Jakarta (SIB)- Saat ini gerhana matahari total dipandang sebagai fenomena alam tertutupnya matahari oleh bulan sehingga hari menjadi gelap. Namun bagi masyarakat Indonesia di zaman dulu, gerhana matahari total ini dianggap peristiwa yang menakutkan sehingga memunculkan mitos dan takhayul.
Mitos dan takhayul itu melahirkan tradisi khas menyambut gerhana di banyak kebudayaan di Indonesia. Uniknya, ternyata ada kemiripan tradisi tersebut mulai dari Jawa, Kalimantan, hingga Maluku Utara.
Berikut ini tradisi sambut gerhana yang mirip itu:
Gejog lesung adalah tradisi khas masyarakat Yogyakarta saat gerhana. Lima sampai enam orang memukuli lesung (tempat menumbuk padi) dengan alu (kayu penumbuk) sehingga menimbulkan irama.
Dalam mitologi setempat, gerhana terjadi karena matahari dimakan raksasa Kala Rahu atau Kala Rawu mencuri air suci yang bisa memberikan hidup abadi. Namun saat air baru sampai di tenggorokan, lehernya keburu dipenggal oleh Bhatara Wisnu.
Badan Kala jatuh ke bumi, sementara kepalanya masih melayang-layang dan membalas dendam dengan memakan matahari. Lesung padi mewakili tubuh Kala itu sehingga memukulinya dianggap bisa membuat kepala Kala segera memuntahkan matahari.
Desa-desa pedalaman di Kalimantan Tengah punya tradisi menabuh garantung, alat musik sejenis gong, saat terjadi gerhana matahari. Tak hanya garantung, semua benda-benda yang bisa menimbulkan suara keras juga akan dipukul.
Menurut kepercayaan setempat, terjadinya gerhana matahari total adalah akibat perkelahian surya dengan bulan. Memukul garantung dan menciptakan kegaduhan dipercaya bisa melerai duel itu.
Tradisi dolo-dolo adalah memukul kentongan dari bambu secara bersama-sama. Saat gerhana, kentongan dipukul hingga matahari kembali terang.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Ternate Anas Konoras menjelaskan, tradisi ini berakar dari kepercayaan masyarakat di Maluku Utara bahwa gerhana terjadi akibat ditelannya matahari oleh seekor naga sehingga bumi menjadi gelap.
Dolo-dolo sebenarnya sarana mengumpulkan orang banyak untuk berbagai tujuan. Namun saat gerhana, dolo-dolo juga dijalankan. Selain membunyikan kentongan masyarakat juga memukul tifa dan peralatan dapur agar muncul suara bising demi menghentikan naga memakan matahari.
Tradisi menyambut gerhana dengan memukul benda-benda agar menimbulkan suara nyaring juga ada di Nusa Tenggara Timur. Penduduk Pulau Timor akan memukul kaleng atau seng bekas.
Suara nyaring yang ditimbulkan itu dipercaya bisa membuat gerhana cepat berlalu. Kebiasaan memukul seng dan kaleng ini juga dilakukan saat gerhana bulan.
Memukulkan tempurung kelapa menjadi tradisi menyambut gerhana matahari di Jailolo, Halmahera, Maluku Utara. Cara turun-temurun ini juga dilakukan ketika terjadi gerhana bulan.
Selain tempurung kelapa, masyarakat Jailolo juga keluar dari rumah saat gerhana. Mereka membawa barang-barang dari dalam rumah yang jika dipukul bisa menimbulkan suara bising seperti ember dan panci.
Pada 9 Maret 2016, masyarakat lokal dan turis akan beramai-ramai memukul tempurung kelapa saat gerhana matahari total melintasi daerah ini. (detikcom/h)