Aktivis Blokir Jalan Masuk ke London Fashion Week

Redaksi - Rabu, 19 Februari 2020 21:23 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_3289_Aktivis-Blokir-Jalan-Masuk-ke-London-Fashion-Week.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
jatonribes.com

London (SIB)

Aktivis gerakan kampanye kepunahan menyerukan penyelenggaraan London Fashion Week dibatalkan. Aksi peduli lingkungan dengan pemblokiran jalan di luar tempat acara fesyen dua kali setahun itu pada Minggu (16/2). Meski demikian, acara yang diadakan hingga Rabu (19/2) tetap berlangsung dengan gemerlap.

Media setempat melaporkan, peserta demonstrasi menolak memberi jalan di persimpangan ramai menuju Strand di Westminster, London. Sebelum protes jalanan, undangan demonstrasi dipublikasi di Facebook. “Bergabunglah bersama kami di jalan-jalan di London Fashion Week untuk menuntut musim ini agar orang-orang peduli kelanjutan kehidupan di Bumi,” tulis undangan tersebut.

Menyusul itu, aktivis melakukan aksi kreatif dengan penampilan musik, pencetakan blok, pidato dan kegiatan keluarga. “Mari kita gunakan kekuatan kreativitas untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” tulis undangan itu sambil memastikan industri pakaian menyumbang 7 persen dari emisi gas rumah kaca global, hampir sama dengan total emisi Uni Eropa. Gerakan itu meminta industri menghentikan kelebihan produksi dan konsumsi berlebihan yang mengancam makhluk hidup lainnya yang terdampak emisi gas.

Aktivis meminta industri mengatasi iklim dan ekologi krisis dengan cara yang bermakna dan adil.

Selama demonstrasi, pengunjuk rasa membawa plakat bertuliskan, “Tidak ada lagi busana palsu dan tidak ada busana di planet mati.” Beberapa peserta aksi mengenakan pakaian yang terbuat dari rantai.

Koordinator gerakan Sara Arnold mengatakan ketika London adalah rumah bagi desain terdepan dan berkelanjutan yang etis, London Fashion Week tertinggal. “Meskipun memiliki program keterlibatan politik aktif, Anda hampir tidak melakukan apa pun untuk melobi kebijakan lingkungan, dengan itu transisi dengan urgensi yang kita butuhkan tidak mungkin (terwujud),” ujarnya.

Menurutnya, semua orang telah gagal, karena itu kepemimpinan radikal untuk lingkungan sangat dibutuhkan. Dia meminta British Fashion Council (BFC), selaku administrator industri yang ditunjuk, segera menemukan kekuatan dan keberanian memusatkan proses dan protokol visioner, tanpa penundaan. Jika BFC tidak membatalkan London Fashion Week berikutnya pada September, gerakan tersebut mengancam membangun tekanan dan meningkatkan tindakan.

Juru bicara kelompok kampanye kesejahteraan hewan dari Animal Rebellion Angela Duncan beranggapan bahwa “pengecer” memiliki tanggung jawab untuk melindungi lingkungan. “Kita harus bersemangat untuk menjadi kreatif dan inovatif dengan pakaian, tidak hanya dalam gaya, tetapi dalam produksi pakaian,” ujarnya.

Ia beranggapan London Fashion Week menjadi tempat untuk memimpin dan memberi contoh tentang mengubah cara orang memahami mode. Tantangan itu menurut dia merupakan impian bagi para seniman.

Pada Selasa (18/2), diparadekan karya-karya teranyar rancangan para desainer kondang.

Koleksi musim gugur/musim dingin 2020 yang beragam dari para desainer dapat menjadi inspirasi segar untuk gaya berbusana kekinian. Republika.Co.Id melaporkan, Victoria Beckham membangkitkan ingatan saat masih menjadi personel grup vokal Spice Girls. Istri pesepak bola David Beckham itu menghadirkan alas kaki platformed boots yang dulu kerap dikenakan Spice Girls dan beken pada era 1990-an.

Richard Quinn memesona publik dengan rancangan istimewa. Perancang busana berusia 30 tahun yang dijuluki pangeran desain print ini memukau dengan busana-busana new-age couture. Beberapa yang menonjol adalah gaun bertabur ribuan kristal Swarovski dan gaun A-line bermotif polkadot.

Hal serupa ditunjukkan Molly Goddard. Ciri khas desain yang selalu ada pada rancangan desainer Molly Goddard adalah berbagai modifikasi tulle. Pada Pekan Mode London 2020, Goddard mengombinasikannya dengan teknik rajutan tradisional Fair Isle sehingga semakin manis. (T/R10/d)

Berita Terkait

Hiburan

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Hiburan

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Hiburan

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan

Hiburan

Ramadan 1447 H, Pemkab Labura Ajak 8 Ustadz Kunjungi Delapan Masjid

Hiburan

Sungai Simanggar Alami Sedimentasi, Bupati Batubara Minta Penanganan Cepat PSDA Provinsi Sumut

Hiburan

Sebulan Diburon, Polsek Tanjungmorawa Tangkap Pelaku Curanmor