Medan (SIB)- Alat musik perkusi tradisional Batak atau biasa disebut sebagai gondang tidak jarang hanya dimaknai sekedar sebagai "warisan nenek moyang", tanpa pengetahuan yang mumpuni. Ada juga yang mencoba untuk memaknai musik gondang menjadi media pertunjukan di luar kebutuhan tradisi. Hal ini menunjukkan bahwa seringkali musik gondang dilakukan hanya sebatas kegiatan adat (seremonial sosial) tanpa disertai oleh pilihan-pilihan normatif sosial yang mengikat atau lembaga keagamaan.Akan tetapi, di tengah kondisi yang seperti itu, muncul satu sub komunitas yang tetap menggunakan praktik tradisional gondang sebagai media mengungkap ekspresif spiritualnya, yaitu Parmalim. Kelompok ini adalah komunitas religius masyarakat Batak Toba yang dalam buku ini disorot kelompok Parmalim Nasiakbagi Hutatinggi. Sebagian besar warganya bermukim di wilayah kabupaten Toba Samosir dan kabupaten Tapanuli Utara, seperti Laguboti, Porsea, Balige, dan Tarutung. Di Sumatera Utara, kelompok tersebut tersebar ke beberapa daerah seperti Medan, Pematang Siantar, dan Kota Cane.Parmalim sendiri merupakan suatu aliran kepercayaan yang hingga kini masih hidup dan menjadi bagian dari ungkapan spiritualitas lokal masyarakat Batak Toba. Beberapa sumber menyebutkan bahwa religi parmalim terbentuk awalnya atas prakarsa Guru Somalaing Pardede, seorang datu yang dekat dengan Guru Sisingamangaraja XII.Dilihat dari konsep teistiknya yang diambil dari cuplikan narasi doa (tonggo-tonggo) yang diucapkan oleh Raja Ihutan Bolon Parmalim (Pimpinan Besar Spiritual Parmalim) pada saat ritual Si Paha Sada ataupun ritual Si Paha Lima, penggunaan bahasa maupun struktur kalimat dalam narasi yang digunakan dapat saja berubah dalam konteks ritual lainnya. Namun, isi dari pada tonggo-tonggo tetap relevan dengan tokoh-tokoh supranaturalnya.Konsep teistik Parmalim Nasiakbagi dapat dilihat dari perilaku ritual-seremonial keagamaan yang mereka lakukan. Figur Supranatural yang ada dalam Parmalim mulai dari tingkatan tertinggi adalah Mulajadi Nabolon, Debata Na Tolu (Batara Guru, Sori Sohaliapan, dan Bane Bulan), Si Boru Deak Parujar, Naga Padoha Ni Aji, Si Boru Saneang Naga, Patuan Raja Uti, Simarimbulubosi, Raja Na Opatpuluh Opat, Sisingamangaraja, dan Raja Nasiakbagi.Ritual Komunal Parmalim ada dua, yaitu Si Paha Sada dan Si Paha Lima, dimana seluruh anggota Parmalim secara bersama berkumpul di Desa Hutatinggi Laguboti (Pusat dari ajaran Parmalim Nasiakbagi). Sesungguhnya, ada banyak ritual yang dilakukan oleh anggota aliran kepercayaan Parmalim, tetapi hanya dua ritual tersebut yang selalu diiringi oleh ensambel musik Gondang.Si Paha Sada merupakan salah satu bentuk ritual komunal tahunan warga Parmalim Batak Toba untuk memperingati lahirnya Tuhan Raja Si Marimbulubosi dimana hari tersebut dirayakan sebagai hari kemenangan iman warga Parmalim. Ritual ini dimulai degan mangan napaet (memakan yang pahit) pada hari pertama, diikuti berpuasa selama 24 jam penuh. Setelah selesai berpuasa, maka dilanjutkan dengan mangan na tonggi (makan bersama dengan jenis makanan yang biasa) sebagai tanda kegembiraan menyambut perayaan kelahiran Tuhan Simarimbulubosi. Hari kedua merupakan hari terpenting dari ritual yang dilaksanakan, dimana hari tersebut merupakan puncak dari perayaan diperingatinya hari lahir Raja Simarimbulubosi yang dipusatkan pelaksanaannya di rumah ibadah Parmalim (bale pasogit). Hari ketiga merupakan hari penutup ritual Si Paha Sada dimana Raja Ihuran memberikan petuah dan pesan terakhir pada warganya untuk menghadapi kehidupan ke depan.Sipaha Lima merupakan ritual kolektif tahunan lainnya yang terdapat pada kelompok Parmalim Hutatinggi. Bagi Parmalim, hari-hari yang jatuh tepat di bulan Si Paha Lima disebut juga buhuni taon (tengahnya tahun), terutama pada hari jatuhnya bulan purnama penuh, disebut samisara na godang, dianggap merupakan hari dimana Debata Mulajadi Na Bolon, para Dewa-Dewa beserta seluruh malaikat dan makhluk suci lain yang berdiam di Banua Ginjang/Dunia KeIlahian turun ke Banua Tonga (Dunia Manusia) untuk memberi berkat dan menyaksikan semua ciptaanNya yang ada termasuk manusia yang ada di bumi.Upacara Pameleon Bolon