Jakarta (harianSIB.com)Lonjakan kasus varian terbaru wabah
Cacar monyet atau
Mpox, yakni
Clade IB di
Republik Demokratik Kongo dan penyebarannya ke negara-negara tetangga harus diwaspadai. Apalagi, penularannya wabah ini dinilai semakin mengkhawatirkan.
Seperti diketahui, penularan cacar monyet sendiri bisa terjadi melalui kontak erat, sentuhan kulit, dan hubungan seksual hingga melalui cairan droplet.
Ada beberapa kelompok orang yang paling rentan dan berisiko tertular cacar monyet. Orang-orang ini tentunya harus waspada menjaga diri mereka sebaik mungkin.
Mengutip dari laman resmi dan siaran radio Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI), dilansir dari CNBC Indonesia, setidaknya ada 10 kelompok yang paling berisiko terjangkit penyakit zoonosis tersebut, yakni.
1. Lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL)2. Individu yang sering berganti pasangan seks3. Orang yang memiliki riwayat kontak dengan penderita Mpox dalam dua pekan terakhir4. Anak-anak, termasuk bayi baru lahir dan berusia di bawah lima tahun5. Tenaga kesehatan yang menangani pasien Mpox6. Petugas laboratorium pemeriksa spesimen Mpox7. Orang dengan gangguan kekebalan tubuh atau imunitas rendah8. Lansia9. Ibu hamil dan menyusui10. Orang yang suka mengonsumsi daging hewan liar
Dokter spesialis kulit dan kelamin, Ni Luh Putu Pitawati mengungkapkan bahwa saat ini, orang yang memiliki tingkat daya tahan tubuh yang belum sempurna hingga rendah, seperti bayi; anak di bawah lima tahun; ibu hamil dan menyusui; serta lansia menjadi kelompok yang berisiko tinggi tertular Mpox.
Selain itu, dr. Ni Luh yang kini praktik di RSPI Prof. DR Sulianti Saroso itu juga menyebut, individu yang kerap mengonsumsi daging hewan liar juga berisiko terjangkit Mpox. Terlebih jika daging yang dimakan tidak dimasak hingga matang sempurna.
"Kita, kan, tidak tahu apakah hewan itu aman dari virus. Sebab, virus ini, kan, juga awalnya berasal dari hewan liar," kata dr. Ni Luh dalam siaran radio Kemenkes RI.
Terbaru, Direktur Pengelolaan Imunisasi Kemenkes RI, dr. Prima Yosephine menegaskan bahwa pemerintah akan memberikan vaksin Mpox kepada lima kelompok prioritas sesuai rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yakni LSL, individu yang sering berganti pasangan seks, orang yang memiliki riwayat kontak dengan penderita Mpox dalam dua pekan terakhir, tenaga kesehatan yang menangani pasien Mpox, dan petugas laboratorium pemeriksa spesimen Mpox.
"Sampai saat ini, anak-anak tidak termasuk dalam sasaran yang akan diberikan vaksin Mpox. Namun, petugas kesehatan yang melakukan penanganan kasus Mpox akan diberikan (vaksin) untuk memberi perlindungan dari tertularnya infeksi virus Mpox," jelas dr. Prima.
Sebelumnya, pada 14 Agustus 2024 lalu WHO mengumumkan keadaan darurat internasional terkait Mpox akibat lonjakan kasus varian terbaru Mpox, yakni Clade IB di Republik Demokratik Kongo dan penyebarannya ke negara-negara tetangga. Menurut organisasi di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu, Clade IB lebih cepat menyebar dan lebih dikhawatirkan karena memiliki potensi penularan yang lebih luas terhadap berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak.
Tujuh negara yang telah melaporkan kasus varian baru Mpox, Clade IB, dilansir dari Reuters, yakni Republik Demokratik Kongo, Swedia, Thailand, Burundi, Kenya, Rwanda, dan Uganda.(*)