Enni Pasaribu: Industri Kreatif Digalakkan tapi Produksi Bahan Baku Belum Dimaksimalkan

Redaksi - Senin, 01 Maret 2021 09:21 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/berita/dir032021/_8524_Enni-Pasaribu--Industri-Kreatif-Digalakkan-tapi-Produksi-Bahan-Baku-Belum-Dimaksimalkan.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Foto Dok
Enni Martalena Pasaribu

Medan (SIB)

Enni Martalena Pasaribu SH MH Mkn optimistis industri kreatif berbasis kearifan lokal di sekitar Danau Toba berpotensi jadi penguatan ekonomi warga dan menggelorakan industri pariwisata sebagaimana program Presiden Joko Widodo yang menjadikan wilayah dimaksud sebagai destinasi unggulan global. “Untuk itu, perlu stimulus diberikan pada pelaku industri kreatif tersebut,” ujarnya di Sekretariat Panitia Pelantikan Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) Sumut Jalan Sei Galang Medan, Sabtu (27/2).

Di jeda pertemuan calon pengurus dan pakar budaya, pengacara kondang itu menunjuk ulos sebagai warisan budaya. Menurutnya, sejak Kementerian Pariwisata dan Kebudayaan RI menetapkan ulos sebagai warisan budaya tak benda pada 17 Oktober 2014, perhatian publik pada ulos meningkat signifikan. “Industri kreatif digalakkan tapi produsen bahan baku, masih minim. Bahkan bahan baku yang dari alam, belum dimaksimalkan,” tegasnya didampingi Ketua Panitia Dra Syafitra Elizabeth Tambunan MM, Dr Ir Charlog Rosa Nababan MP, Dra Ria Manurung MSi, Sekretaris Anivera Manulang SH, Axel Sumbayak SE, Mona Simatupang SPd, Kennedy Manurung dan Iskandar Simatupang SH.

Enni Pasaribu mengatakan, UNESCO sebagai badan ‘penentu’ warisan dunia punya parameter agar ulos masuk daftar tersebut. Di antaranya, bahan baku harus alami yang tumbuh di sekitar masyarakat. Bahan-bahan itu tak boleh sedikit pun ada unsur kimiawi karena dapat merusak alam. “Sebagai penggagas Hari Ulos, bersama para tokoh termasuk keturunan Raja Sisingamangaraja, RAJ Sinambela dan penggiat lainnya, sudah menyosialisasikan pada partonun di bona pasogit, seperti di Lumban Suhi-suhi Samosir. Tetapi, sekarang bahan baku justru makin sedikit,” tegasnya.

Menurutnya, ulos itu terdiri dari benang. Proses pembuatannya dari pemintalan kapas, mamipis dengan alat sorha, yang didahului dibebe. Proses itu diikuti dengan pewarnaan dengan komponen merah atau manubar, hitam yang disebut mansop. Semua bahan melalui permentasi karena dari dedaunan. “Pewarnaan benang diseut parsigira,” jelasnya.

Dari sana dilakukan gatip dengan motif khusus, yang kemudian dilakukan pencerahan yang disebut unggas. Proses selanjutnya adalah penguntaian atau mangani, yang sebelumnya dihuhul. “Semua alat harus alami, yang dibutuhkan anian yaitu sepotong balok kayu yang diatasnya ditancapkan tongkat pendek sesuai ukuran ulos yang dikehendaki. Dari sana dimulai menenun dan finalisasi dengan manirat,” tambahnya.

Yang jadi persoalan, bahan-bahan tradisional itu kini sangat langkah. Untuk pengadaannya harus dilestarikan mulai dari pepohonan. (R10/a)

Sumber
: Hariansib edisi cetak

Tag:

Berita Terkait

Hiburan

6.000 Penenun Taput Ikuti Workshop Branding Bersama Desainer Nasional

Hiburan

Pelaku UMKM Sumut Didorong Manfaatkan PON untuk Pemasaran

Hiburan

Kepala BPTD Sumut dan Wali Kota Pematangsiantar Sepakat Optimalkan Terminal Tanjungpinggir

Hiburan

Aktivis Ikut Melestarikan Busana Etnik dan Industri Kreatif Bebasis Kearifan Lokal

Hiburan

Stosa Medan Selami Industri Kreatif Bali

Hiburan

Pj Gubernur Dukung Industri Kreatif Semakin Eksis di Pasar Internasional