Medan (SIB)Dra Veronika Sitanggang merayakan Trisuci Paskah secara penuh di Gereja HKBP Sei Agul Jalan Gereja Medan, Kamis - Minggu (28 - 31/3). Tiap ibadah disesuaikan dengan tema. Yang menarik ketika Jumat Agung, Ketua Persatuan Wanita Kristen Indonesia (PWKI) Sumut itu tampil di kain etnik dominasi ungu. Lambang duka.Yang memesona karena kain tenun asli itu mirip corak Ulos Sibolang yang dipermanis Ulos Bolean. Ulos sebagai tanda berduka itu dipermanis dengan kain warna hitam yang mengentalkan suasana duka Jumat Agung. Banyak tokoh perempuan ikut dalam ibadah Jumat Agung itu seperti Mariani Purba, Bulan Siahaan dan Ida Rentina Panjaitan yang menggunakan busana serba hitam.Ini kali kesekian Vernika Sitanggang mengenakan kait rajut etnik. Pada Parade dan Gebyar Berkebaya tahun 2022 menuju Unesco akan digelar di Lapangan Benteng, Kota Medan, Minggu (28 Agustus 2022, pegiat pemberdayaan perempuan pekerja migran Indonesia (PMI) di negara-negara ASEAN itu tampil dengan kebaya berbahan tenun khas. “Sudah turun-temurun ini. Dari para leluhur dan terus dirawat,” ujarnya saat itu ketika Ny Rita Panca Simanjuntak bertanya soal detail bahan kebaya yang dipakainya.Parade dan Gebyar Berkebaya Nusantara itu diikuti seluruh perwakilan perempuan Sumatera Utara dengan kebaya khas masing-masing. Selain iut, kegiatan dihairi belasan ribu perempuan. Veronika Sitanggang tampil dengan kebaya khas Indonesia dengan bahan ulos.Rupa-rupa kebaya pun dipakai perempuan lainnya. Seperti kebaya dan sanggu khas mirip Pahlawan Emansipasi Wanita RA Kartini, kebaya encim, noni dan kutubaru. “Karena perempuan Indonesia adalah bagian kekuatan negara, maka harus memberi makna lebih pada perjalanan bangsa tercinta,” paparnya. (**)