Medan (SIB)
Said Aldi Al Idrus memperindah koleksi kerisnya yang hingga Kamis (20/2) lebih dari 9 ribu bilah. Keris-keris khas Melayu Arab tersimpan di galeri pribadinya yang tersebar di Toronto - Kanada, Amsterdam - Belanda, Phnom Penh - Vietnam, Kuala Lumpur dan sejumlah kota di Malaysia hingga Sungai Kolok - Thailand. Untuk di Medan, berada di Gallery Raja Keris Jalan Brigjen Katamso 41 C Medan, satu atap dengan Sekretariat Dunia Melayu Dunia Islam.
Di tengah persiapan peresmian galeri dan sekretariat yang diagendakan dilakukan Presiden DMDI Tan Sri HM Ali Rustam dari Melaka - Malaysia, Said mengatakan apa yang dilakukannya sebagai upaya mengembalikan kejayaan keris Melayu dan mendekatkannya dengan kaum milenial. “Kalau dibilang miris, ya... sedih. Generasi muda di Indonesia, apalagi kaum milenialnya, makin terpinggirkan dari keris. Beda dengan di Malaysia. Padahal, keris Melayu itu sama dan sebangun dengan kebudayaan yang terkolaborasi dengan budaya Arab,†ujarnya didampingi sejumlah mpu seperti Anwar Shah Rambe, Ari Putra dan Dirop Gallery Raja Keris Said Idris.
Secara pribadi, Said mengaku apa yang dilakukan sebagai tanggung jawabnya yang berdarah keturunan langsung Sultan Kualuh.
“Saya tahu persis keris di masa Kesultanan Kualuh di mana sebagai alat mengusir kolonial. Peninggalan monumental Kesulatanan Kualuh antaranya Masjid Raya Al Haji Muhammad Syah yang merupakan masjid bercorak Melayu yang didirikan oleh Sultan Kualuh III Al-Haji Muhammad Syah pada tahun 1937. Di sana ada keris menjadi pusaka,†tambah aktivis yang menghabiskan lebih separo usianya untuk membina kaum muda di ASEAN tersebut.
Said mengoleksi keris mulai 1996. Saat itu, ia berburu ke sejumlah lokasi yang diyakini menyimpan keris Melayu. Berawal hanya ratusan, dan hasil buruan menjadi 9.000 bilah dengan ragam model. Mulai yang ‘sederhana’ hingga jelas-jelas memuat filosofi kehidupan Melayu - Arab. “Dari yang satu luk hingga tujuh luk,†ceritanya sambil menunjuk sejumlah keris dari masa ke masa bahkan yang menjadi saksi pembunuhan kolonial.
Selama mengolektor dan ikut membuat, Said menjadi paham makna keris yang sesuai dengan keberadaannya. “Keris Melayu, misalnya di tiap negara bagian di Malaysia, berbeda dan punya kebesaran atau Keris Diraja. Keris Penyalang atau Gabus atau Keris Alang atau Keris Terapang. Itu semua menjadi bukti kekuasaan Melayu,†ujarnya sambil mengatakan di negara tetangga itu setiap pengantin wajib memiliki sebilah keris. “Di Indonesia, pengantin hanya menyewa keris kala memakai busana adat.â€
Said memastikan apa yang dilakukan berdampak dalam memersatukan Melayu di muka bumi. (R10/f)