Diteliti Keberadaan Cagar Budaya Emas Murni Berbentuk Hewan di Musirawas

- Minggu, 06 April 2014 22:16 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/04/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Musirawas (SIB)- Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Musirawas, Sumatera Selatan meneliti dugaan keberadaan cagar budaya emas berbentuk hewan (Kambing)  di Kecamatan Muarakelinggi setempat.Hal itu diketahui setelah warga menemukan gundukan batu bertuliskan pesan-pesan zaman purbakala, kata Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Musirawas Hj Susilawati, Jumat."Kita akan meneliti keberadaan emas berbentuk hewan yang lokasinya persis di bawah bangunan Masjid Ainul Yakin Desa Bingin Jungut setempat," katanya.Pada investigasi awal tim dari Disbudpar sudah diajak Ketua Badan Perwakilan Desa (BPD) setempat melihat lokasi dan mudah-mudahan dalam waktu dekat akan dilakukan penelitian bersama tim Badan Arkeologi pusat.Jika hasil temuan investigasi yang menunjukkan benar ada emas murni berbentuk hewan itu, tidak menutup kemungkinan bangunan di atasnya akan dibongkar bersama masyarakat dan pemerintah daerah.Tujuan pembongkaran bangunan di atas benda bersejarah itu untuk menyelamatkan dan melindungi cagar budaya berbentuk emas murni tersebut dari tangan-tangan orang tak bertanggung jawab, ujarnya.Kepala Bidang Budaya Disbudpar Musirawas Haman Santoso mengatakan tumpukan batu-batu berbaris ditemukan masyarakat tersebut sebetulnya menunjukan bahwa di wilayah itu ada benda bernilai cukup tinggi.Namun sayangnya tulisan zaman purbakala itu tidak bisa terbaca secara utuh karena sebagain batu itu sudah dipecah masyarakat untuk mencari barang antik."Kami prihatin melihat tumpukan batu yang awalnya berjejer rapi dalam tanah, sekarang sudah berserakan dan bahkan sudah dipecah warga," ujarnya.Padahal ada investigasi awal batu-batu itu masih tersusun rapi dan sudah dilaporkan ke Badan Arkeolog pusat berikut beberapa sampalnya.Setelah batu-batu itu dipecah tidak bisa membaca pesan melalui simbol yang tertulis pada batu tersebut, dengan demikian ia mengimbau masyarakat untuk tidak merusak dan memecah batu yang masih ada, ujarnya. (Ant/d)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Pesta Budaya Luhutan Bolon-38 Dihadiri 4 Jenderal dan 15.000-an Massa

Lembaran Budaya

Kejari Lubukpakam Dinas Pendidikan Gelar Gebyar Kreativitas Budaya untuk Anak SD dan SMP

Lembaran Budaya

KBRI Wellington Gelar Konser Budaya Istimewa di Selandia Baru

Lembaran Budaya

PRSB Gelar Motivasi Adat dan Budaya di Era Milenial

Lembaran Budaya

Pemko Medan Gelar Gemes Geliatkan Wisata Seni dan Budaya

Lembaran Budaya

Sambut Sumpah Pemuda, Yayasan Honda Lestarikan Budaya dan Berikan Beasiswa