Medan (SIB) -Darto Keling masih kehilangan sehubungan 'adiknya' jadi korban longsor di Pemandian Daun Paris Raja Berneh, Kabupaten Karo, Minggu (2/12). Meski sepekan berlalu, seniman yang membawa genre rock dalam seni Karo itu, tetap belum yakin Sartika Theresia Br Pinem telah pergi untuk selamanya. "Tika itu anak kakak saya. Mamanya, Sri Ulina Br Ginting, menitipkan pada orangtua kami hingga diposisikan sebagai anak. Jadi, Tika itu adik saya, adik termanis..." ujarnya di Kompleks Tugu Guru Patimpus Medan, sesaat meletakkan bunga dan lilin dalam aksi 'Seribu Lilin untuk Korban'.
Sebagaimana diketahui, 7 orang mahasiswa Unpri meninggal dan 9 lainnya mengalami luka-luka pasca longsor dan tembok Pemandian Daun Paris Raja Berneh runtuh. Selain Tika, enam lainnya adalah Sindy Simamora, Kery Bangun, Mones Hia, Elsa Sari Sembiring, Emiya Leli Sagita Tarigan dan Angelina Melita Ginting.
Kenangan Darto Keling pada Tika sangat membekas. Sebelum konser ke sejumlah negara ASEAN selama November, Tika menghubunginya, mengingatkan bahwa seluruh kebaya dan doble dress sudah dipesan. Seragam tersebut untuk pesta adat Darto yang diagendakan diadakan 19 Januari 2019. "Saya yakin, Tika akan memakai kebaya itu di Api Pencucian, di rumah Bapa," kenangnya.
***
Tika lahir di Berastagi, pada 2 Oktober 1997. Mamanya menitipkan putrinya pada orangtuanya, Darma Ginting - Ny Peringeten Br Purba. Sejak kecil menganggap bulang sebagai papanya dan mamanya sebagai abangnya.
Ketika menimba ilmu di SD Merdeka 040071 Desa Merdeka, Brastagi, Darto yang jadi juru antar Tika. Termasuk saat melanjut ke SMPN 1 Brastagi dan SMA Katolik 2 Kabanjahe. "Tika itu gadis mandiri. Kritis dan berprestasi," cerita Darto.
Semasa remaja, aktif di organisasi. Menjadi anggota Paskibra dan bergabung dalam Orang Muda Katolik Stasi Merdeka - Brastagi. "Saya yang seniman, tidak seluwes Tika dalam pergaulan," ujarnya. "Para biarawan pun sangat dekat dengannya. Saya pernah berpikir Tika ingin jadi suster!"
Selain fokus sekolah, Tika pun aktif dalam seni etnik. Tika kerap menjadi artis pengisi dalam pesta Perkolong-kolong orang muda Karo. Saking komit pada budaya leluhur, bila ada waktu luang di jeda kuliah, Tika bersedia ke kampung untuk mengisi pentas musik. Bahkan dalam kondisi tubuh kurang fit, tetap berkesenian. Tetapi tetap memrioritaskan studi. "Tika hendak melanjut pendidikan di Jakarta tapi ayah saya melarang dan 'menitipkan' di dekat saya di Medan," ujarnya.
Ada satu video yang membuat Darto tak dapat menahan tangis. Di video yang diperolehnya dari HP 'adiknya' dalam posisi sakit, Tika mengucapkan selamat ulang tahun pada kawannya. "Kesibukan saya show membuat tak tahu bahwa Tika sakit. Tapi itu membuktikan Tika perempuan mandiri," ujarnya.
Sebelum hari naas, Tika menghubungi Darto. Banyak cerita yang disampaikan tapi semuanya berujung manja-manja. Beberapa saat sebelum insiden, Tika sangat riang dan minta difoto-foto serta divideokan. "Menurut kawannya, sebentar lagi wajah Tika akan berubah. Dan itu benar, wajah Tika menjadi bersinar karena sudah dalam pangkuanNya," ingatnya.
Ditinggalkan Tika untuk selamanya membuat Darto tidak bersemangat. Dalam posisi tak yakin, ia terus berziarah dan berdoa di makam 'adiknya' di Desa Merdeka Brastagi. "Saya bingung sendiri. Di satu sisi tak yakin atas panggilanNya pada 'adik; saya tapi saya yang mengantar Tika di pemakaman dan rutin berziarah," desisnya.
Kehilangan Tika pun membuat Darto mati kreativitas. Biasanya, bila sedih datang, menjadi inspirasi tapi kepedihan kali ini membuat vakum. "Saya terus berdoa. Dalam doa itu rasanya Tika hadir, cerita soal kebaya yang dipesannya untuk pesta saya," sebutnya sambil mengatakan insiden itu pun kemungkinan membuat pesta adatnya tidak dilaksanakan.
Dalam duka, Darto minta pada semua orang, khususnya Ikatan Mahasiswa Karo untuk terus mendoakan orang-orang yang dipanggilNya teristimewa para korban di Daun Paris - Raja Berneh. "Kiranya, tidur panjang Tika menjadi media bagi saya untuk semakin dekat denganNya!" (R10/f)