Parmalim Rayakan Sipaha Lima Di Laguboti Kabupaten Toba Samosir

- Sabtu, 23 Juli 2016 18:39 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/07/hariansib_Parmalim-Rayakan-Sipaha-Lima-Di-Laguboti-Kabupaten-Toba-Samosir.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
SIB/dok
Pameleon Bolon: Ritual Pameleon Bolon Ugamo Malim digelar di Bale Pasogit di Desa Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, Senin (18/7).
Tobasa (SIB)- Parmalim menggelar ibadah Sipaha Lima di rumah ibadah Bale Pasogit yang merupakan pusat Parmalim di Huta Tinggi, Kecamatan Laguboti, Kabupaten Tobasa Samosir, Sumatera Utara, Senin (18/7).Sipaha Lima merupakan bulan kelima dalam kalender Batak, biasanya jatuh pada bulan Juni-Agustus. Seperti tahun ini, hari puncak jatuh pada 18 Juni. Ibadah tersebut merupakan ritual paling sakral yang digelar sekali dalam setahun.Saat perayaan, umat Malim atau disebut Parmalim memberikan persembahan kepada sang pencipta "Debata Mula Jadi Nabolon" sebagai ungkapan terimakasih atas apa yang digapai selama satu tahun berjalan.Dalam ibadah Sipaha Lima digelar ritual yang disebut Pameleon Bolon. Ritual tersebut dipimpin oleh pimpinan Parmalim, Raja Manakkok Naipospos.Ritualnya, persembahan diletakkan dalam Langgatan (berbentuk bangunan rumah kecil yang dihiasi dengan daun pohon aren yang muda, kemudian khusus tempat persembahan dibalut dengan kain putih.Tepat di bagian depan diletakkan tungku kecil yang di sampingnya didirikan tiga Hembang, warna merah, putih dan hitam. Kemudian didoakan bersama yang dipimpin Ihutan.Dalam Pameleon Bolon tahun ini, umat dari berbagai daerah pun hadir, baik kaum ibu, bapak, muda-mudi dan anak-anak. Upacara diisi dengan doa-doa, tor-tor, penyerahan persembahan, dan nasihat-nasihat dari pimpinan Parmalim.Saat upacara Pameleon, suasana hening dan tidak terdengar suara berisik, yang ada hanya suara ungkapan doa-doa dari Ihutan yang sesekali diiringi dengan suara musik yang disebut gondang sabangunan.Corak pakaian Parmalim juga seakan menandakan kesakralan acara itu. Mulai dari anak-anak hingga orang tua mengenakan sarung, tanpa alas kaki. Khusus  kaum bapak yang menjadi peserta, selain mengenakan sarung, juga mengenakan jas, selempang dari ulos Batak di dada, dan juga pengikat kepala yang disebut tali-tali dari kain berwarna putih sambil duduk bersila.Sedangkan kaum ibu, selain mengenakan sarung juga mengenakan selendang dari ulos Batak sambil duduk bersila terpisah dengan kaum bapak. Setelah acara doa yang dipimpin Ihutan, ada juga acara doa khusus untuk kaum bapak, ibu, muda-mudi yang dilaksanakan terpisah. (F01/d)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Wanita Asal NTT Ditemukan Tewas Tergantung di Medan Sunggal

Lembaran Budaya

Dua Oknum Kepling di Medan Barat Terseret Kasus Narkoba, Anggota DPRD Minta Pemko Bertindak

Lembaran Budaya

Pemko Medan Bahas Penataan Penjualan Daging Nonhalal Bersama Tokoh Masyarakat

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin