Prasasti Candi Era Mataram Kuno Ditemukan di Sleman

- Sabtu, 08 Agustus 2015 17:42 WIB

Warning: getimagesize(https://www.hariansib.com/cdn/uploads/images/2015/08/hariansib.com): Failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 404 Not Found in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 170

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 171

Warning: Trying to access array offset on false in /home/u956909844/domains/hariansib.com/public_html/amp/detail.php on line 172
Sleman (SIB)- Petugas Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) DIY menemukan prasasti di kompleks Candi Kedulan, Sleman, DI Yogyakarta. Prasasti tersebut kini sedang dipelajari epigraf dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Djoko Dwiyanto.Prasasti yang hingga saat ini masih dinamai Prasasti Kedulan ditemukan di tengah proses ekskavasi Candi Kedulan pada Rabu (29/7). Kompleks candi ini terletak di Dusun Kedulan, Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Kepala Seksi Perlindungan Pengembangan dan Pemanfaatan BPCB Yogyakarta Wahyu Astuti menceritakan saat ditemukan, prasasti tersebut dalam keadaan pecah menjadi dua bagian.Kedua bagiannya telah terpisah hanya berjarak beberapa centimeter di kedalaman 3 meter. Jika dalam kondisi utuh, prasasti tersebut berukuran 79x78 cm dengan tebal 15 cm. Huruf yang tertera adalah huruf Jawa Kuno."Sedang dibaca oleh epigraf Pak Djoko, kalau prasastinya disimpan di kantor BPCB," ujar Wahyu kepada wartawan di kantornya Jalan Solo KM 15, Yogyakarta.Dalam kesempatan tersebut, Djoko yang masih aktif mengajar di Jurusan Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya UGM ini menjelaskan, kemungkinan besar prasasti ini berkaitan dengan dua prasasti yang ditemukan sebelumnya di kompleks Candi Kedulan. Dua prasasti tersebut adalah Prasasti Sumundul dan Pananggaran."Kemungkinan (tahun pembuatannya) sama tahun 791 Saka atau 869 Masehi. Kalau isinya (Prasasti Sumundul) tentang dhawuhan bendungan, yang sekarang ini sepertinya lebih lengkap karena ada 25 baris," kata Djoko.Djoko sudah mulai bisa membaca sebagian dari tulisan yang tertera di prasasti tersebut. Kalimat salam di bagian awal, dan selanjutnya diperkirakan soal alasan penetapan sima (tanah perdikan) dalam rangka apa.Diperkirakan penetapan sima yang ditulis di prasasti ini untuk tempat suci. Beberapa informasi yang akan digali juga tentang dari siapa dan kepada sima penetapan sima itu dilakukan. Selain itu tentang siapa penulis atau citraleka dari prasasti tersebut."Jangan-jangan ada soal penetapan pajak, ketentuan-ketentuan pajak. Ini menarik," imbuhnya.Jika melihat tahun pembuatannya, prasasti ini dibuat pada masa kerajaan Mataram Kuno dengan raja yang berkuasa saat itu adalah Sri Maharaja Rakai Kayuwangi Sri Sajanot Sawatungga.Pria yang telah membaca prasasti sejak tahun 1982 ini memperkirakan proses pembacaan prasasti Kedulan akan memakan waktu satu pekan. Sebab tingkat kesulitannya yang cukup tinggi."Secara fisik hurufnya kecil dan banyak yang aus," kata Djoko.Djoko menjelaskan proses pembacaan dilakukan secara manual. Untuk lebih memperjelas tulisan yang terpahat di batu, dia hanya menyemprotkan air ke permukaan prasasti dan memotretnya."Ada beberapa huruf yang hilang karena patah. Tapi tidak masalah, kita bisa baca konteksnya," tuturnya.Prasasti itu akan dipamerkan di kantor BPCB Yogyakarta mulai hari ini hingga 8 Agustus 2015. Pameran yang bertajuk Heritage Expo 2015 ini dibuka gratis untuk umum dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-102 purbakala dan HUT Kemerdekaan ke-70 RI.Pengunjung akan diberi kesempatan untuk melihat langsung koleksi terbaru BPCB Yogyakarta termasuk Prasasti Kedulan. Selain itu terdapat tinggalan budaya bangsa yang kini telah menjadi warisan budaya dunia yaitu kompleks Candi Prambanan dan Rumah Traditional Jawa. (detikcom/f)


Tag:

Berita Terkait

Lembaran Budaya

Viral, Video Warga Taput Menangis karena Lahan Disita Paksa Pemerintah Demi Jalan By Pass

Lembaran Budaya

Forum Konsultasi Publik Mantapkan Layanan Publik CTM di Setdakab Deliserdang

Lembaran Budaya

Jaksa Agung Dorong Transformasi Penegakan Hukum Mekanisme DPA dan Instrumen Denda Damai

Lembaran Budaya

Pengurus MUI Tebingtinggi Periode 2025-2030 Dikukuhkan, Wali Kota Tekankan Sinergitas Ulama dan Umaro

Lembaran Budaya

Polres Tanjungbalai Rakor Lintas Sektoral Kesiapan Ops Ketupat Toba 2026

Lembaran Budaya

Polsek Kualuh Hilir Serahkan 2 WNA Asal Myanmar ke Imigrasi Tanjungbalai Asahan