Medan (SIB)- Pra pementasan atau road show tu europa, Opera Batak "Borua Na Di Duru Ni Tao/Perempuan Di Pinggir Danau" yang akan dipentaskan di beberapa Kota di Jerman 17 September sampai 6 Oktober 2015 mendatang berhasil memukau pengunjung dan mendapat sanjungan masyarakat ketika digelar di Gedung Auditorium Unimed, Rabu (2/9).Pementasan tersebut dihadiri para tokoh masyarakat, pemerhati budaya Rektor Unimed Syahwal Gultom, Dr Phil Ichwan Azhari, Devi Panjaitan mewakili Menpolhukam Luhut Binsar Panjaitan dan seribuan pengunjung serta disukseskan oleh Matheus Swarsono sanggar seni Bale Marojahan, Samosir dancer (Lima Sadalanan) dan lainnya.Opera yang naskahnya ditulis oleh Lena Mertes Simanjuntak dan disutradarai Thompson HS, Direktur Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) Siantar tersebut merekam persoalan Danau Toba melalui tema air, perempuan dan lingkungan hidup nantinya diharapkan dapat meningkatkan hubungan Indonesia dengan Jerman, sekaligus mewujudkan visi Opera Batak yang dibayangkan dapat tampil di panggung Asia dan Eropa.Thompson menyebutkan PLOt Siantar yang didirikannya bersama Sastrawan 45 yakni Sitor Situmorang dan Barbara Brower serta Lena Simanjuntak diundang kembali untuk tampil di satu museum etnologi terbesar di Jerman bernama Rautenstrauch dan Joest Museu setelah pada tahun 2013 tampil di Kota Koelen Jerman.Menurut Thompson HS Melalui surat resmi Duta Besar Indonesia untuk Jerman yakni DR Ing Fauzi Bowo, dialog interkultural melalui pertunjukan Opera Batak diharapkan dapat meningkatkan hubungan Indonesia dan Jerman lebih baik dari sebelumnya. Disebutkannya, hubungan Jerman dengan Batak dalam kaitan kebudayaan kelihatan seperti kurang diperhatikan sehingga inilah salah satu misi diplomasi dari Opera Batak.Kepada SIB Thompson mengaku, Ahrweiler kota yang dikenal karena perkebunan anggurnya nantinya akan menjadi tempat pertama untuk Tim Opera Batak PLOt tampil selama tiga hari dalam suatu festival sebelum Frankurt Book Fair 2015. Adapun nantinya yang akan ditampilkan di Kota Koelen yakni “Perempuan Di Pinggir Danau atau Borua Na di Duru Ni Tao†kemudian diikuti Malam Kultural, dan memberikan workshop di satu gereja tua Katolik, berikutnya Workshop akan berlanjut ke lingkungan anak-anak sekolah di kota Siegen.Thompson HS menceritakan, Opera Batak muncul pada tahun 1920-an dengan salah satu pionirnya bernama Tilhang Gultom. Kemudian seni pertunjukannya diperhatikan oleh penulis Jerman dan terekam melalui dua jilid buku yang ditulis oleh Prof Rainer Carle melalui hasil penelitian beberapa tahun di Indonesia yangberjudul OPERA BATAK Das Wandertheater der Toba-Batak In Nord Sumatra (Dietrich Reimer Verlag – Berlin – Hamburg, 1990). Namun sayang, buku tersebut belum sempat diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia sampai penulisnya meninggal dunia di Menado pada bulan Februari 2015 lalu. Buku tersebut menjadi salah satu rujukan ketika Opera Batak digali kembali pada tahun 2002.Ia menjelaskan, penggalian Opera Batak berlanjut dengan kehadiran Pusat Latihan Opera Batak (PLOt) di Pematangsiantar. Penggalian Opera Batak itu saat ini dianggap sudah berhasil dengan ukuran sudah kembali dikenal publik dengan munculnya kelompok-kelompok dan industri yang mereproduksi materi-materi Opera Batak, serta visi Opera Batak yang diwujudkan oleh PLOt. Dalam rangka 10 tahun PLOt, pertunjukan kembali ke Jerman pada tahun 2015 ini menjadi agenda penting di jaringan seni pertunjukan di Eropa, khususnya Jerman. (DIK-AB/f)