Simalungun, Daerah dan Bangso Asah-Asih Tanpa Persoalkan Asal Usul

* Oleh: Drs Ads Franse Sihombing, Wartawan SIB
- Sabtu, 05 November 2016 18:43 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2016/11/hariansib_Simalungun--Daerah-dan-Bangso-Asah-Asih-Tanpa-Persoalkan-Asal-Usul.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Gapura Simalungun di penjuru arah Medan (Tanah Deli).
"Sinraya sini purba, sindolog sini panei. Na ija pe lang na muba, asal marholong ni atei" Kalimat berupa pantun khas daerah atau suku bangsa (bangso) Batak Simalungun ini, menjadi semboyan abadi dalam literatur adat atau budaya Simalungun, yang artinya: 'Dari Raya atau dari Purba, dari dolog (gunung / bebukitan) atau dari panei (lembah / daratan) yang penting menjalin kasih'Para sesepuh adat maupun kalangan pemerhati sejarah dan budaya Simalungun mengakui, timbul atau terbitnya pantun yang menjadi semboyan itu tak terlepas dari kondisi 'bangso' yang hingga kini belum bisa dipastikan sejarah dan asal usulnya. Setidaknya, buku 'Napoleon der Bataks', Perjuangan Tuan Rondahaim Saragih Melawan Belanda di Sumatera Timur (halaman 19), penulisnya Prof Dr Erika Revida Saragih MS cs (bersama empat rekannya sesama penulis), menegaskan bahwa 'penjelasan historiografi asal usul orang Simalungun butuh penelitian lanjut karena sampai saat ini belum bisa dipastikan dari manakah asal usul orang atau suku Batak Simalungun itu.Hanya saja, penulis pada buku itu, sebagaimana fakta yang kemudian berkembang di permukaan sosial selama ini, orang Simalungun pada umumnya menolak kalau disebut atau diklaim berasal dari Batak Toba, khususnya Samosir, walaupun seluruh marga (ada empat rumpun marga) Simalungun 'identik' dengan marga-marga di Batak Toba / Tapanuli, yaitu: Purba, Damanik, Saragih, dan Sinaga."Simalungun memang menjadi nama daerah atau 'bangso' yang unik dan khas karena tidak mempersoalkan asal usulnya walaupun di satu aspek hal itu (sejarahnya) perlu juga ditelusuri. Tapi yang jelas, secara profil, justru itu yang membuat Simalungun tampak menjadi profil daerah atau sosok etnis yang bisa dibilang 'istimewa' karena secara alami (geografis) menjadi pusat atau titik lintasan (hub) atau halte persinggahan massa dari lima penjuru. Itulah sebabnya Simalungun disebut sebagai daerah atau rakyat (bangso) yang menerima serta terbuka bagi siapapun dan dari manapun. Kalau Sumatera Utara selama ini dijuluki sebagai miniaturnya Indonesia karena hampir semua suku bangsa ada dan hidup rukun, maka Simalungun atau Pematang Siantar juga dijuluki miniaturnya Sumut karena semua unsur etnis di Sumut ada dan hidup rukun di Bumi Habonaron do Bona ini," papar Ir Jon Sudiman Damanik MM, seorang PNS tokoh putra Simalungun, salah satu keturunan dari leluhur Damanik Raja Nagur atau Sulung-Rampogos, kepada penulis, pekan lalu.Berbicara di sela-sela acara ibadah persemayaman jenazah bapak mertuanya (Sifian Benget 'Ompu Tabhita Doli' Sibuea) di rumah duka Jalan Sei Muara 16 Medan, Jon memaparkan asumsi faktual tentang keterbukaan orang atau daerah Simalungun berupa jalan raya yang menjadi gapura lintas kota pada empat penjuru ibukota Simalungun (dulunya) Pematang Siantar.  