Kemlompok Seninam Sumber Spirit Kelangsungan Berkarya

- Sabtu, 01 Agustus 2015 14:55 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/08/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
 Borobudur (SIB)- Berbagai kelompok yang muncul di kalangan pelaku seni rupa menjadi sumber spirit mereka untuk terus-menerus menciptakan karya bermakna, baik secara individu maupun masyarakat luas, kata pengamat seni rupa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta Mikke Susanto.  "Untuk berkumpul supaya tidak sendirian, bisa membangkitkan semangat berkarya secara terus-menerus. Kalau kumpul, lalu masing-masing memberikan kritik," katanya di Borobudur, Senin malam. Mikke yang juga pengajar seni rupa ISI Yogyakarta mengemukakan hal tersebut ketika berbicara pada pembukaan pameran seni rupa bertajuk "Real Life" di Limanjawi Art House sekitar 600 meter timur Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, oleh lima pelukis yang tergabung dalam Kelompok Denting Yogyakarta. Ia mengemukakan tentang kegunaan kelompok berdasarkan basis apa pun yang tidak menjadi masalah karena hal yang penting adalah kesepakatan di antara anggotanya terhadap perkembangan kesenimanan dan karya-karya mereka. "Guna kelompok itu tidak masalah, yang penting ada kesepakatan bahwa ada perkembangan yang terus-menerus terjadi dan juga ada pemikiran-pemikiran yang terus berkelanjutan. Itu esensinya. Jadi, tidak ada larangan. Misalnya, kelompok karena senasib dan seperjuangan. Terus bergerak bersama, tidak masalah, yang penting hasilnya maksimal," katanya. Pada kesempatan itu, dia menyebut sejumlah basis para seniman atau perupa di Indonesia membangun kelompok, antara lain primordialisme atau karena sesama berasal dari satu daerah, kesamaan media berkarya, konsep ideologis, dan sporadis.  Ia menyebut Kelompok Denting yang beranggotakan Mulyo Gunarso, Nunung Rianto, Karte Wardaya, Iskandar S.Y., dan Giring Prihatyasono, masuk kategori berbasis sporadis, antara lain karena intensifnya mereka berkumpul.    "Kelompok, menurut berteduh, tempat kongko untuk alasan apa pun. Berteduh dari berbagai persoalan personal dan tidak takut untuk menjadi kecil karena diserang oleh keadaan, persoalan hidup, maupun (suatu kali) mendapatkan kritik karya yang pedas, serta tak mendapat respons positif dari masyarakat seni. Realitas dan alasan inilah yang menjadi tajuk pameran mereka kali ini," katanya. Hingga saat ini, Kelompok Denting Yogyakarta yang berdiri pada tahun 2009 tersebut, telah menggelar sembilan kali pameran. Pameran sebanyak 27 karya mereka dengan tajuk "Real Life" di Limanjawi Art House Borobudur yang dikelola seniman setempat, Umar Chusaeni, sebagai pameran kesembilan dan berlangsung 27 Juli hingga 27 Agustus 2015.Ia menyebut mereka mengembangkan kekuatan individu dalam kelompok itu."Untuk mempertahankan diri selama ini, tentu tidak mungkin dengan mudah dikerjakan. Meskipun berbasis keinginan individu yang kuat, setidaknya telah berpameran yang kesembilan," katanya.Ia mengemukakan bahwa ujian para seniman dalam berkelompok akan makin besar pada masa mendatang."Semakin lama, ujian bagi mereka semakin besar. Kelompok ini makin memberikan satu sumbang sih terhadap perkembangan seni itu sendiri dan perkembangan masyarakatnya," katanya.Beberapa karya Kelompok Denting Yogyakarta yang dipamerkan di Limanjawi Art House Borobudur, antara lain berjudul "Semar" (Giring Prihatyasono), "Where Are (Steve) Jobs" (Iskandar S.Y.), "Hitam Putih Fotomu" (Karte Wardaya), "Bumiku Kini" (Mulyo Gunarso), dan "Rumah Kaca" (Nunung Rianto).(Antara/k)


Tag:

Berita Terkait