Selandia Baru (SIB)- Beberapa etnomusikolog dari Australia dan Selandia Baru dengan antusias menceritakan pengalaman pertama bertemu dan belajar gamelan. Puluhan tahun mereka bermain gamelan dan menggali keindahan musik tradisional Indonesia itu.Pada perayaan 20 tahun gamelan di University of Otago, Dunedin, Selandia Baru, 22-13 Agustus, mereka berkumpul membahas gamelan serta mempertunjukkan komposisi karya komposer Indonesia ataupun komposisi kontemporer.Gareth Farr (47) awalnya mempelajari komposisi musik dan perkusi di University of Auckland. Setelah mendengarkan orkestra gamelan, dia pindah ke Wellington, mulai belajar gamelan, dan menyelesaikan kuliahnya di Victoria Wellington University. Sejak membeli satu set perangkat gamelan Bali pada 2003, Farr membentuk kelompok gamelan Taniwha Jaya yang berdedikasi pada gaya bali.Farr, yang kini pengajar etnomusikologi di New Zealand School of Music Wellington, juga aktif membuat komposisi gamelan. Dia pernah terlibat dalam pengerjaan musik film The Hobbit, terutama dalam pemanfaatan suara gamelan. Minggu (23/8), Farr menampilkan komposisi “Improvisasi Otago†yang didedikasikan untuk almarhum Jack Body, etnomusikolog dari Victoria University of Wellington, yang mengembangkan gamelan di Selandia Baru.Pertemuan Miranda Adams (51) dengan gamelan pada tahun pertama dia berkuliah musik di Victoria Wellington University, tahun 1983. Miranda bertemu seorang asal Wonogiri yang bekerja di Kedutaan Besar RI di Wellington dan belajar bermain beragam alat musik tradisional.Tahun berikutnya, dia berkesempatan belajar gamelan di Sasono Mulyo, Kasultanan Surakarta dan di Akademi Seni Tari Indonesia (kini Institut Seni Indonesia) Solo, berkat beasiswa Darmasiswa dari Pemerintah Indonesia. Miranda pun mendirikan grup gamelan Nelson ketika tinggal di kota Nelson, Selandia Baru, pada 1989.BERGETARMenurut Miranda, suara gamelan yang bergetar rendah menghanyutkan dan menenangkan. Memanfaatkan efek itu, dia pernah melakukan terapi musik untuk pasien dengan kelumpuhan parah di Nelson Hospital awal 1990-an.Kendati tak membuat pasien lumpuh bisa bergerak dan berjalan seperti sediakala, ada respons positif dari pasien. “Ada pergerakan mata, respons pada tangan, dan pasien terlihat lebih hidup,†ujarnya. Setelah pindah ke kota Auckland, selain menjadi musisi di Auckland Philharmonic Orchestra, dia juga mencoba membentuk kembali kelompok gamelan.Pengajar etnomusikologi New Zealand School of Music, Megan Collins (43), juga aktif bermain gamelan di kelompok Taniwha Jaya dan Padhang Moncar. Dia termasuk orang yang menyaksikan pengiriman satu set gamelan dari Wellington ke University of Otago, di Dunedin, wilayah hampir paling selatan dari Selandia Baru, dua puluh tahun lalu. Saat itu, dia murid almarhum Jack Body dan almarhum Allan Thomas, dua etnomusikolog pengajar pada Victoria University of Wellington, yang mengembangkan gamelan sejak 1970-an di ibu kota Selandia Baru. “Bermain gamelan mengubah hidup saya,†ujar Collins.Para etnomusikolog terus bereksperimen menciptakan komposisi musik untuk gamelan. Ketika orang asing terpesona dan mengembangkan musik tradisi Indonesia, tentu kita berharap hal serupa lebih banyak lagi terjadi di Tanah Air. (Kps.com/d)