Kapan Awal Mula Tradisi Bertunangan dengan Cincin Berlian?

- Sabtu, 09 April 2016 15:45 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/photo/dir042016/hariansib_Kapan-Awal-Mula-Tradisi-Bertunangan-dengan-Cincin-Berlian-.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Tradisi menyematkan cincin berlian ke jari manis wanita saat pertunangan ternyata memiliki sejarah yang panjang dan menarik untuk disimak.Dilansir dari situs Brides, tradisi bertukar cincin pertunangan awalnya muncul dari zaman Mesir kuno dan Yunani kuno.Ya, pada zaman tersebut pria juga mengenakan cincin pertunangan.Di zaman mesir kuno, seorang pria selalu menggunakan cincin sebagai lambang kekayaan mereka. Oleh karena itu,  mereka pun memberikan pasangan mereka satu cincin untuk berbagi kekayaan.Sementara itu,  pada zaman Yunani kuno, pasangan yang tengah mabuk cinta akan memberi hadiah cincin emas ke masing-masing pasangan.Cincin emas hanya diberikan kepada pasangan yang tahu bahwa mereka akan menikah secepatnya.Sekarang, mari beralih ke zaman Romawi kuno, tukar cincin bahkan dilakukan oleh orangtua pasangan juga.Pada abad ke-11, pihak Gereja di negara Barat mengumumkan, pentingnya arti dari cincin pada upacara pernikahan. Alhasil, memasuki pertengahan abad ke-16, cincin pertunangan resmi menjadi bagian dari upacara pernikahan. Berdasarkan tradisi Gereja Katolik hanya wanita saja yang mengenakan cincin pertungan, pria tidak.Pada zaman lampau, hanya seorang raja dan ratu yang dapat mengenakan cincin dengan bebatuan berharga.Rakyat biasa umumnya mengenakan cincin pertunangan dari bahan emas atau besi.Cincin pertunangan pada Ratu Victoria dari Inggris, hadir dalam bentuk yang berharga dan warna-warni akhirnya menjadi populer di kalangan masyarakat.Cincin itu berbeda dengan batu berlian yang baru ditemukan pada era tersebut dan hanya dikenakan oleh kalangan bangsawan.Cincin pertunangan dengan mata berlian baru populer di kalangan masyarakat biasa pada tahun 1930-an.Perusahaan produsen berlian, De Beers, pada era 30-an menyewa agensi iklan di New York untuk mempromosikan cincin pertunangan dengan mata berlian.Iklan yang paling tersohor dan sukses di pasaran memiliki jargon "A Diamond is Forever (Berlian adalah Abadi),".Sebenarnya, kalimat pada iklan tersebut ditujukan DeBeers untuk memberi kesan bahwa berlian langka (ekslusif), cocok untuk digunakan berinvestasi, dan mempertahankan harga jual berlian.Tak disangka iklan tersebut menyimpang menjadi artian cinta yang abadi. Akibatnya, cincin pertunangan dengan mata berlian sangat laku di pasaran hingga saat ini karena mencerminkan cinta setia sepanjang masa. (Geogaphicnational/l)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin

Lembaran Budaya

Polsek Tanahjawa Cari Keluarga Nenek Tanpa Identitas di Simalungun

Lembaran Budaya

Mayat Perempuan Tanpa Busana Ditemukan dalam Kontainer di Medan Denai

Lembaran Budaya

Satresnarkoba Polres Labuhanbatu Tangkap 2 Pengedar Sabu di Bilah Barat, Satu Warga Riau