Laguboti (SIB)- Martogi Sitohang dan Merdi Sihombing kolaborasi seruling dan ulos di Medan pada Jumat, 5 Agustus di Fisip USU. Penampilan pria berjuluk Seruling Sang Guru dan designer yang membawa ulos ke New York Fashion Week itu sebagai bagian dari menyosialisasikan ulos dalam kehidupan modern tapi tidak tercerabut dari akar budaya Batak. "Kali ini, kolaborasi seruling dan ulos ditampilkan dengan audiens akademisi dan praktisi tapi kemasannya seperti pertunjukan," ujar Ketua Panitia Seminar Nasional Kajian Akademik Ulos Murni Huber Tobing di Kompleks IT DEL Balige, Sabtu (23/7).Menurut aktivis lingkungan itu, ulos dan seruling, khususnya dalam kehidupan orang Batak, memiliki filosofi yang tak dapat dipisahkan dalam kehidupan. "Bagaimana pula kedua warisan leluhur itu harus tetap melekat dan tumbuh subuh kini dan selamanya," tegas perempuan penerima beasiswa jurnalistik Jerman itu.Didampingi sejumlah penggiat etnik seperti Ketua Yayasan Pusuh Buhit Effendy Naibaho, sekretaris kegiatan Rytha Tambunan, penggiat seni dari Jakarta Hudson Markiano Hutapea, Murni Tobing menjelaskan, dalam kegiatan tersebut seniman beda genre itu menampilkan sejumlah kemampuan dari sisi musik, seni suara dan peragaan ulos karya Merdi Sihombing dari bahan ramah lingkungan seperti pewarnaan alami.Murni Tobing bilang, dalam hal kajian akademik, menjadi pembicara Prof Dr Syaad Afifudddin SE MEc, antropolog Rytha Tambunan, pendeta HKBP Pdt Nelson Siregar termasuk Merdi Sihombing baik sebagai fashion design ulos maupun dalam kapasitas community development serta peneliti ulos. "Kegiatan dimaksudkan agar warisan leluhur Bangso Batak tak sekadar dilestarikan tapi menjadi bagian kehidupan di era globalisasi. Kekuatan kearifan lokal pada warisan tersebut diyakini dapat menjadi industri dan penguatan ekonomi!"Murni Tobing mengatakan, sejalan dengan program Pemerintah menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata yang diarahkan menjadi Monaco of Asia, maka warisan leluhur tersebut harus dimaksimalkan termasuk ulos. Dalam maksud pemberdayaan, partonun adalah perempuan maka dilibatkan forum pemberdayaan perempuan yang diketuai Oslyne Pasaribu. "Selain ingin menggali maksimal, baik sebagai warisan sejarah maupun dari kreativitas seni serta pemberdayaan untuk penguatan ekonomi, acara juga ingin menyosialisasikan ulos!"Menurutnya, kegiatan terbuka untuk umum tapi diharapkan yang hadir membawa, memiliki motivasi untuk makin memperkaya dalam memajukan warisan budaya tersebut. (R9/q)