Festival Tabut Bengkulu, Budaya yang Tidak Lekang Oleh Waktu

- Sabtu, 18 Februari 2017 12:41 WIB
Setiap daerah memiliki keunikannya masing-masing, adat dan budaya yang selalu melekat pada daerah itu juga membuat jatuh cinta. Mungkin salah satu festival yang dilaksanakan di daerah Bengkulu juga dapat membuat kita penasaran sekaligus jatuh cinta. Yup, festival Tabut namanya.Nah, Tabut sendiri adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu nabi Muhammad SAW. Perayaan ini pertama kali dilaksanakan pada tahun 1685 oleh Syeh Burhanuddin yang dikenal sebagai Imam Senggolo. Upacara ini dilaksanakan dari tanggal 1 sampai 10 Muharram setiap tahun. Walaupun sudah berakhir sejak beberapa bulan lalu, festival ini sangat ditunggu-tunggu oleh masyarakat Bengkulu. Dan memberikan kenangan indah di mata masyarakat. Festival Tabut selalu meriah setiap tahunnya. Bagaimana tidak, pada tahun 2016 Pemerintah Kota Bengkulu mengalokasikan dana Rp 360 juta untuk menggelar festival Tabut.Festival Tabut saat ini juga berisikan banyak kegiatan seni dan budaya. Antara lain tari kreasi baru, pemilihan Putri Hijab, lomba rebana, arak sorban, telong-telong, dan diakhiri dengan Tabot Tebuang.Memang tidak terlalu banyak perubahan dalam festival ini. Hanya di beberapa acara saja. Namun, tempat pelaksanaannya yang agak sedikit bergeser. Tabut yang diarak dari beberapa kecamatan itu hanya disandingkan di jalan masuk, jauh dari panggung utama. Hal ini tentu saja membuat masyarakat kurang setuju. Selain menambah kemacetan di jalan, hal ini juga membuat keindahan Tabut tidak dapat terlihat dengan indah, banyak terhalang dengan kendaraan yang diparkirkan.Namun, hal itu tidak menyurutkan masyarakat dari daerah Bengkulu ataupun luar daerah untuk meramaikan festival Tabut. Festival ini banyak memiliki kandungan nilai-nilai budaya, agama, dan sosial. Terlepas dari adanya pandangan bahwa terdapat penyimpangan akidah, yaitu pada beberapa proses seperti mengambik tanah. Namun hal itulah yang membuat banyaknya keberagaman dalam budaya di Indonesia. Nilai sosial juga sangat kental dalam festival ini. Maka nilai-nilai di dalam festival Tabut haruslah dapat dinilai dengan bijaksana tanpa menghilangkan budaya yang telah melekat lama. (goodnewsfromindonesia.id/f)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Wanita Asal NTT Ditemukan Tewas Tergantung di Medan Sunggal

Lembaran Budaya

Dua Oknum Kepling di Medan Barat Terseret Kasus Narkoba, Anggota DPRD Minta Pemko Bertindak

Lembaran Budaya

Pemko Medan Bahas Penataan Penjualan Daging Nonhalal Bersama Tokoh Masyarakat

Lembaran Budaya

Korban Keracunan Mie Tek Tek di Sibolga Minta Kasus Diusut

Lembaran Budaya

Kejati Sumut Kembalikan Aset PT KAI Senilai Rp55,8 Miliar

Lembaran Budaya

BBPOM Medan Temukan Dua Takjil Mengandung Formalin