Cerita Herman Kiripi, Pelestari Tradisi Mengukir Kayu Ala Suku Kamoro Papua

- Sabtu, 11 Juni 2016 18:25 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/06/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sleman (SIB)- Herman Kiripi merupakan salah satu warga suku Kamoro di Papua yang saat ini melanjutkan tradisi mengukir kayu. Dia bersama beberapa rekannya terus mengukir kayu untuk suvenir atau cinderamata khas suku Kamoro.Keahlian Herman bersama rekan-rekannya ditunjukkan dalam acara "Papua Day" yang digelar di halaman Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) Universitas Gadjah Mada (UGM) di Yogyakarta, Jumat (3/6) sore.Bersama dua rekannya Johanis dan Leo dia mengukir sebuah suvenir seperti perisai, jimbe yang terbuat dari kayu merbau. Dia telah berkeliling Indonesia untuk pameran hasil pahatan/ukiran suku Kamoro yang diprakarsai PT Freeport Indonesia. Dengan cekatan, dia menggunakan sebuah pisau ukir dan bantalan kayu sebagai palu dia menyelesaikan ukirannya."Semua orang pasti punya keinginan untuk maju. Saya dan teman-teman dari Kamoro yang masih melanjutkan tradisi budaya mengukir kayu juga ingin maju," ungkap Herman di sela-sela kegiatan mengukir.Dia meyakini setiap usaha yang dilakukan pasti ada jalan. Pada saat ini dia dan masyarakat suku Kamoro yang berprofesi sebagai pengukir kayu ini didampingi beberapa lembaga untuk mengenalkan tradisi budaya Kamoro.Herman mengaku setelah lulus SMA dia bermimpi bisa melanjutkan kuliah. Namun ternyata beasiswa yang disediakan terbatas dan dia tidak lolos mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi. Dengan adanya bantuan dari sponsor ternyata Herman dan beberapa rekannya bisa berkeliling Indonesia seperti Jakarta dan Yogyakarta untuk memperkenalkan tradisi dan budaya Suku Kamoro."Itu yang kami yakini, meski dengan mengukir yang merupakan tradisi turun temurun, kami bisa maju," papar Herman yang tinggal di wilayah Wonosarijaya, Mimika, Papua itu.Dia juga berkeinginan di Mimika ada museum yang menyimpan semua benda-benda dari masyarakat suku Kamoro. Saat ini sudah ada yayasan yang membantu mengembangkan seni budaya di Kamoro.Luluk Intarti, salah satu pendamping, mengungkapkan dirinya telah mendampingi suku Kamoro sejak tahun 1997. Selain mendampingi Suku Kamoro dalam kegiatan seni ukir, dia juga mensupport dengan mengumpulkan berbagai benda-benda milik suku Kamoro yang bisa disimpan di sebuah museum."Lahan atau tanah untuk museum sudah ada, saat ini untuk pembangunannya masih mencari donatur agar cepat terwujud," kata Luluk. (detikcom/q)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Pemko Medan Bahas Penataan Penjualan Daging Nonhalal Bersama Tokoh Masyarakat

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin

Lembaran Budaya

Polsek Tanahjawa Cari Keluarga Nenek Tanpa Identitas di Simalungun

Lembaran Budaya

Mayat Perempuan Tanpa Busana Ditemukan dalam Kontainer di Medan Denai