Pematangsiantar (SIB) -Tiap menjelang Paskah, Pastor Daniel Erwin Manullang OFMCap ingat akan perjalanan hidup Yesus Kristus. Bukan karena seorang biarawan tapi sejak dulu, ketika masih muda, panggilan hatinya melayani sesama. Itulah sebabnya, ketika mengikuti rangkaian prosesi kebangkitanNya, kidung Kisah Sengsara Yesus menyesap ke hatinya. "Banyak lagu yang memberi sensasi profetik tapi kidung yang dilantunkan menjelang prosesi penyaliban itu sangat menginspirasi," ujarnya dalam perjalanan Pematangsiantar ke Medan didampingi tokoh pemuda Katolik Antonius Tumanggor, Rabu (12/4). Sebelumnya, keduanya melakukan perjalanan rohani ke Kalimantan.Tiap momen hari besar agama, Ps Erwin memiliki kidung favorit. Dimulai dari Rabu Abu sebagai hari pertama pra-Paskah, Minggu Palma, Kamis Suci, Jumat Agung hingga Paskah memiliki nuansa masing-masing. "Masa kecil dan remaja saya dilewati dalam lingkungan gereja. Jadi, yang terekam adalah nyanyi rohani," ujarnya.Terlahir di Medan pada 20 Oktober 1968, sebagai putra 4 dari 6 orang sekeluarga putra pasangan Marlon JC Manullang - Clara Br Pasaribu. Menimba ilmu di SD Budi Murni Jalan Merapi, melanjut ke SMP Budi Murni 1.Masih dalam usia muda tapi sudah terlibat dalam kegiatan gereja. Masuk anggota Misdinar (sekarang disebut Putra Altar) Gereja Katolik Maria Tak Bernoda Asal. Semua acara di gereja yang berada di Jalan Pemuda Medan itu diikutinya. Padahal, rekan seusianya di lingkungan tempatnya tinggal, di Jalan Pelita 1 Lr Toba -Kp Durian Medan berkubang dengan kesenangan masing-masing. Hal tersebut tak membuatnya terasing. Tatkala hendak melanjut dan ada seleksi masuk SMA Seminari, Ps Erwin dinyatakan lulus.Menimba ilmu di asrama kepastoran mulai tahun 1984 mendatangkan enerji baru baginya. "Hidup di asrama seminari, pas-pasan tapi begitu bahagia karena semua dicukupkan. Seperti firman itu," kenangnya.Menjadi terbaik dan beroleh jalur cepat masuk serta lulus di PTN ternama, Ps Erwin bimbang karena ayahnya ingin anaknya masuk ke perguruan populer. Ibunya yang mendorong bahkan membisikkan padanya bahwa kehidupan orang yang paling dikasihinya itu akan bahagia bila anaknya menjadi biarawan.Dalam pergumulan tersebut, Ps Erwin berkomunikasi dengan hatinya sendiri. "Saya seperti berbicara dengan Yesus. Suara di hati itu minta saya untuk menjadi biara. Suara itulah yang membuat langkah saya menjadi iman semakin kuat!"Itulah sebabnya ketika menimba ilmu di STFT St Yohannes Pematangsiantar dapat dilalui dengan mudah. Ketika ditahbiskan sebagai iman di Rumah Retreat Nagahuta, Simalungun pada 9 Januari 1999, Ps Erwin merasa hidupnya sangat berarti tatkala memberi pemberkatan pertama pada kedua orangtuanya disaksikan kerabatnya. "Almarhum ayah saya pun mengaku bangga atas panggilan imamat saya. Padahal, sebelumnya ia ingin anaknya sukses di dunia sekuler. Ibu saya menangis ketika anaknya yang sudah dihibahkannya pada gereja memberkatinya," kenangnya.Kesuksesan dalam hal iman dan pendidikan semakin direngkuhnya. Ps Erwin dapat penugasan menimba ilmu di Universitas St Thomas Manila di Filipina. Ragam tugas hierarki gereja diembannya. Mulai menjadi Direktur Seminari Pematangsiantar hingga manajer keduniawian.Kini, saat Paskah tiba, masa-masa indah saat kecil di gereja terkudak di benaknya. Mulai dari merasa menyatu dengan Yesus Kristus tatkala kidung Kristus Cahaya Dunia dimadahkan saat misa hingga memaknai mujizat di duniawi seperti lagu Mujizat Itu Nyata - Bejana Tanah Liat diperdengarkan. Satu yang tak pernah lekang dari prinsipnya seperti nats Mazmur bahwa Tuhan akan melindungi setiap orang yang setia padaNya. (T/R10/f)