BJ Habibie: Antisipasi Digital yang Tinggal Pencet Saja dengan Ketahanan Budaya

- Sabtu, 15 Oktober 2016 17:46 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/10/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Solo (SIB)- Presiden ketiga RI, BJ Habibie menegaskan di era digital seperti sekarang ini dunia telah menyatu dan tak ada lagi batas-batas. Informasi bebas merambah ke ruang-ruang kehidupan tanpa bisa dibendung. Cara mengantisipasinya yakni dengan memperkuat ketahanan budaya.Hal tersebut disampaikannya saat menjadi keynote speaker dalam Konferensi Internasional Pendidikan Islam I di The Sunan Hotel, Solo, Senin (10/10). Acara tersebut digelar oleh International Islamic Schools Alliance (Ittishal) atau Aliansi Internasional Sekolah-sekolah Islam.Hadir dalam acara itu para pengurus yayasan sekolah-sekolah Islam dan sejumlah pesantren dari berbagai daerah di dalam negeri serta perwakilan sekolah Islam dari berbagai negara di Asia Tenggara, Afrika, Eropa dan Amerika."Ini era digital. Tinggal pencet saja semua informasi dari negara mana pun menghampiri kita. Kita tidak bisa melarang atau memeranginya. Dulu ada batas-batas negara, sekarang tidak ada lagi. Berdasar pengalaman saya, dampak buruknya hanya bisa diantisipasi dengan meningkatkan ketahanan budaya. Karena itulah kita menerapkan otonomi daerah agar budaya di masing-masing daerah bisa berkembang," ujar Habibie.Habibie juga mendorong terjadinya sinergi positif antara budaya, agama dan teknologi untuk meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia. Menurutnya mengandalkan keunggulan SDM jauh dapat diharapkan daripada mengandalkan sumber daya alam (SDA) yang memiliki nilai tukar tak menentu karena tergantung pasar dan 'permainan' orang-orang tertentu."Kita harus menjadi bangsa merdeka, bebas, berbudaya, unggul dan produktif. Kuncinya kita harus melakukan sinergi positif atas tiga hal yaitu budaya, agama dan teknologi. Dengan itu kita akan bisa mengejar dengan peningkatan produktivitas sebagai output dari sinergi positif yang kita ciptakan untuk menjadi kualitas yang unggul," kata dia.Namun demikian, lanjut Habibie, dengan sukses melakukan sinergi positif atas tiga hal tersebut bukan berarti dapat mengatasi permasalahan tersebut. Pada tahap itu baru masuk pada tahap SDM unggul. Untuk menjadi produktif harus ditempuh dengan keberanian menciptakan peluang dan melakukan kerja nyata terencana. (detikcom/q)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Wanita Asal NTT Ditemukan Tewas Tergantung di Medan Sunggal

Lembaran Budaya

Dua Oknum Kepling di Medan Barat Terseret Kasus Narkoba, Anggota DPRD Minta Pemko Bertindak

Lembaran Budaya

Pemko Medan Bahas Penataan Penjualan Daging Nonhalal Bersama Tokoh Masyarakat

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin