Medan (SIB)- Kriminolog Redianto Sidi menilai lemahnya pengawasan dari petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang membuat para narapidana bisa mengendalikan jaringan narkoba. Hal itu dikatakan terkait dengan Poldasu ungkap jaringan narkoba yang otak pulakunya merupakan napi Lapas Tanjung Gusta."Ini semua dari pengawasan. Narapidana bisa mengendalikan narkoba dari dalam Lapas, kalau pengawasannya lemah," tegasnya, Selasa (6/9) lalu.Selain itu, kata dia, dengan pengawasan yang lemah itu, biasanya para narapidana mengambil kesempatan. Salah satu kesempatan itu yaitu mengajak kerjasama dengan petugas."Itu Lapas tempat yang paling 'bahaya', tapi kenapa napi berani mengendalikan narkoba. Apa jangan-jangan diback-up oleh petugas?," ujar dia.Hal ini yang menduga kuat kalau aparat atau petugas ikut terlibat dalam pengendalian narkoba dari dalam Lapas. "Apakah ada orang dalam?," sebut dia bertanya.Dalam mengatasi persoalan ini, kata Redianto, dirinya sangat mendesak Kemenkumham melakukan sidak setiap anggotanya maupun di sejumlah Lapas. "Sidak ini merupakan salah satu upaya kecil untuk mencegah penyalahgunaan narkoba," ucap dia.Selain itu, kata dia, dalam melakukan rekrutmen penerimaan petugas Lapas, pemerintah harus benar-benar selektif. "Mungkin selama ini penerimaan tidak selektif, sehingga oknum-oknum sekarang mentalnya sangat lemah. Harus benar-benar selektif, bukkan hanya pintar, tapi nilai keagamaan dan moral juga harus ada," sebutnya.Dia menambahkan, jaringan narkoba saat ini sangatlah sulit dalam memeranginya. Memang menurut dia, UU Narkoba harus direvisi khususnya bagi para bandar narkoba."Selama ini memang hukuman yang dijatuhkan kepada para napi seperti main-main, tidak ada yang serius. Kalau memang hukum ditegakan pasti juga akan menimbulkan efek bagi para pelaku narkoba," tambah Redianto. (A20/l)