Si Paha Lima dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut, jatuh pada hari ke 13, 14, dan 15 dari bulan kelima atau Si Paha Lima berdasarkan perhitungan kalender Batak. Kegiatannya dibagi atas tiga bagian besar, yaitu ritual Ulaon Parsahadatan, ritual Ulaon Pameleon, dan ritual Panggohi atau Manattti. Ritual Ulaon Parsahadatan berisi doa permohonan kepada Debata Mulajadi Na Bolon untuk memberkati upacara Ulaon Pameleon yang akan dikerjakan pada esok harinya. Pada hari kedua, yaitu Ulaon Pameleon, merupakan bagian ritual inti dari perayaan persembahan ini. Dilaksanakan upacara Pameleon berupa makanan dan hewan persembahan yang diperuntukkan kepada Debata Na Tolu, Si Boru Deak Parujar, Raja Naga Padoha Ni Aji, Boru Saneang Naga, Patuan Raja Uti, Tuhan Simarimbulubosi, Raja Na Opatpuluh Opat, Raja Sisingamangaraja, dan Raja Nasiak Bagi. Ritual pada hari ketiga merupakan bagian penutup yang diadakan di dalam ruangan Bale Pasogit. Di hari ini dilakukan doa pujian bersama, yaitu manatti atau manggohi.Bagi masyarakat parmalim Batak Toba, Gondang tidak semata-mata dimaknai hanya sebatas ungkapan ekspresif estetik-musikal, lebih dari itu gondang merupakan representasi simbolik dari ungkapan penyampaian doa yang ditujukan bagi Sang Pencipta serta berbagai kekuatan supranatural yang mereka yakini. Gondang bisa dianggap sebagai pengantar doa itu. Representasi tonggo-tonggo dan gondang dalam tradisi kepercayaan parmalim umumnya dihadirkan dalam dua bentuk ritual kolektif keagamaan yang mereka lakukan, yakni pada perayaan Hatutubu Tuhan Simarimbulubosi Sipaha Sada dan Perayaan Pameleon Bolon Sipaha Lima.Dalam ritual Si Paha Sada terdapat duabelas lagu gondang utama yang khusus dimainkan dimana secara tematis antara satu gondang dengan gondang lainnya merupakan rangkaian kronologis dari kisah yang meriwayatkan perjalanan kehidupan spiritual dari Raja Simarimbulubosi. Ke-12 gondang utama tersebut adalah gondang inanta ni Tuhan Simarimbulubosi (Ditujukan pada Ibunda yang melahirkan Simarimbulubosi), gondang hatutubu ni Tuhan Simarimbulubosi.Etnografi kebudayaan spiritual yang diangkat dalam buku diambil dari hasil pekerjaan lapangan, yaitu perayaan ritual Sipaha Sada, Hatutubu ni Tuhan Simarimbulubosi dan perayaan Pameleon Bolon Si Paha Lima. BIOGRAFI PENULISIrwansyah Harahap menyelesaikan studi S1 di bidang Etnomusikologi di Fakultas Sastra USU Medan pada 1991. Melanjutkan studi S2 pada bidang yang sama di University of Washington, Seattle USA (1991-1994) dengan bantuan beasiswa dari Ford Foundation. Memiliki minat pada kajian musik terkait fenomena spritualisme serta isu kebudayaan minoritas. Beberapa karya tulisnya pernah diterbitkan di beberapa jurnal ilmu sosial di antaranya ; Jurnal Antropologi Indonesia-Universitas Indonesia, Musika Journal University of Philippines, maupun media cetak kebudayaan populer di Indonesia.Telah melakukan penelitian lapangan mengenai kebudayaan musik Batak Toba sejak tahun 1987 hingga saat ini. Memfokuskan penelitian pada kebudayaan spritual musik Parmalim Batak Toba di Sumut dibantu oleh lembaga Toyota Foundation tahun 2002 hingga 2004.Di samping sebagai staf pengajar, Irwansyah Harahap juga seorang komposer. Beberapa karya musiknya juga telah diterbitkan Radio Fance Internationalle (1998), Smithsonian Folkways (2000) dan Dragcity Chicago USA 2009. Menghadiri berbagai konferensi dalam bidang etnomusikologi dan musik kontemporer di antaranya di University of California Los Angeles (UCLA) USA (1997), Victoria University, Wellington New Zealand (2006), Manila Philipina dan Sharinakharinwirot University, Bangkok (2009).Menjadi Konsultan dan Kolaborator dalam berbagai program riset dana aplikasi kebudayaan di antaranya dengan lembaga Desantara Jakarta, Scared Bridge Foundation Jakarta, Program Radio Musik Etnik, Yogyakarta dan Pendidikan Seni Nusantara, Jakarta, P4ST Universitas Pendidikan Bandung, dan Program Revitalisasi Musik Tradisi Sumut, USU. Saat ini Irwansyah Harahap mengajar sebagai Dosen tetap di Departemen Etnomusikologi Fakultas Sastra USU. Sejak Desember 2010 menjadi Ketua Program Studi S2 Penciptaan dan Kajian Seni Fakultas Sastra USU. (c)