Medan (SIB)- Kalangan Praktisi Hukum di Medan mengatakan peristiwa percobaan bom bunuh diri yang terjadi di Medan diduga akibat lemahnya kinerja aparat dan pihak intelijen dalam mengantisipasi terjadinya tindakan terorisme. Pakar Hukum Dr Alpi Sahari SH MHum menilai upaya pencegahan gangguan ketertiban dan keamanan masyarakat (Kamtibmas) oleh aparat kepolisian dinilai masih masih belum maksimal. Hal tersebut dikatakannya menanggapi peristiwa percobaan bom bunuh diri dan upaya mendatangi pastor Albert S Pandiangan yang dilakukan seorang remaja 18 tahun bernama Ivan Armadi Hasugian saat ibadah berlangsung di Gereja Katholik Santo Petrus Jalan Dr Mansyur Medan, Minggu (28/8) lalu. Meski pelaku sudah ditangkap, Alpi menilai kepolisian boleh dikatakan "kecolongan" dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai institusi yang seyogianya menjadi garda terdepan dalam menjamin Kamtibmas sesuai dengan semboyan Tribrata, melayani, mengayomi dan melindungi masyarakat dan sesuai Undang-Undang No. 2 tahun 2002. Dijelaskannya lagi, polisi masih kurang dalam memberikan sosialisasi terkait bahaya tindakan terorisme kepada mayarakat, khususnya komunitas tertentu yang masih memiliki peranan dalam peningkatan keamanan di tengah-tengah masyarakat itu sendiri. Misalnya, dengan melakukan pembekalan terhadap satpam maupun security, memberikan materi dan sosialisasi secara intens kepada masyarakat secara langsung maupun pelajar atau mahasiswa akan bahaya terorisme, sebutnya. "Seringkali polisi kewalahan kalau peristiwanya sudah terjadi seperti ini. Harusnya dilakukan tindakan pencegahan dan sosialisasi sesuai Undang-Undang Nomor 2 tahun 2002. Sehingga dengan demikian masyarakat akan semakin waspada," tambah Doktor yang juga dosen master hukum jebolan Universitas Padjajaran ini kepada SIB, Senin (29/8). Terpisah, ketua DPC Peradi-3 Kota Medan, Hendrik Soambaton SH juga menyesalkan terjadinya insiden tersebut. Menurut Hendrik, peristiwa yang hampir merenggut nyawa jemaat yang saat itu tengah beribadah merupakan kejadian yang tidak boleh terulang lagi. Hendrik juga mengkritisi pihak aparat keamanan maupun pihak intelejen negara, intelijen kepolisian, maupun intelijen TNI yang 'dinilai telah 'kecolongan'. "Pihak intelijen tidak tanggap, Tuhan masih melindungi Pastor dan jemaatnya itu. Kalau tidak, berapa nyawa yang melayang?," ujarnya. Seperti diberitakan sebelumnya, peristiwa bom bunuh diri tersebut terjadi pada Minggu, (28/8) saat misa ibadah sedang berlangaung di Gereja Khatolik Santo Yosep Jalan Dr. Mansyur Medan. Pelaku Ivan Armadi Hasugian yang datang dengan membawa tas ransel berisikan bom rakitan. Pelaku sempat mengejar dan menghujamkan pisau ke pastor, namun berhasil digagalkan jemaat. Dalam peristiwa tersebut sang pastor mengalami luka ringan dilengannya. (Dik-1/h)