Pada arah utara Simalungun atau Pematang Siantar (penjuru satu) adalah daerah Tanah Deli yang meliputi  Deli Serdang (kini plus Serdang Bedagai) dan Tebing Tinggi, yang menjadi potret sejarah perjuangan pahlawan kemerdekaan dari Simalungun Tuan Rondahaim Saragih (1887-1935) dalam perang terbuka (melawan Belanda) di sejumlah wilayah Tanah Deli: Bandar Bejambu, Bandar Padang, Bah Bulian, Sipispis, Matapao, Sialang Buah dan Tebing Tinggi kota. Sejarah inilah yang kemudian menjadikan Simalungun berinteraksi dan berintegrasi secara sosial budaya dengan warga rumpun etnis Melayu. Sehingga, di kota Siantar ada kelurahan atau kawasan 'Kampung Melayu.Pada arah timur dan tenggara (penjuru dua) Simalungun adalah wilayah Asahan (kini mekar-plus Batu Bara) dan Labuhan Batu (Aslab), yang menghubungkan Sumatera Barat dan menjadi lintasan kultur-historis tentang asumsi sebagian orang di kalangan marga Purba Tambak Dolog Silou, bahwa orang Simalungun berasal dari rumpun Raja Pagaruyung di Sumatera Barat di abad XIV.Lalu, pada arah Barat dan Simalungun (penjuru tiga) adalah Karo dan Dairi, yang menjadi gapura integrasi budaya dengan masyarakat Karo mulai dari Desa Merek (simpang tiga) yang menjadi perbatasan Simalungun- Karo dan Simalungun - Dairi. Kawasan ini menjadi salah satu sentra marga Saragih, khususnya Saragih Garingging yang disebut-sebut berasal dari Kerajaan Talamsyah Saragih di Partuanan Raya (Pematang Raya sekarang) pada abad XV atau 1428. Interaksi Simalungun dengan Karo ini antara lain ditunjukkan dengan riwayat putera Raja Aji Nembah (Desa Ajinembah di Karo kini, Kecamatan Tigapanah) yang tiba di Raya Simalungun, sekitar tahun 1433. (Napoloeon der Bataks, halaman 31). Fakta lain interaksi budaya Simalungun dan Karo adalah latar belakang Desa Sipitu Huta yang mayoritas penduduk aslinya adalah orang Simalungun. Sedangkan arah selatan (penjuru empat) adalah wiayah Toba-Tapanuli atau kawasan Danau Toba, khususnya Samosir, yang sempat menjadi pro-kontra asal usul orang Simalungun. Soalnya, pihak Simalungun mengklaim justru warga atau 'bangso'nya lah dulu yang mengembara (migrasi) ke Samosir. Dari penjuru ini ada potret lebih berkesan dengan riwayat (teka teki?) interaksi Simalungun dengan Karo dan Tapanuli hingga pesisir (Tapanuli Tengah).Kenapa? Halaman 32 buku Napoleon der Bataks mengungkapkan bahwa si Pinang Sori, raja Aji Nembah itu adalah abdi (anak boru) Raja Nagur Damanik, yang menjadi penguasa tunggal 'bangso' Simalungun pada zamannya. Ketika sukses mendampingi Raja Nagur dalam perang Samudera Pasai (abad XIII), yang terungkap dalam riwayat Dinasti Ming (China) dalam ekspedisi ke Pan-tso-erh (Pansur, di Tapteng), Pinang Sori kemudian diangkat menjadi Panglima Perang atau Raja Goraha Nagur."Keempat penjuru dari titik kota Siantar sebagai ibukota Simalungun (dulunya) inilah yang kemudian ter-fiilosofi sebagai simbol pintu keterbukaan bagi siapa saja dari mana saja. Itulah sebabnya daerah atau desa-desa di Simalungun tak mutlak menunjukkan asal muasal marga tertentu seperti yang di Toba-Tapanuli. Penjuru keterbukaan inilah yang juga menjadi simbol 'halte asah asih' Simalungun, yaitu peduli membina hubungan baik atau jalinan kasih tanpa harus mempermasalahkan asal usul orang atau 'bangso' Simalungun itu," ujar Jon Sudiman Damanik, dengan bangga.Kerabat Semua SukuHal lain yang menjadikan Simalungun kian menarik dari aspek sosio-kultur