Parapat (SIB)
Debora Hutasoit speechless dan mengaku surprise ketika ketemu Ketua Dewan Pembina Gereja Pentakosta (GP) di Hotel Hermina Retreat Parapat - Simalungun, Selasa (11/2). Ketika itu ia mewakili Bupati Simalungun menghadiri Rapimnas GP 2020. “Waktu saya kecil, ompung cerita tentang seorang bankir yang sangat religi. Ingatan saya terbuka akan cerita lebih dari setengah abad lalu. Saya sekarang ada di depan orang yang bersangkutan,†ujar perempuan yang menjabat sebagai staf Ahli Bupati Simalungun Bidang Ekonomi Pembangunan.
Ia berdiri disamping Pdm Elfrida Mariati Aritonang STh. Mengingat masa muda, Debora mengidungkan lagu rohani mengikuti nyanyian yang dilantunkan putri Residen Dairi RM Aritonang yang sesepuh HKBP tersebut. “Tapi ompung boruku ini sekarang punya tanggung jawab besar karena menjadi Ketua Umum Perhimpunan Wanita (PW) GP,†tunjuknya pada Pdm EM Br Aritonang STh.
Keduanya pun bernostalgia dengan kidung-kidung yang memberi kesejukan pada hatinya.
Humas Panitia Pbs Hamonangan Sinaga SPd via emailnya mengatakan, pertemuan kedua perempuan hebat tersebut seperti membuka kenangan masa lalu dan menatap masa depan dengan kekuatan iman.
Pdm EM Aritonang mengatakan, dalam perjalanan pribadi, tiap individu harus mengubah pandangan dan tindakannya ke arah yang lebih sempurna di mana manusia dan direstuiNya. “Idealnya, sejak kecil pribadi-pribadi terus berpegang padaNya,†paparnya.
Ia ingat apa yang dijalani pahompunya, Abraham Lukti Gregory Purba yang beroleh muzizatNya. Sejak balita sudah dirawat dan divonis dokter dengan kemungkinan risiko yang menakutkan tapi kuasaNya yang bekerja. “Bram tak hanya sembuh tapi menjadi inspirasi semakin kuat memuliakanNya,†ceritanya.
Ia berharap anak Sekolah Minggu sejak dini lebih didekatkan dengan akhlak terpuji yang berpijak pada semangat bertuhan. Pada Kabiro Pemuda dan Sekolah Minggu GP Pdt Drs M Tampubolon MPdK, Pdm EM Aritonang minta ada pembinaan terarah.
Hal lain, dalam mengadopsi kearifan lokal, Pdm EM Aritonang kerap mengangkat tema etnik dalam kidung kemuliaan. Alasannya, tak sedikit lagu etnik yang muaranya adalah ketuhanan, seperti ‘Ujung Ni Ngolukkon Ma Nian’ yang menghormati orangtua seperti perintahNya. (R10/f)