Keberpihakan pemerintah terhadap sastra klasik asli Jawa abad ke-17, yaitu Cerita Panji, makin menghilang. Warisan kebudayaan ini juga terkikis kapitalisasi kebudayaan baru. “Untuk kembali mengaktualisasikan sastra klasik, posisi pemerintah harus jelas dan dituangkan dalam strategi kebudayaanâ€, kata Karsono Harjo Saputra, pengajar Program Studi Sastra daerah untuk Sastra Jawa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia di Jakarta, pekan lalu.Karsono baru saja memperoleh gelar doktor dengan penelitian disertasi tentang salah satu versi Cerita Panji Angreni abad ke-17. Cerita Panji diperkirakan memasuki kemegahannya hingga tahun 1900. Cerita Panji mengalami banyak penyalinan dan penggubahan di sejumlah daerah penyebarannya sehingga memiliki banyak versi.Kisah ini menuturkan pengelanaan Raden Inu Kertapati dari Kerajaan Jenggala dalam mencari pasangannya, Galuh Candra Kirana dari Kerajaan Daha. “Dalam disertasi, saya menekankan pembacaan teks klasik harus menekankan ruang dan waktuâ€, kata Karsono. (Kps/c)