Keris dengan corak dan ukuran sangat beragam tersebar di wilayah Nusantara dan negara-negara serumpun di Asia Tenggara. Proses ini mendorong pusaka tersebut menjadi simbol kebaharian.“Kalau ada keris di Filipina dan Moro, saya melihat itu sebagai hubungan yang saling memengaruhi. Saya yakin tidak akan ada peneliti yang sanggup mengungkap asal-usul keris karena keris itu bagian kebudayaan yang terus mengalir melalui laut,†kata Ketua Umum The Bugis Makassar Polobessi Club Ahmad Ubbe, dalam diskusi “Simbolisasi Keris Bahari dalam Keris Bugis†di Bentara Budaya Jakarta, Rabu (12/8).Hadir juga pembicara lain, pencinta keris sekaligus mantan wartawan Kompas, Jimmy S Harianto. Pembuat keris Bugis dari Sulawesi Selatan, Panre Amri SB, yang juga dijadwalkan berbicara, berhalangan hadir.Keris sebagai salah satu produk besi yang dibawa pelaut-pedagang dalam pelayarannya ke berbagai wilayah. Ahmad Ubbe menjelaskan, ketersediaan bijih besi di Sulawesi bagian tengah, Luwu, Banggai, dan Tobungku menjadi faktor berkembangnya pengetahuan dan teknologi peleburan bijih besi.Pengekspor besiSejak abad ke-14, wilayah di sekitar Danau Matano atau hulu Sungai Kalaena tidak hanya menjadi penghasil bijih besi laterit dengan kandungan besi sampai 50 persen. Tempat ini juga menjadi pelabuhan pengekspor besi dan peralatan besi ke Barat dan Timur.Ubbe, mengutip pernyataan Arung Mato (Raja Ketua) Wajo, La Maddukelleng, Sultan Pasir, Arung (Raja) Penekki dan Singkang, Petta Pamaradekaengngi Wajo, Tuan Kita Yang Memerdekakan Wajo (1736-1754), modal utama merantau hingga merajai beberapa kerajaan di Nusantara karena kemujuran dan doa, disertai ujung lidah yang lembut, kejantanan, dan ujung keris yang runcing dan tajam. (kps.com/d)