Jakarta (SIB)- Berdasarkan riset dan penelusuran yang dilakukan DR. Bisuk Siahaan, diketahui sangat banyak benda-benda budaya Batak yang sudah punah. Jejak-jejak benda budaya Batak itu bahkan tak lagi dapat ditemukan ditempat asalnya, tetapi harus ditelusuri jauh hingga ke Eropa dan Amerika.Hasil riset dan penelusuran Bisuk selama bertahun-tahun itu kemudian dituangkan dalam buku "Warisan Leluhur Yang Terancam Punah" yang diluncurkan di Jakarta, Sabtu (29/8). Peluncuran buku disambut antusias oleh tokoh-tokoh Batak yang hadir seperti mantan Menaker DR. Cosmas Batubara, mantan Kalakhar BNN Komjen Pol. Purn. Togar Sianipar, BAS Tobing, Mayjen Purn. Haposan Silalahi, Ephorus Emeritus SAE Nababan, Akademisi Rizaldi Siagian dan motivator Jansen Sinamo. Acara peluncuran buku dibuka oleh Menteri Hukum dan HAM DR. Yasona Laoly.Kepunahan benda-benda budaya Batak bersejarah ini menurut Bisuk Siahaan paling banyak dialami wilayah Tapanuli Selatan dan Tapanuli Utara (Humbahas, Samosir dan Tobasa). Di Tapanuli Selatan diawali dengan kehadiran balatentara Padri (1920) yang menyerbu wilayah ini dan melarang penduduk untuk menggunakan dan menyimpan benda-benda berbau mistis yang dipakai sarana menyembah berhala/roh alam. Kepada masyarakat dikatakan bahwa roh dan berhala tidak dapat menolong manusia dan bertentangan dengan agama."Sejak penyerbuan Padri ke Tapsel, lenyaplah benda-benda berhala di sana. Bahkan rumah adat asli Tapsel pun ikut punah dan tidak dapat lagi ditemukan saat ini," ujar Bisuk.Sementara di Tapanuli Utara, kehadiran misi zending Jerman bernama Reinische Mission Gesellscaft (RMG) tahun 1860 sangat berpengaruh terhadap kepunahan benda benda budaya Batak. Penyebaran agama Kristen oleh missionaris melarang masyarakat menggunakan dan menyimpan benda benda mistis untuk menyembah berhala.Meski tidak menyebut jumlah pasti, dari penelusuran di beberapa museum di Amerika dan Eropa diketahui sangat banyak benda-benda budaya Batak yang sudah punah dan hanya dapat ditemukan di museum di luar negeri. Di antaranya adalah Patung Gajah Dompak dan Ulupaung, gorga, tagan (tempat menyimpan sirih), rumbu (tempat menyimpan beras), kendi (tempat menyimpan air), sapa (piring), losung, panutuan (cobek) dan hudon tano (periuk)."Setidaknya dengan buku ini generasi muda mengetahui bahwa Batak kaya dengan benda budaya," ujar Bisuk.Sementara itu Menteri Hukum dan HAM DR. Yasona Hamonangan Laoli dalam sambutannya mengingatkan agar peluncuran buku ini jangan hanya seremonial belaka, tetapi juga mampu mengumpulkan tokoh-tokoh dan pemikir Batak untuk berkontribusi merumuskan solusi agar generasi Batak kedepan tidak lepas dari akar budayanya. Generasi Batak masa depan harus mengetahui bahwa budaya batak adalah budaya tinggi yang tidak hanya memiliki bahasa tapi juga tulisan batak."Tujuan pelestarian ini adalah menyeimbangkan antara budaya dan bendanya, sehingga bernilai tinggi. Untuk itu saya sarankan Pemda di Tapanuli berkoordinasi membangun museum Batak untuk mencegah punahnya budaya leluhur Batak,"ujar Yasona.Sementara itu Rizaldi Siagian, pengamat budaya Batak mengatakan rendahnya kesadaran masyarakat Batak akan benda-benda budaya memberi andil besar terhadap kepunahan warisan leluhur ini. "Umumya orang Batak tidak konsisten mengapresiasi budaya dan benda benda bersejarah,"ujarnya.Disisi lain motivator Jansen Sinamo menyarankan agar difikirkan pembuatan reflikasi benda benda budaya yang bernilai sejarah tinggi yang sekarang hanya ada di beberapa museum di Eropa dan Amerika. Reflikasi ini diharapkan mampu menginspirasi para generasi muda untuk melestarikannya kembali.Sementara itu mantan Kalakhar BNN Komjen Pol Purn Togar Sianipar mengatakan kerisauan tentang kepunahan budaya bukan hanya dialami oleh suku Batak, tetapi juga melanda hampir semua suku bangsa di Indonesia. Untuk itu yang terpenting perlu ada tindakan praktis dan pragmatis seperti menggunakan atribut Batak dalam kehidupan sehari hari. Seperti penggunaan busana bercorak Batak dan penerapan budaya Batak dalam kurikulum di daerah sekitar.Selain itu HKBP sebagai gereja Batak juga diharapkan memberi kontribusi dengan mengembangkan ornamen dan ciri khas Batak dalam setiap bangunan gereja."Perlu langkah praktis dan pragmatis untuk mencegah kepunahan benda dan budaya Batak," jelas Togae. (BR7/c)