Medan (SIB)
Enni Martalena Pasaribu dan Lusiana Silaban, Jumat (21/10), kolaborasi menampilkan seni etnik saat pengukuhan kepengurusan Himpunan Kurator & Pengurus Indonesia (HKPI) Koordinatoriat Medan di Hotel Cambrigde Medan dengan ketua panitia Banuara Sianipar.
“Saya inginnya seperti itu. Menampilkan seni etnik secara proporsional. Tidak ala kadarnya,” ujar Enni Pasaribu.
Yang dimaksudkannya, jika ada acara akbar dengan suguhan seni etnik, yang dipergelarkan benar-benar mengandung filosofi budaya. Ada kekayaan kearifan lokal yang ditampilkan.
Ia menunjuk tari selamat datang versi kreasi bergenre Batak Toba. Mulai dari para penari hingga musik pengiring. “Dengan cara ini kita mengenalkan pada publik. Ini adalah kesenian etnik Batak Toba kolaborasi modern,” sebutnya menunjuk penampilan anak asuh Lusiana Silaban yang di acara itu memimpin menyanyikan “Indonesia Raya” dengan gempita.
Pada suguhan lainnya, ditampilkan Tortor Cawan yang magis. “Ini memang tortor tidak seperti biasa, tapi mengandung filosofi. Jika ada getar magis, di situlah ketakbiasanya,” ujarnya.
Tortor Cawan yang disuguhkan bukan Tortor Si Pitu Cawan yang kerap disuguhkan. Kali ini dipergelarkan lima penari. Di atas kepala penari, ada cawan.
Berisi air dengan irisan jeruk dan dua ikat daun suji yang memberi aroma harum. Cawan yang dijunjung, beda ukuran. “Maknanya beragam. Mulaid ari kesucian, kebijaksanaan, kekuatan, kesaktian, kehidupan sosial dan lainnya dalam filosofi Bangso Batak,” tambahnya.
Gerakan yang ditampilkan, tidak biasa. Meski berdiri dan di posisi beda, gerekannya seperti trance hingga berasa menantang, menggetarkan. Eksotik.[br]
Seorang penari dengan gerak menggetar berkeliling ke seluruh ruang, mengitari penonton. Meski mata tertutup, ia lincah bergerak dan dari kedua tangannya memercikkan air dari cawan di atas kepala. Tak sedikit yang kena percikan berbisik sambil meraba air tersebut.
Keistimewan penari terletak pada gaun berbahan ulos. Tenun. Di bagian badannya ada kain putih yang menutup hingga mata kaki.
Meski busana panjang namun gerakannya menghentak. Melompat. Kadang menghentak.
Lusiana Silaban bahagia sebab suguhan anak didik dari sanggarnya memberi nuansa baru. “Banggalah... apresiasi audiens tak sekadar bertepuk tapi mencari tahu maknanya,” ujar seniman yang sudah melanglang ke manca negara.
Baik untuk pergelaran seni etnik maupun kiprahnya menggali keunggulan industri pariwisata asing. “Terima kasih pada panitia, Bang Banuara Sianipar, yang memberi ruang waktu untuk pergelaran ini,” tutupnya. (Facebook/R10/f)