Musisi Indonesia Ribut Royalti, Taylor Swift Raup Rp 13 Triliun

Redaksi - Jumat, 29 Agustus 2025 07:05 WIB
Foto: REUTERS/Jennifer Gauthier
Taylor Swift tampil di The Eras Tour di Vancouver, British Columbia, Kanada, pada 6 Desember 2024.
Jakarta(harianSIB.com)

Di tengah musisi Indonesia ribut-ribut soal royalti, ada satu musisi Internasional yang mencatatkan sejarah terkait pendapatan dari pembagian royalti.

Adalah Taylor Swift resmi mencatatkan sejarah baru. Forbes melaporkan, penyanyi yang akrab disapa Miss Americana itu kini punya kekayaan bersih mencapai USD 1,6 miliar atau sekitar Rp 26 triliun.

Dikutip dari detikpop, dari angka fantastis itu, sekitar USD 800 juta (Rp 13 triliun) datang dari royalti musik dan tur. Artinya, Swift jadi musisi perempuan pertama di dunia yang benar-benar meraup miliaran dolar hanya dari karya musiknya sendiri, bukan bisnis sampingan.

Kunci sukses Swift ada di dua hal, re-recording alias Taylor's Version yang bikin katalog lagunya hidup kembali, dan Eras Tour, tur superbesar yang mendulang pendapatan bersejarah.

Selain itu, Swift juga baru saja memenangkan perang lama soal kepemilikan master rekamannya yang dulu dijual ke Scooter Braun. "Aku akhirnya dapat musikku kembali," kata Swift emosional dalam podcast bareng Travis dan Jason Kelce, Agustus 2025.

Tapi kalau pencapaian ini disandingkan dengan kondisi musisi di Indonesia, perbandingannya jauh bak langit dan bumi. Memang gak apple to apple, tapi paling tidak, jadi bahan lecutan, kalau musik dikelola dengan baik, bisa sangat menghidupi musisi dan semua yang terlibat di dalamnya.

Di Indonesia, sistem royalti masih merangkak. Sumber royalti di Indonesia sebenarnya mirip, lagu yang diputar di radio, televisi, aplikasi streaming, sampai kafe dan restoran.

Tapi masalahnya, penarikan dan pembagiannya sering jadi polemik. Bahkan sempat ramai restoran dan mal malah jadi takut buat putar musik gegara manajemen Mie Gacoan di Bali, diminta denda Rp 2 miliar gegara kasus royalti.

Sementara itu, di Amerika dan Eropa, sistemnya emang sudah mapan. Setiap pemutaran lagu otomatis tercatat lewat sistem digital, lalu dibagikan sesuai porsinya. Di sini, musisi sering merasa haknya hilang, karena banyak pemutaran yang gak terdata atau gak dibayar.

Di sini, musisi banyak yang banting setir jadi selebgram atau buka bisnis sampingan buat bertahan. Tapi lagi-lagi, Taylor Swift itu merupakan contoh ekstrem soal bagaimana industri musik bisa benar-benar jadi mesin uang.

Publik dan juga netizen banyak yang berharap musisi Indonesia juga bisa segera menikmati hasil karyanya secara adil, tanpa drama berkepanjangan mulai dari soal royalti kafe sampai ke wedding organizer. (*)

Editor
: Wilfred Manullang

Tag:

Berita Terkait

Hiburan

Lucy Guo Jadi Miliarder Perempuan Muda Terkaya di Dunia, Kalahkan Taylor Swift

Hiburan

Ade Govinda Catat Rekor Terlaris di Malaysia, di Indonesia Kolaborasi dengan Def Michael

Hiburan

Simpatisan ISIS Ditangkap, Konser Taylor Swift di Austria Batal

Hiburan

Seluruh Rintisan Perjuangan Januari Siregar untuk Kesejahteraan Musisi Indonesia Dilanjutkan Organisasi Artis Tanah Air

Hiburan

Bantah Musisi Indonesia, TV Korea Pastikan Sudah Bayar Royalti Lagu

Hiburan

‘Folklore’ Taylor Swift Album Terpopuler di 2020 Laku 2,3 Juta Unit