Panjang Ketekunan dan Inovasi Tanpa Henti

Headlines

PMI Peduli Anak : Bantuan Psikososial Pascabencana

Headlines

Jusuf Kalla Kunjungi Tapteng : Pemerintah Harus Fokus Pemulihan Pascabencana

Headlines

Mafia Usik Tanah Milik Wapres Jusuf Kalla, Diduga Diserobot Anak Perusahaan Lippo Group

Headlines

Jusuf Kalla, Nasaruddin Umar, dan Arsjad Rasjid Serukan Pesan Perdamaian di Roma

Headlines

Kejagung Usut Dugaan Korupsi Konsesi Tol Cawang-Pluit oleh Perusahaan Jusuf Hamka