Aksi Teaterikal Seniman Tolak Revitalisasi TIM

Redaksi - Rabu, 19 Februari 2020 21:25 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_1451_Aksi-Teaterikal-Seniman-Tolak-Revitalisasi-TIM.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
news.detik.com

Jakarta (SIB)

Sejumlah seniman melakukan aksi teaterikal sebagai upaya menolak revitalisasi Taman Ismail Marzuki di Jakarta, Minggu (16/2). Aktivitas dilakukan di tengah gerimis sekitar 500 meter dari pintu masuk. Mereka tak setuju dengan revitalisasi yang sedang digarap.

Perwakilan Forum Seniman Peduli TIM Gultomtewe mengatakan, revitalisasi TIM akan membuat kawasan tersebut menjadi komersial. Padahal, lanjutnya, Gubernur Jakarta Ali Sadikin kala itu membangun TIM pada tahun 1968 untuk para seniman agar dapat berkreatifitas. Ali Sadikin ingin Jakarta tidak hanya tumbuh sebagai kota dagang dan politik, melainkan juga sebagai pertumbuhan seni budaya. "TIM ini taman khusus, rumahnya para seniman, tempatnya berkarya, rumah budaya, cagar budaya yang tidak boleh dikomersialkan. Kalau kita bicara budaya, kita membicarakan nilai-nilai. Semestinya pemerintah mendukung, bukan mengubah menjadi komersial," tuturnya seperti disiarkan VoaIndonesia.Com.

Gultom mencontohkan salah satu kekhawatiran terhadap dampak komersialisasi TIM yaitu mahalnya biaya sewa pertunjukan. Para seniman khawatir tidak dapat menyewa sejumlah tempat pertunjukan yang selama ini masih terjangkau oleh TIM. Di samping itu, ia juga mengkritik rencana pembangunan hotel bintang lima yang menurutnya tidak sesuai dengan wilayah peruntukan TIM yakni sebagai pusat kebudayaan. "Sekarang ini pertunjukan, teater kecil itu harganya Rp3 juta, Graha Bhakti Budaya cuma Rp5 juta.

Bilamana ini dikomersialisasikan mungkin harganya bisa 10 kali lipat. Misalnya teater kecil bisa saja sampai Rp25 juta, Graha Bakti mungkin bisa sampai Rp60 juta. Apakah seniman mampu," tambahnya.

Lelaki pemain drama itu juga menyesalkan pembongkaran Graha Bhakti Budaya yang semestinya sudah layak dijadikan cagar budaya. Menurutnya, pihaknya tidak pernah diajak diskusi dengan Pemprov DKI Jakarta terkait rencana revitalisasi TIM.

Kendati proyek revitalisasi sudah berjalan, Gultom berharap Gubernur DKI setidaknya mau mencabut Pergub 63 Tahun 2019 yang memberi wewenang pada Jakpro sebagai pengelola TIM selama 28 tahun mendatang.

Direktur Operasional Jakarta Propertindo (Jakpro), Muhammad Taufiqurrachman membantah jika tidak melibatkan para seniman dalam pembahasan revitalisasi TIM. Menurutnya, sejumlah seniman terkenal seperti Radhar Panca Dahana, Taufiq Ismail, Clara Sinta Rendra dan pengelola buku di TIM dilibatkan. Taufiq juga menegaskan siap berdiskusi dengan kelompok seniman yang menolak revitalisasi seperti Forum Seniman Peduli. (T/R10/d)

Berita Terkait

Hiburan

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Hiburan

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Hiburan

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan

Hiburan

Ramadan 1447 H, Pemkab Labura Ajak 8 Ustadz Kunjungi Delapan Masjid

Hiburan

Sungai Simanggar Alami Sedimentasi, Bupati Batubara Minta Penanganan Cepat PSDA Provinsi Sumut

Hiburan

Sebulan Diburon, Polsek Tanjungmorawa Tangkap Pelaku Curanmor