Nilai Tradisi Luntur, Kreativitas Menciptakan Keharmonisan Mengendur

- Minggu, 08 Juni 2014 20:48 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2014/06/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Jakarta (SIB)- Intoleransi kehidupan beribadah hingga menjadi tindakan kekerasan di Yogyakarta baru-baru ini menunjukkan melunturnya nilai tradisi di pusat kebudayaan Jawa tersebut. Kemampuan dan kreativitas untuk menciptakan sebuah keharmonisan sebagai ciri masyarakat Jawa makin mengendur.“Masyarakat Jawa mulai hilang kejawaannya. Mulai tidak lagi memegang teguh prinsip-prinsip hidup bermasyarakat yang menjauhkan diri dari tindakan kekerasan,” kata dosen Departemen Filsafat Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya (FIB) Universitas Indonesia (UI), Margaretha Kushendrawati, di Depok, Jawa Barat, Senin (2/6), ketika diminta tanggapan terjadinya kekerasan di Yogyakarta baru-baru ini.Falsafah Jawa seperti andhap asor atau rendah hati, menurut Margaretha, makin terkikis. Menghilangnya nilai tradisi yang menunjang nilai kemanusiaan dipengaruhi pula kebijakan pemerintah yang kerap menciptakan sekat pembeda di tengah masyarakat.“Masyarakat sudah terkotak-kotakkan sehingga memudahkan terjadinya perselisihan,” kata Margaretha.Nilai kebebasan setiap individu dalam perkembangan modernisme menjadi postmodernisme tidak disertai pengembangan tingkat intelektual. Di sisi lain, menurut Margaretha, penghargaan terhadap nilai kebaikan yang berkembang atas dasar kearifan lokal juga makin dilupakan.“Contohnya, ajaran merasakan hidup bahagia dari tokoh Jawa, Ki Ageng Suryomentaram, sudah tidak banyak lagi diresapi untuk mendasari setiap tindakan,” kata Margaretha.“Liyan” berbahagia

Ajaran Ki Ageng yang disebut kawruh bejo, menurut Margaretha, di antaranya untuk merasa bahagia dengan cara membuat liyan atau sesama juga bahagia.Karsono Harjo Saputra, pengajar pada program studi Sastra Daerah untuk Sastra Jawa FIB UI, mengatakan, sikap intoleransi bertentangan dengan karakter dasar manusia Jawa. Sikap terbuka dan toleransi masyarakat Jawa didasari oleh keinginan selalu menciptakan harmoni.“Pedoman-pedoman falsafah hidup masyarakat Jawa masih tersisa, tetapi tidak diimbangi kemampuan menafsirkan dan menerapkan dengan benar sesuai konteks zamannya,” kata Karsono.Jalan kekerasan bagi masyarakat Jawa selalu dihindari. Adanya tindakan kekerasan yang mudah terjadi, menurut Karsono, juga terimbas dari nilai-nilai kemanusiaan Jawa yang tidak dihidupkan dan dijaga dengan baik. (Kps/h)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Bupati Humbang Hasundutan Buka FGD Peningkatan Nilai Tambah Ragam Keunggulan Daerah

Lembaran Budaya

Penyaluran BBM Minus Hingga Nopember 2025 di Kabupaten Dairi

Lembaran Budaya

Harga Emas Rp2,25 Juta/Gram, Rupiah Ditutup Stabil

Lembaran Budaya

Desa Kampung Baru Wakili Aceh Tenggara dalam Penilaian Desa Anti Korupsi se-Aceh

Lembaran Budaya

Polres Tanjungbalai Gelar Safari Dakwah Nusantara

Lembaran Budaya

Harga Cabai Masih Tinggi, NTP Hortikultura Justru Turun