Tigadolok
(harianSIB.com)Seorang pekerja bangunan tembok penahan Jalan Lintas Sumatera, Albert Malau diduga dianiaya warga di salah satu warung di Nagori (Desa) Pondokbulu, Kecamatan Dolokpanribuan Kabupaten Simalungun, Jumat (15/8/2025) malam hingga wajahnya mengalami lebam dan luka-luka.
Tak terima atas kejadian tersebut, korban melaporkan lima warga dan termasuk Kepala Desa Pondokbulu ke Polsek Tigadolok dengan nomor LP/B/24/VIII/2025/SEK-DOPAN/Res.SIMAL/Polda Sumut dengan kasus tindak pengeroyokan.
Sesuai dengan keterangan korban, Albert Malua (39), warga Kelurahan Padang Maslang, Kecamatan Baru, Kabupaten Tapanuli Tengah, Rabu (20/8/2025) mengatakan, kejadian berawal dari penolakan untuk dana partipasi perayaan HUT ke 80 RI untuk Pemerintahan Nagori Pondokbulu.
Ungkap Malau, dirinya bersama rekannya A Sihombing awalnya dijemput beberapa warga dari Mess Tenaga Kerja yang tak jauh dari lokasi kejadian untuk menghadap kepada kepala desa yang telah menunggu di warung milik Kepala Desa Pondokbulu tersebut.
Di sela-sela pertemuan dengan kepala desa dan warga sempat terjadi adu argumen terkait sumbangan untuk dana perayaan HUT ke 80 RI Pemerintahan Desa Pondokbulu.
Lanjut, Malau bersama rekannya A Sihombing menolak memberikan uang sumbangan dengan alasan mereka hanya buruh harian lepas dan mengusulkan membuat proposal dan menyerahkannya ke rekanan penanganan longsor Jalinsum Parapat yang ada di wilayah Nagori Pondokbulu.
"Merasa tak terima, Kepala Desa Pondokbulu langsung melakukan pemukulan ke wajah dan saya dikeroyok 4 warga lainnya hingga wajahku babak belur," pungkasnya.
Sementara, rekannya A Sihombing mengakui menyaksikan kejadian dengan jelas bahwa pertama-tama rekannya dipukul kepala desa kemudian dikeroyok beberapa orang.
"Saya melihat rekan saya dipukul dan kemudian dikeroyok," ujar Sihombing yang mengaku melihat kejadian dari depan pintu masuk warung dan kemudian dirinya lari menyelamatkan diri.
Sementara itu, Kepala Desa A Sinaga ke jurnalis harianSIB.com membantah kejadian tersebut dan mengaku dirinya hanya mengusir para pekerja dan warga desa lain yang sedang bertengakar untuk ke luar di dalam warungnya karena menganggu ketertiban.
"Saya tidak ada melakukan pemukulan, kepada siapapun, melainkan hanya mengusir 3 orang pekerja Jalinsum Parapat dan 2 orang warga Parapat yang sedang ribut untuk keluar dari dalam warung karena menganggu kenyamanan pelanggan lain," ujarnya.
Dirinya mengakui bersedia memberikan keterangan kepada pihak kepolisian dan menyesalkan laporan tersebut. "Ini merupakan pencemaran nama baik, dan saya bisa melaporkan balik. Ada dua saksi yang jelas melihat kejadian tersebut bahwa saya tidak melakukan pemukulan malainkan hanya mengusir orang-orang yang sudah mabuk tersebut karena membuat keributan," tutupnya.
Sementara itu, Kapolsek Tigadolok, Iptu Ponijan Damanik membenarkan adanya laporan tersebut dan saat ini masih tahap pemanggilan saksi-saksi untuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan menunggu hasil visum.(**)