8 Ritual Budaya di Indonesia yang Bikin Turis Asing Kagum dan Keheranan

Redaksi - Sabtu, 22 Februari 2020 12:35 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2020/02/_7147_8-Ritual-Budaya-di-Indonesia-yang-Bikin-Turis-Asing-Kagum-dan-Keheranan.jpg): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on value of type bool in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Atraksi Debus

Indonesia adalah satu negara yang dihuni oleh beragam suku dan budaya. Tak sedikit daerah-daerah di Indonesia masih mempertahankan kebudayaan setempat. Itulah Indonesia dan kita harus berbangga. Karena kebanyakan kebudayaan yang dianut oleh suatu daerah membuat turis asing keheranan dan berdecak kagum. Barangkali termasuk kita sendiri. Seperti ritual budaya di Indonesia berikut ini:

1. Debus

Debus adalah ritual kekuatan yang berdasarkan spiritual. Ritual Debus mencoba untuk membuktikan bahwa kekuatan terpendam dalam diri kita.

Caranya adalah dengan menyakiti diri sendiri, yang sayangnya itu tidak akan melukai tubuhnya. Seperti dengan cara menusuk-nusukkan pisau ke dada. Bagi orang luar negeri, budaya ini tak membuat mereka habis pikir kenapa kita melakukan ini.

2. Ma’Nene

Ini adalah budaya yang dilakukan suku Toraja. Ketimbang memendamnya, warga suku Toraja menyimpan jenazah warga yang sudah meninggal dalam gua.

Tiap tahun, jenazah tersebut akan dibawa ke rumah keluarga, dimandikan dan dipakaikan baju. Rumornya, tubuh jenazah tersebut bisa berjalan atas kemauannya sendiri.

3. Ikipalin

Ada yang mengatakan jika kehilangan seseorang tersayang rasanya seperti kehilangan bagian tubuh. Secara harfiah itu benar-benar dirasakan oleh suku Wamena di Papua.

Jika seorang suami mati, maka sang istri harus memotong jarinya. Sebaliknya, jika sang istri dan orangtua istri meninggal, mertuanyalah yang harus melakukan potong jari. Tujuan ritual ini adalah untuk menghindarkan diri dari kesialan.

4. Kerik Gigi

Suku Mentawai di Sumatera memiliki ritual ‘memahat’ giginya. Hal ini hanya dilakukan oleh para perempuan untuk menunjukkan kedewasaannya.

Semakin tajam gigi yang dibentuk, maka semakin cantik pula perempuan tersebut. Bagi para prianya, suku Mentawai memberlakukan penatoan pada tubuhnya dengan pola khusus.

5. Perang Topat

Orang Hindu dan Muslim di Pura Lingsar, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), memiliki sebuah ritual budaya guna merayakan keharmonisan hidup. Bernama Perang Topat, mereka akan saling melempar ketupat satu sama lain. Ritual ini menyenangkan bagi mereka dan banyak yang tertawa ketika melaksanakannya.

6. Mesuryak

Dua kali dalam setahun, warga Desa Bongan di Kabupaten Tabanan, Bali, akan melemparkan uang dan beras ke udara. Ritual ini dilakukan secara turun-temurun setiap merayakan Hari Raya Kuningan atau 10 hari setelah Galungan setiap enam bulan sekali.

Itu adalah perlambangan mereka memberikan bekal berupa beras dan uang kepada leluhurnya yang ada di Nirwana. Selain persembahan, ritual Mesuryak juga merupakan simbol rasa syukur kepada Tuhan.

7. Pasola

Pasola dilakukan oleh orang-orang Sumba, Nusa Tenggara Timur (NTT). Para pria di sana akan naik ke atas kuda dan bertarung satu sama lain menggunakan tombak kayu. Ritual ini tidak dilakukan demi membenarkan kehormatannya melainkan demi kesuburan dan panen bagus.

Mereka percaya jika darah yang terciprat ke tanah saat ritual berlangsung, akan membuat tanah menjadi lebih subur dan menjamin panen bagus.

8. Nyepi

Satu lagi ritual dari Bali. Ritual ini membuat para penganut Hindu untuk berdiam diri di dalam rumah. Karena seluruh umat Hindu di Bali memang diwajibkan untuk melaksanakan Catur Brata Penyepian.

Ada empat pantangan yang harus dilakukan oleh mereka. Di antaranya,

Amati Geni yaitu berpantang menyalakan api, lampu atau alat elektronik dan lainnya.

Amati Karya yaitu menghentikan kerja.

Amati Lelanguan yaitu berpantang menghibur diri atau melakukan kesenangan.

Amati Lelungaan yaitu dilarang bepergian.

Karena tidak melakukan aktivitas apapun, bahkan lampunya dipadamkan, Pulau Bali menjadi gelap. Hal ini yang membuat turis lokal maupun asing berdecak kagum.

Pada dasarnya budaya di Indonesia banyak didasari oleh pemikiran spiritual. Sehingga hal-hal yang dilakukan pun pasti tidak masuk akal. Situasi ini menjadi sangat menarik. Mengingat sebenarnya masih ada banyak lagi budaya-budaya unik lain di Indonesia. (idntimes/q)

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Pedagang di Tapteng Sebut Harga Komoditas Belum Stabil

Lembaran Budaya

Kinerja 100 Hari, Polrestabes Medan Ringkus 718 Tersangka Narkoba. Sita 156 Kg Sabu

Lembaran Budaya

Polda Sumut Intensifkan Patroli Subuh Selama Ramadhan

Lembaran Budaya

Ramadan 1447 H, Pemkab Labura Ajak 8 Ustadz Kunjungi Delapan Masjid

Lembaran Budaya

Sungai Simanggar Alami Sedimentasi, Bupati Batubara Minta Penanganan Cepat PSDA Provinsi Sumut

Lembaran Budaya

Sebulan Diburon, Polsek Tanjungmorawa Tangkap Pelaku Curanmor