adalah keberadaan sejumlah tempat (desa atau kelurahan) di sekitar Siantar Kota yang langsung dinamai dengan suku-suku dari luar Simalungun, misalnya Kampung Melayu, Kampung Karo, Tanah Jawa, Kampung Bantan (Banten?), Kampung Kristen, Kampung Martoba dan Desa Saran Padang.Pengalaman penulis ketika tinggal dan sekolah di Pematang Siantar, yang diakui dan diperkuat Jon Sudiman serta Asner Silalahi (warga Toba kelahiran Siantar), bahwa kawasan dengan nomenklatur suku-suku itu pada mulanya memang karena dominan dengan penduduk asal suku masing-masing yang berinteraksi dengan suku asli (Simalungun). Dominasi fakta selama ini menunjukkan Simalungun bukannya menjadi terpecah atau terpilah, melainkan justru menyatu dalam perbedaan, damai dalam ke-bhinneka-an sehingga kental sebagai kerabat semua suku. Bahkan, ada fakta historis lain yang memperkuat Simalungun sebagai 'bangso' asah-asih karena berkerabat dengan semua suku. Misalnya kisah leluhur marga Purba, khususnya Purba Dasuha da Purba Sigumonrong (ada 17 rumpun marga Purba Simalungun) yang konon berasal dari Tuan Bajalinggei (Padang, Sumbar). Fakta ini menunjukkan orang Simalungun dulunya sudah berkarib dengan warga Minang atau Padang,Demikian juga riwayat keturunan Panglima Pinang Sori, mulai dari Tuan Layang Raya (1430-1530) hingga pemangku Raja Raya terakhir Tuan Jaulon Kaduk Saragih (1946). Ini menunjukkan orang Simalungun sejak dulu sudah berinteraksi sebagai kerabat suku pesisir Tapteng (Sibolga, Pinang Sori).Lalu, ada riwayat Tuan Hapoltakan Saragih Galingging, yang kemudian berganti nama menjadi Tuan Umar Baginda Saleh Garingging Dasalak setelah masuk Islam di Bulian (Tebing Tinggi, 1640) ketika mendirikan Kerajaan Padang di Tebing Tinggi di Bah Jornih, Bulian. Ini menunjukkan kekerabatan panjang orang Simalungun dengan kaum Muslim di kalangan Melayu-Serdang ketika itu, khususnya di masa Kerajaan Padang Bedagai.Hal yang lebih menarik dan simpati dari Simalungun ini adalah keterbukaan lanjut atau sikap legowo atas opini kekosongan kronologi asal-asal orang Simalungun ini. Kendati secara resmi hingga kini belum ada agenda atau pustaka tentang asal-usul 'bangso' Simalungun, tapi orang Simalungun tetap asah asih, terbuka, tanpa protes, tentang adanya klaim bahwa asal-usul nenek moyang raja-raja Raya (Saragih Garingging) adalah Gurgur Simanindo di Samosir. (Tideman, buku 'Simeloengoen, 1922).Simbol kasih dan peduli sesama atau penjuru asah-asih dari/di Simalungun ini tampak pula se-bahasa dengan falsafah Simalungun, yaitu Siopat Suku (empat suku marga) yang terdiri dari marga Purba sebanyak 17 rumpun marga, Saragih 17 marga, Damanik 4 marga dan Sinaga 5 marga. Semua marga ini menyebar luas ke semua penjuru wilayah Kabupaten Simalungun.Sehingga, Simalungun yang kabarnya berarti yang hening-sepi itu menjadi ramai dan kompak penuh asah dan asih, tanpa peduli siapa berasal dari mana. Hingga kini. (A04/l)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Wanita Asal NTT Ditemukan Tewas Tergantung di Medan Sunggal

Lembaran Budaya

Dua Oknum Kepling di Medan Barat Terseret Kasus Narkoba, Anggota DPRD Minta Pemko Bertindak

Lembaran Budaya

Pemko Medan Bahas Penataan Penjualan Daging Nonhalal Bersama Tokoh Masyarakat

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin